Skip to main content

Penonton Hujan

 Sore tadi saya sempat mendapati hujan angin dari rumah. Angin yang datangnya dari arah Timur (or so), yang membawa air hujan mengguyur sampai ke teras. Biasanya hujan turun secara vertikal, tapi sore tadi dia turun secara diagonal melalui area terbuka teras saya yang tidak dihalangi kanopi. Semisal dia datang dari arah Barat, teras saya pasti tidak akan basah kuyup.


Setiap kali hujan, saya memang selalu menyempatkan diri duduk di teras. Sekedar menatap langit abu-abu, atau rumput yang tergenang, atau percik air di tembok replika konstantinopel saya. Sore ini, demi melihat air hujan yang mengguyur sampai ke teras, kursi dan lantai teras basah kuyup, tanpa berpikir panjang saya langsung mengambil jas hujan dan memakainya untuk duduk di kursi depan.


Angin dingin berhembus kencang, bahkan batu taman pun sampai terbang terbawa ke teras. Saya sempat beberapa kali diguyur limpasan air hujan, yang saya syukuri dengan nikmat. Bukan apa-apa, ini untuk sekedar mengingatkan saya, bahwa dulu.. di kehidupan yang sebelumnya dulu sekali, pernah ada masa di mana saya harus bergumul dengan hujan seperti ini nyaris setiap akhir pekan. Dinginnya masih sama, dan menyapa dingin sore tadi ketimbang menghangatkan diri di kamar sambil menyeruput teh tarik panas, membuat saya kembali teringat apa yang saya damba di saat itu.


Dulu, hujan seperti ini mengguyur saya di tengah belantara. Susah payah melangkahkan kaki meneruskan perjalanan walau tubuh sudah menggigil gemetaran. Berhenti bukan pilihan, karena berdiam diri di ketinggian seperti itu dengan angin kencang justru jauh lebih berbahaya ketimbang terus berjalan. Pertama, seseorang yang kedinginan dan tidak bergerak, tubuhnya akan berhenti memproduksi kalor dan membuatnya rentan terserang hipotermia. Kedua, angin sekencang itu di tengah belantara hutan yang penuh dengan pepohonan ragam usia, tidak menutup kemungkinan satu di antaranya memutuskan rebah dan menimpa apa saja yang ada di bawahnya. Jadi di bawah deras hujan seperti itu, selalu kami paksakan melangkah walau beratnya bukan main. Yang berat sebetulnya melawan angan dalam pikiran. Mengingat betapa nikmat secangkir coklat panas, dari balik selimut sambil menonton film bajakan dari laptop. Mengingat betapa hangat dan nikmat kasur di kamar kos. Lantas biasanya, kalau sudah begitu saya akan berangan. Jika nanti tiba saatnya saya berhenti melakukan hal ini, berdiam diri di rumah setiap kali hujan badai menerjang, saya akan menyeduh minuman-minuman panas, membuat cemilan-cemilan manis, dan bersantai dengan tenang.


Rupanya, apa-apa yang selalu diidamkan itu ketika menjadi kenyataan seringkali justru terlupa. Ketika sudah punya rumah, sudah punya alat masak dan cadangan makanan berlimpah, saat hujan turun dengan derasnya, lupa bahwa inilah angan yang pernah didamba. Kenapa? Karena sibuk berangan hal lain yang lebih tinggi lagi. Yang lebih kompleks lagi.


Makanya sore tadi saya berdiam sejenak. Menikmati terpaan air hujan, tapi saya aman terlindung di balik jaket jas hujan, walau celana yang agak gak aman tapi toh begitu masuk ke rumah bisa langsung ganti semua pakaian. Saya baru masuk ke dalam ketika guntur ketiga menggelegar demikian kerasnya disambut dengan cahaya kilat yang benar-benar menyilaukan mata. Persis seperti kilat yang dipakai Thor untuk membunuh Hela walau agak gak mempan.


Blog ini betul-betul harus ganti nama. Sudah bukan minimalism lagi yang saya bagi di sini tapi dear diary kinda thing..


Intinya yang ingin saya bagi adalah, angan apapun yang sekarang sedang ada di kepala, suatu saat nanti pasti terwujud. Sayangnya, saat itu terwujud, barangkali kita sudah lupa seberapa besar keinginan kita saat kenyataan itu masih dalam damba. Ada baiknya sesekali mengunjungi kembali suasana atau situasi tempat dulu kita masih belum memiliki apa yang kita miliki sekarang. Hitung-hitung evaluasi, sudah sejauh ini melangkah, bekal untuk nanti di bawah tanah sudah seberapa banyak.


***

Bogor, 26 September 2020

Aku suka hujan.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …