Skip to main content

My Mudik Story

 Lol.

Judulnya jadi basic banget gitu.. 'My Mudik Story'. Ya karena saya mau menyimpan cerita mudik kali ini, dengan segenap hati.

***

Bermula dari scrolling foto dan video pas Idul Adha.. dilanjut dengan keinginan untuk membeli-belikan hadiah untuk keluarga. Untuk Tante Hany, Tante Ulan, Nenek dan Eyang. Tante Hany dan Tante Ulan (yg kupanggil Euteu) agak gak susah karena mereka masih muda, masih punya banyak keinginan. Sementara untuk Nenek dan Eyang.. berhari-hari ku mikir apa yang bisa ku belikan buat mereka. Eyang lagi suka minum Hydro Coco, waktu Idul Adha stocknya banyak banget. Tapi pas kemarin saya tanya, ternyata sekarang udah ganti jadi Pocari Sweat. Rencananya pingin belikan sekardus Pocari Sweat sebagai bentuk perhatian seorang cucu pada Eyangnya. Tapi, masa Eyang dibelikan, Nenek gak dibelikan. Masalahnya, Nenek udah gak pingin apa-apa lagi.. lalu saya teringat kata Tante Hanny jelang Idul Adha lalu


"Kak si Nenek teh geus kolot, hoyongna ngarumpul..' atau kurang lebih seperti itu kalimatnya.

Lantas saya berpikir.. kenapa tidak ke sana saja seharian, lalu langsung pulang. Toh kemarin sudah saya buktikan sendiri efektifitas Tol Cakalang (Cikampek Layang - please jangan protes, karna itu adalah nama yang pertama terbaca waktu saya lewat jalan itu pertama kali) yang bisa membuat waktu tempuh ke rumah eyang jadi cuma 2 jam 25 menit (dengan kondisi jalur Pantura lancar sentosa).

Tanpa pikir panjang, saya pesan mobil sewaan langganan, tidak lupa minta diantar ke rumah dan minta titip belikan bensin supaya paginya saya bisa langsung berangkat tanpa mampir-mampir.


Bangun tidur, dengan masih paka piyama, saya solat subuh, brew coffee, bikin roti french toast soak yang dimaksudkan tuk seperti Umm Ali, makan sambil lanjutin nonton Captain America Civil War yang baru setengah jalan, dan 20 menit kemudian tutup semua laptop, pintu dan lampu, berangkat. Berangkat tutup pagar rumah jam 6.45 sampai di pagar rumah Nenek jam 9.10.


"Lancar, Eyang jalannya.. aku kecepatan standar aja ga ngebut" kata saya jujur, karna mobil sewaan ini saya agak hapal kalau sudah di atas 120 getarannya dahsyat.

"Iya, jangan ngebut-ngebut.. kecepatan tuh 80 aja maksimal.."

Saya senyum meringis.. 


dua jam istirahat, saya sudah turun ke jalan lagi. Bawa Nenek, Eyang, Euteu dan dua anaknya yang masih kecil jalan-jalan di mobil. Beli bakso, mie ayam, dimsum, ramen, es milo, semua dibungkus dan mereka sama sekali tidak turun dari mobil. Saya yang turun berkeliaran, dengan masker earloop masuk di dalam jilbab (alias permanen dan gak dibuka sama sekali walaupun di mobil).


Pulangnya mereka senang karena memang ternyata hanya itu yang mereka inginkan. Duduk bercerita, mengenang masa muda, Eyang cerita tentang pekerjaannya dulu di Leuwiliang di pabrik beras, sebelum pindah ke pabrik saprotan di Cianjur, dengan levelnya yang sudah terbilang bagus. Nenek cerita sepupuku yang masih umur lima tahun (ya, di keluarga sini anak seumur gitu manggil saya 'kakak' tapi di keluarga sebelah seumur gitu manggil saya 'tante') bercita-cita pingin jadi dokter sariawan, karena bundanya pernah sakit karena sariawan.

Teu Ulan dan saya bercerita sepanjang jalan, tentang banyak hal.. tentang guru di sekolah, tentang Kaka Mifzal yg susah belajar, tentang Jumat yang adalah hari untuk berdoa, dan tentang hotel-hotel baru yang bermunculan di Pamanukan.


Intinya, perjalanan pulang kali ini, yang berakhir di pukul delapan malam setiba di rumah, saya jadi paham betapa waktu yang kita punya itu selalu sama, tapi penggunaannya bisa sangat berbeda signifikan. Hanya soal kemana pikiran ini di arahkan, dan jadilah dua output yang berbeda. Dua jam, bisa saya pakai untuk menghabiskan video-video di youtube, atau berkendara menembus jalan layang dan membuat bahagia Nenek dan Eyang.


Pagi ini saya terbangun dengan migren yang sedikit menghinggap, sesuatu yang biasa terjadi kalau nyetir kelamaan. Baru beranjak dari kasur setelah mang sayur lewat, beli seikat bayam, brokoli, ubi dan tempe. Berniat untuk mengolah makan siang sendiri walau mungkin kenyataannya nanti tetap beli makanan yang di delivery.


Saya juga mau berterima kasih pada V -Funko Pop V for Vendetta- yang sudah menemani perjalanan kali ini, walau sempat dia kepanasan ditinggal di dalam mobil dan nyaris meleleh bikin saya panik setengah mati. Melewati jalan tol panjang, buru-buru pulang sebelum pukul empat sore, menyentuh aspal Pantura lewat sedikit dari pukul empat dan meeting virtual di sepanjang jalur Pantura hingga Gerbang Tol Cikampek Utama. 


Saya selalu suka nyetir jarak jauh, walau besoknya saya pasti sakit dan lelah bukan main.

Saya suka menyentuh jalan Tol Cakalang saat matahari terbenam, karena matahari akan ada di sebelah kanan saya, bulat sempurna dan kemerahan. Melangitkan doa dalam kecepatan 100 km/jam sambil berhadapan dengan warna langitnya yang jingga merona. Ini salah satu momen pulang, yang mungkin suatu hari nanti akan saya tempuh dengan perasaan sangat bahagia dan sangat sedih. Waktu itu pasti akan datang.. saya hanya harus bersiap. Jika nanti saatnya tiba mereka berpulang, saya tidak mau menyesal karena telah menjadi cucu yang ignorant. 


***

Bogor, 19 September 2020

I have so many things in mind to write, tapi tadi di tengah-tengah kesela dengan ajakan nongkrong virtual mendadak yang tidak mungkin saya lewatkan karna sama taman-taman dari Gorontalo dan bisa ba logat Gorontalo. 

As it turns out, kita sebetulnya bisa membagi cinta dengan tanpa mengurangi porsi masing-masing. Hati manusia itu sedemikian luas, dia bisa mencintai banyak hal sekaligus dengan sama besarnya. Terbukti di saya, yang bisa mencintai Rengginang dan Ilabulo dengan kadar cinta yang sama tanpa berat sebelah.

Pulang jadi beragam, ketika pendahulu kita punya banyak asal. Malam tadi, setiba di rumah, saya sempatkan duduk di teras sebentar. Lalu tiba-tiba papa menelpon, dan bertanya "sekarang di mana?" saya jawab "di rumah". Bahkan, papa saya pun harus bertanya lagi "Rumah mana?"


V dengan warna langit yang sebetulnya bagus


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …