Skip to main content

Minggu Berhenti Menunggu

 Di dalam setiap doa, saya selalu mencoba membiasakan diri untuk "berbicara" dengan Tuhan saya. Karena hakikatnya doa itu bukan cuma sebagai sarana meminta, tetapi juga untuk mengadu. Doa bukan seperti customer service yang kalau kita hubungi hanya untuk menyampaikan apa yang kita mau.


Belakangan, saya mencoba bertanya tentang satu hal, yang seringkali saya jawab sendiri juga dalam satu monolog yang saya sebut dengan doa. "Ya Allah, please tell me what I have to do so differently that will help me change my life?" Bukan karena saya ingin merubah nasib atau apa.. hanya rasanya - sepertinya - ada sesuatu hal lain yang lebih besar yang harusnya saya lakukan dan untuk saat ini terasa seperti sedang stuck. 


Kamu pernah tidak merasa seperti doa mu terjawab? Biasanya dengan cara apa? Pikiran yang tiba-tiba melintas? Obrolan acak yang datang tanpa direncanakan dan membahas apa yang kamu pinta? Ya.. saya juga. Bahkan kadang saya ge-er kalau habis berdoa, buka youtube, dan video youtube paling atas di feed timeline berisikan ceramah atau lecture tentang apa yang baru saja saya panjatkan sebagai doa.


Untuk bagian pertanyaan tadi, saya belum tahu apakah ini jawaban atau bukan, tapi hati saya jadi cenderung untuk semakin menikmati waktu-waktu sendiri ini. Sudah lama saya ingin menonton ulang semua film Marvel in chronological order demi mendapat gambaran besar dari cara mereka membangun cerita, tapi selalu saya tunda karena saya pikir 'ah nanti aja, seru kali ya kalau nontonnya berdua suami' padahal sampai sekarang belum jelas dia siapa. Bahkan bisa jadi bukan penggemar Marvel. Untuk apa saya tunggu nanti supaya bahagia, saya bisa lakukan itu sekarang, dan saya benar-benar menikmati setiap filmnya.


Berbekal prinsip tadi, saya menjadikan hari ini amat produktif. Pagi-pagi saya membetulkan keran taman sendiri, berkat pengalaman membetulkan keran mesin cuci, kali ini saya tidak bodoh lagi membiarkan keran PAM tetap terbuka selagi mengganti keran. Saya tutup keran PAM, saya ganti keran taman, dan saya buka kembali. Tidak ada adegan drama air mancur seperti dulu lagi. Ya, silakan tertawa. Hal se-basic itu saja saya harus belajar dari pengalaman. Lalu lanjut membuat cemilan manis yang saya namakan Bobi Thanos. Bobi karena berbentuk bola dan terbuat dari ubi, Thanos karena big fat purple. Segera setelah semua perlengkapan masak tercuci bersih, saya kembali mengotorinya dengan membuat ayam goreng mentega klasik resep Wilgoz Kitchen dari youtube yang sudah tidak saya percaya lagi (Mama Adeeva tak terganti rupanya). Lanjut makan siang, dan menuntaskan Marvel Trivia saya pada pukul empat sore.


So if this is what I have to do so differently in order to change my life, then yeah I'm totally into it. Ternyata menikmati hidup itu tidak susah. Cukup dengan berhenti menunggu, itu saja.


***

Bogor, 27 September 2020

Hujan hari ini lebih awet dari kemarin, tetangga pada mengeluh banjir sampai ke dalam rumahnya, sedangkan di rumah saya air hanya menggenangi taman dan langsung surut tidak lama setelah volume air hujan mengecil. Don't block the waterways and then complain why they get into your house, sih.. Kebanyakan memang orang sini suka melapisi tamannya dengan semen sampai tidak ada lagi tanah tersisa.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal