Skip to main content

When the Sun goes down,

At the end of the day, kita sudah lelah berteka-teki. Sudah berhenti bermain kode, apalagi bermain peran. Yang kita inginkan hanya kejelasan, lugas menyampaikan niat karena itu adalah tanda betapa dia siap dengan segala resiko dan kemungkinan yang ada.

Dari buku ini, saya belajar bahwa kita tidak butuh closure. Closure bisa dibuat dari dalam diri sendiri. Yang sudah saya praktekkan, beberapa bulan yang lalu namun baru berhasil sebulan belakangan.

Memang sulit melepaskan sesuatu yang kita yakini benar, tapi lebih sulit lagi untuk hidup di dalam ketidakpastian. Menunggu sesuatu yang kita sendiri tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya, selain dengan melepaskan.

Di awal Januari saya kabur ke pulau kecil terluar di Selatan Indonesia. Membawa pulang setangkup cerita dan sedikit gagal mengusir rasa. Saya tidak menyerah, walau tiga bulan kemudian sehabis minggu-minggu penuh ketegangan, dunia dihempas perubahan global oleh adanya pandemi. Sebulan yang lalu saya kembali kabur ke pantai. Menyetir mobil selama sembilan jam bolak balik melalui jalur tercuram yang pernah saya lewati dengan berkendara sendirian. Namun kali ini, usaha tersebut berbuah hasil.

Hanya dalam hitungan hari, saya berhasil menyingkirkan perasaan yg paling mengganggu itu. Dalam hitungan minggu, saya tidak lagi membuka-buka lembar tersebut. Kini sebulan sudah lewat, dan saya membaca sebuah buku. Buku yang menaruh tahapan persis dengan apa yang saya lewati.

Tentu bukan kebetulan, karena Tuhan terlalu detil untuk sebuah kebetulan.

Tapi kita sudah terlanjur letih pada duga.
Lugas saja sampaikan maksud anda, jika baik dan kita memiliki visi yang sama, mungkin bisa kita coba.

***
Bogor,
Dan selalu Bogor

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …