Skip to main content

What Eat, Pray, Love, used to be for me..



5 years ago, this story was just another traveling story for me. One that I had in mind when I went backpacking, thinking I'm that woman who travel and write. As it turned out, I never go that far, and I only have shitty writings. So, yep I am no Liz Gilbert.

But then what I just realize is that I never understand the story until I am 28 and have gone through some heartbreaks.  Not until lately I just re-discover my self (mungkin baru sebulanan), loving her, and starting a new life with her. Yang membuat halaman demi halaman dari buku ini jadi sangat relatable, sangat masuk akal, dan seolah-olah malah sedang menceritakan pengalaman spiritual saya (haha egosentris sekali). Tapi justru saya maknai dengan well I'm not alone, ada perempuan lain di luar sana, terpisah jarak dan usia, juga melalui hal yang sama, dan barangkali dia berakhir bahagia, atau setidaknya dia dapat pelajaran ini dan dituliskan buku yang booming sekali. Pastilah itu bahagia. 

Dua minggu persiapan training, seminggu pelaksanaan training, bikin saya pause tiga minggu dari baca buku. Sekarang baru bisa mulai lagi, dan besok cuti hanya supaya bisa selesaikan ini. Tapi sekarang sy harus berhenti dulu. Gelombang informasi yang halaman-halaman ini hempas ke dalam otak saya butuh dicerna. Mungkin sambil plank, atau sit up, atau push up, karena yoga is definitely not for me.

Saya tu setiap kali dapat buku atau film yang kena di hati, pas dalam pemikiran, dan se-frekuensi, rasanya seperti menemukan teman tak kasat mata dan tiba-tiba tidak merasa sendiri lagi. No you're not weird for feeling too deep. Maybe you're weird where you're at, but you're not weird in the universe. There are other people who have gone through those phases, and they are all survived, and they are all great people.

Mungkin itulah kenapa saya lebih suka menyendiri, karna kalau yg begini-begini sy ceritakan ke orang di sekitar, belum tentu mereka dapat feelingnya. Yang ada malah sy jadi merasa weirdo dan makin terasing. Lebih baik menyendiri beneran, dan menunggu. One day that door will open. Someone somewhere, is looking for exactly the things that you have to offer. 

***
2 Agustus 2020
15.01

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …