Skip to main content

The Quest and The Surrender

All my life, I've been taught to be selfless. To be a devoted child, to not just thinking about my self. Which then led me to a struggle just to love my self. I was the kind of girl who would sacrifice my college exam just to join a fundraiser team for flood victims. I was willing to spend the sleepless nights just so our expedition journey could go well and had success. 

Today, after a series of events, I need to re-adjust my self before going back to my usual life; work. Setelah training berakhir, ada Idul Adha yang mengharuskan jalan jauh, saya rasa butuh waktu untuk membenahi hidup sebelum mulai lagi dengan hal-hal baru yang akan saya buat ke depan. Untuk itu saya ambil cuti hari ini, yang mostly digunakan untuk nonton film dan nyetrika. 

In order to live well, one should eat well. Saya juga mulai memperbaiki isi piring saya yang mulai kacau belakangan ini terutama sejak persiapan pelatihan. Tidak lagi bikin juice serasa sudah bertahun-tahun dan kemarin baru bisa melipir ke supermarket lagi tapi cuma ada buah belimbing yang menggoda untuk dibawa pulang. Jadi hari ini setelah kopi dan pie for breakfast, saya cuma kukus tahu dan dimsum for lunch yang dimakan dengan belimbing sebelumnya. Still thinking what's for dinner.

I also watched Eat Pray Love today, setelah menamatkan bukunya semalam, nonton filmnya jadi lebih masuk akal. Saya ingat lima atau enam tahun lalu nonton film ini dan gak dapat sama sekali filmnya. Pantas saja banyak yang kasih bad reviews. Pun buku nya juga banyak yang kasih bad reviews. Jadi saya belajar bahwa bad reviews itu bukan berarti karya kamu jelek, mereka hanya bukan audience mu saja. Buku ini berbicara pada orang-orang yang pernah gagal, merangkak mencari Tuhan, memenuhi kamar mandi dengan derai-derai tangis, dan berusaha mencintai diri sendiri. Bukunya juga sangat deskriptif, untuk seseorang yang mengalami pengalaman seperti itu, rasanya seperti terwakili.

***
Saya mungkin lebih beruntung dari Liz Gilbert, because in order to do the quest, none gets hurt in my story. Saya tidak perlu menceraikan seseorang dengan begitu tega seperti Liz menceraikan Stephen yang jelas-jelas sangat mencintainya. Saya ditolong oleh Allah dalam mengambil keputusan saat akan berpisah, dan pasangan saya juga menyambutnya dengan suka cita. Dia pun tidak menemukan kesulitan dalam mencari pengganti saya, so none gets hurt. Mungkin juga quest semacam itu tidak untuk semua orang. Tidak semua orang butuh pencarian supaya bisa mencintai dirinya sendiri, tidak semua orang terlahir dengan background yang menuntutnya untuk mencintai orang lain terlebih dahulu. Jadi yaa.. orang seperti saya dan Liz Gilbert saja yang butuh begini-beginian. The Quest and The Surrender, I should say.

Mungkin (lagi) hanya dengan begitu orang-orang seperti kita ini bisa menjadi satu dengan pasangan, tapi tidak hilang dan terserap menjadi pasangan. Kita tetap menjadi diri kita sendiri, tanpa mengurangi segala kewajiban kita untuk pasangan. 

Saya masih betul-betul belum bisa move on dari cerita Eat, Pray, Love ini. Bukan hanya jodoh, menemukan film atau buku di waktu yang tepat pun adalah berkah. 

Di bagian mendekati akhir film, ada adegan di mana Felipe dan Liz duduk berseberangan, membaca buku dalam hening sebelum Felipe memutar lagu jazzy yang cozy. Saya bisa rasakan betul rasanya jadi Liz, seorang penulis, bisa menemukan a man who read. I mean.. I never date a guy who read before.. not that I recall... (there was one but.. umm)... so I kinda hope that this next one would read. So when we're old and grey, and there's nothing more to talk about, and we both hate each other but too tired to start another new life, we both could sit there together in silence, drowned in our own world, alone together. Yep. Maybe that's the kind of life I wanna have for my old age.

***
But be careful with what you wished for. Sometimes it happened exactly as it is.

***
Monday, 3 Aug 2020, magrib. Here comes another new day! cheers.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …