Skip to main content

The Divorcee(s)

“The hardest part of your life is behind you now, Wayan.”

Excerpt From: Elizabeth Gilbert. “Eat, pray, love: one woman's search for everything across Italy, India and Indonesia.” Apple Books. 

***

I really can't help but write again. God, I wrote too much today.
I am at the chapter of when Liz met a Balinese woman who had been through a divorce where divorce is forbidden in Bali. 

'Divorce is so sad' she said to Liz. 

And that's when my mind started to wander to two stories my friends told lately. One about adultery, and the others about a husband who asked for permission to have a second wife. And both occurred to my friends. MY FRIENDS!

***
You see, the possibility of a divorce is on all of us, as for the main reason of divorce is marriage, jadi tidak ada pasangan menikah yang bisa menjamin bahwa mereka tidak akan bercerai. Kemungkinan itu ada, dan itu sangat menakutkan. Mungkin itu adalah hal terakhir yang bisa seseorang bayangkan ketika dia memutuskan untuk menikah. Hey siapa juga yang mau berikrar akad sembari dalam pikirannya bahwa mereka akan bercerai suatu saat.

Tapi mungkin itulah kelemahan saya. Terlalu lama dikelilingi oleh orang-orang yang sudah jauh berpengalaman, dengan cerita hidup bermacam-macam dan semuanya mereka ceritakan pada saya, dari yang bercerita tentang bad marriage sampai saya pun harus ambil andil dalam pengambilan keputusannya untuk bercerai dan merasa bersalah hingga kini, sampai yang suaminya punya istri kedua tanpa dia ketahui hingga bertahun kemudian. Semua itu diceritakan dengan derai tangis yang tentu saja membuat saya menangis. Walau begitu, saya pikir itu semua terlalu jauh untuk saya alami, hingga suatu hari dalam minggu-minggu kemarin, dua orang teman datang dengan dua cerita yang kurang lebih sama.

Ini tentu mempertebal dinding saya, membuat saya jadi lebih ekstra hati-hati dan berhenti bermain-main. Kalau dulu saya selalu percaya bahwa kesalahan terbesar saya adalah membeli rumah karena itu bikin laki-laki takut untuk melamar, sekarang saya yakin akan sebaliknya. Keputusan membeli rumah sudah benar, karena dengan begitu saya akan 'aman' jika suatu hari nanti God forbid talak itu terjadi, setidaknya saya punya tempat untuk berpulang atau aset untuk dijual. Dan lagi, itu artinya saya hanya akan didekati oleh laki-laki dengan kepercayaan diri yang tinggi, dan ya.. I never find anything sexier than confidence and intelligence. 

Divorce is real. Laki-laki dengan jiwa berburunya juga real. I am no stranger to adultery, and I despise all forms of adultery. Dan itu membuat saya tidak lagi mau main-main soal jodoh, walau rasanya akhir-akhir ini kok ya semakin butuh.

***
Bogor, (masih) 2 Agustus.
Lanjut baca, udah bab 80 sekian

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …