Skip to main content

Let me teach you one thing or two to start a relationship:

Oh my God.. begitu menyelesaikan buku ini rasanya seperti menemukan diri sendiri yang lama tenggelam dalam tumpukan kerjaan. Sudah terlalu lama sejak terakhir kali saya bisa menyendiri, get lost in the story of a book, and actually finished a book!

Liz Gilbert membuat setiap halamannya relate, dan saya seperti bisa merasakan buncah emosi yang dia rasa. Termasuk ketika memulai hubungan baru, yang saya tahu sulit sekali jika kita sudah pernah beberapa kali gagal membangun hubungan. (Lol what do I know I am only 28 and never married). But I know a thing or two about heartbreak, so yep.. that count.

Cara yang dipakai Felipe di buku ini bisa jadi adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan hati seorang perempuan macam Liz Gilbert. Yang setelah bad breakups and divorce, memilih untuk menempuh perjalanan mencari Tuhan dan menemukan damai dalam dirinya sendiri. Artinya, perempuan seperti ini sudah utuh, she's no longer seeks comfort in men, tidak lagi butuh laki-laki untuk membuat dirinya dicintai. Tapi bukan berarti dia tidak butuh laki-laki. Karena itu sudah fitrah, dan sebagai muslim seharusnya kita tidak se-confuse Liz Gilbert dalam mencari arti dan pedoman hidup.

So, this is what you could do in order to win the heart of a Liz Gilbert:

Langsung tanya. 

Langsung bilang (except for the vasectomy part).

Pokoknya langsung saja ke intinya.

Kamu cuma bisa begitu kalau punya cukup keberanian ga bakal ditolak, kalau masih ada rasa takut akan ditolak, berarti kamu belum cukup pede dan itu artinya either you should be braver or find another woman.

and if you have some geographical issue...

Let's do this!


***
Bogor, 03 August 2020 00.44
Tulisannya masih center, yasudahlah.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …