Skip to main content

Pelukis dan Penyair

I've been flooded with feelings lately. Bahagia yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, tapi mungkin bisa dengan lukisan. Sisa-sisa pegal dari perjalanan kemarin yang masih ada, sambil sesekali mencicil pekerjaan rumah. Masih banyak yang harus diselesaikan, dan saya memilih untuk mencari film apa lagi yang bisa ditonton pagi ini, sambil sarapan yang kesiangan.

Pilihan jatuh pada film Words and Picture. Gambar cover yang biasa saja, pemain nya juga tidak terkenal, rating IMDB nya juga kecil, tapi malah saya tonton dan tidak menyesal. Dan seperti biasa, setiap kali habis nonton film bagus, saya larut dan hanyut dalam perasaan yang sulit dijelaskan. Seperti ingin menghela napas dalam dan tidak pernah dihembuskan lagi.

Saya mencintai kata-kata. Saya suka dengan setiap fakta menarik tentang muasal sebuah kata, seperti di film itu yang menyinggung asal kata Avocado adalah testikel, dan So long berasal dari kata Salaam yang artinya peace be upon you. Saya suka dengan orang yang bisa bermain kata, walau saya benci dipermainkan dengan kata-kata.

Tapi lukisan juga menggerakan emosi. Saya tidak pernah mengerti lukisan, bahkan waktu berjalan kaki di sepanjang Braga, atau ke Bali dan melipir ke toko oleh-oleh pinggir jalan, saya tidak pernah benar-benar bisa melihat lukisan. Tapi sekarang saya menginginkan sebuah lukisan lalu menonton film ini saya jadi semakin mengerti arti sebuah lukisan. Pesan yang ingin dibawakan, kedalaman makna yang hanya bisa dimengerti oleh pikiran tanpa kata, dan yang bisa membuat kita ber 'hhhhh...' dalam takjub.

Kemarin saya lihat ombak menabrak karang. Bergulung, berlomba mencari daratan. Pecah, lalu berbuih.
Saya memotretnya dalam pikiran dan berjanji untuk membawanya pulang, pun sepanjang perjalanan pulang, walau macet luar biasa selepas jalur paling mengerikan, gambar itu tetap melekat di kepala. Biru yang memudar, bukan biru pekat seperti di Timur Indonesia, namun indah dan menenangkan. Robbin eggs blue, mungkin seperti itu, entah apa namanya dalam bahasa kita. Toska mungkin kurang tepat, tapi bisa lah mewakili.
Tapi saya bukan penyair. Penyair pasti mampu membawa perasaan itu ke dalam kata-kata yang menyentuh emosi. Membuat setiap yang mendengarnya menghela napas panjang dan pelan, puas dalam setiap lafal yang dieja.
Apalagi melukis, menggambar pun saya tidak berbakat. Pelukis pasti mampu menuangkan ombak yang bergulung indah, menambah kesan mendalam di setiap tetes cat dan campuran warna, menggugah hati siapapun yang menatapnya lekat.
Saya bukan keduanya, namun beruntunglah mereka yang diberkahi dengan dua kemampuan itu.

Karena emosi adalah apa yang membuat manusia berbeda dengan spesies lain. Ada rasa yang mereka punya, sesuatu yang divine dan agung dan menjadikan mereka sebagai makhluk terbaik di muka bumi.

***
Kemarin, saya lihat ombak menabrak karang.
Bergulung, berlomba mencari daratan.

***
Di atas kasur, agak geser dikit dari pojok. 5 Juli 2020 12.51.
Selamat Hari Minggu,
dan setelah ini saya berjanji akan mencari sebuah lukisan yang bisa saya bawa pulang, pergi ke tempat para pelukis jika pun harus dan tidak akan pulang sampai bertemu dengannya. Sesuatu untuk menempelkan mata, meringankan kepala, dan mengagumi-Nya.

Bonus foto project dengan tetangga, yang pagi ini sudah semakin panjang sulurnya. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …