Skip to main content

Nanti juga semuanya akan terwujud

Karena Tuhan kita Maha Menjawab Semua Doa dan Dia Maha Mengetahui segala yang terbaik, dan rencana-Nya adalah Yang Maha Detil. At the end of the day, everything will be work out as the kind of life we always want.

No matter where we are in life, there are always the level we look up to. Marriage, have children, children’s school, children whatever.

Yang sekarang sedang kita lalui, adalah jalur memperkuat pondasi. Ke depan anginnya akan lebih kencang karna level makin tinggi, dari sekarang harus sudah bisa memperkuat akar supaya tidak hilang arah kalau sudah di atas.

Pada akhirnya yang akan menolong kita di penghujung kehidupan nanti (red: Hari Kebangkitan) adalah Dia. Jadi kalau bukan sekarang kita belajar memperkuat hubungan dengan Dia, percaya pada semua tentang-Nya (keberadaan-Nya, rencana-Nya, pilihan-Nya), kapan lagi. Mungkin kita beruntung sudah diberi petunjuk untuk memperkuat hubungan dari usia masih muda. Karena dengan begitu, di usia matang nanti kita sudah bisa jauh lebih berwibawa, mengerti situasi, dan tahu kemana harus berlari. Tidak lagi menjadi anak kecil yang terperangkap dalam tubuh dewasa, tapi sebaliknya, berwajah anak kecil yang berpikiran dewasa (and not in dirty way., oh you jerk). Haha.

Malam ini nge Zoom seperti biasa, bicara tentang apa saja. Lima orang dengan empat level berbeda. Dari yg belum menikah (me and Titin), belum punya anak, sedang hamil, sampai yang sudah punya anak umur di atas 1 tahun. Membuat sudut pandang yang digelontorkan di atas meja jadi variatif dan tidak saling menghakimi.

Saya bersyukurrr sekali bisa punya lingkungan non-toxic. Yang tidak saling membandingkan, saling menerima masukan tapi tetap di filter dengan personality masing-masing, yang menunjukkan bahwa kawan-kawan saya ini adalah orang yang sudah kenal dengan dirinya sendiri.

Seharian tadi sakit kepala dan males makan, beres zoom kenyang dan hilang sakit kepalanya. Kenyang karna akhirnya nafsu makan itu datang gegara ada yg makan dengan lahapnya depan video. Mantap.

Anyway, it’s almost 2 am here now and I’ve skipped my side job today tottaly. Hiks. But I really cant work.. my brain just didn’t function on Saturday. I hope Allah still be pleased with me.

***
Kasur, centre side.
Sunday, July 12th 2020
I should really change the header of this blog.

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal