Skip to main content

Melankolia Wanita Bekerja

Februari lalu seorang teman -Mega-, mengirim pesan dan awalannya begini:

"Mim ada yang kita mau cerita pa ngana, soalnya kita so bingung mo ba cirita pa sapa. Kita mau telpon, boleh?" Kurang lebih artinya, dia punya sesuatu tuk diceritakan tapi tidak tahu harus ke siapa. Dan dia pilih saya, dan saya bilang oke.

Siang itu langit cerah, panas. Setelah beberapa menit pembicaraan yang langsung ke inti, langitpun berubah mendung. Mendadak turun hujan. Saya pun menangis dengan kabar yang dibawa oleh Mega, dan beberapa bulan setelahnya kami ditimpa rasa duka yang amat dalam dan hingga hari ini masih membekas.

Terus terang sejak saat itu saya agak parno dengan teman yang tiba-tiba bertanya kabar apalagi menelpon. Pernah suatu hari, seorang teman lain yang lama tidak berkabar, menelpon secara sengaja tanpa ada janjian sebelumnya. Saya -yang nyaris tidak pernah menyalakan notifikasi di handphone- kebetulan sedang berada di dekat ponsel, langsung notis dengan panggilan itu dan otomatis menjawab telponnya. Sambil cengengesan, teman saya itu cuma bertanya nama bunga warna ungu yang pernah disajikan oleh senior saya di Prambanan yang dijadikan teh biru.

Sore tadi, selepas hari yang penuh dengan menahan napas.. pekerjaan yang saya kerjakan dalam diam dan bikin kesal karena jadinya orang pikir saya gak kerja dan bisa dimintai tolong macam-macam.. seorang teman lagi mengirim pesan.

Kalimatnya sama persis dengan yang dibilang Mega. Punya cerita yang bikin dia susah hati, dan bingung mau cerita ke siapa, dan akhirnya dia pilih saya untuk ditelpon. Saya langsung iyakan tanpa bertanya.

Lagi-lagi saya menahan napas mendengar cerita awalnya, dan menghembuskan sedikit napas lega karena setidaknya kabar yang dibawa ini tidak menyangkut nyawa manusia. Atau belum. Mudah-mudahan tidak. Tapi memang bukan berita ringan, justru ini berat sekali juga. Jadi saya duduk di atas matras yoga yang tidak dilipat sejak pagi, mendengarkan, dan memberi masukan ala kadarnya. Perempuan itu kalau curhat macam begitu, mereka tidak butuh solusi, mereka cuma butuh didukung atas solusi yang sebenarnya sudah tersusun rapi di kepalanya. Camkan itu wahai lelaki!

Telpon ditutup, dan saya mengikuti perkembangan selanjutnya melalui whatsapp chat, yang teman saya laporkan dalam bentuk screenshot. Pretty clear.

Karena seharian belum makan dan itu sudah azan magrib, saya putuskan untuk merebus sereh, menyeduh teh, dan membiarkan reaksi kimianya bekerja sembari saya tinggal untuk solat.

Tough life. People got real-life problems and here I am.. not folding my yoga mattress so that whenever a hurtful word strikes me, I can immediately do a plank.

***

Awalnya saya berpikir, saya tidak akan lama di sini. Berkarir, bekerja, nine to five, dibayar tiap bulan. Saya pikir saya akan suatu hari nanti menjadi stay at home-er, taking care of the kids, cook for husband (which I follow an instagram named 'cooking for husband'), dan mengurus segala urusan domestik. It was a noble life, indeed.. but is that for me? I was sure before, but now.. I don't think so. 

I love working. Not that I'm a hundred percent love my job, but I love what I'm doing. I love knowing what to do, got appreciated for it, and I love the sound of those emails after the end of the month showing my balance. 

But I also love staying at home. I love how these past four months allowed me to do the thing I've been dreaming so long; staying at home but still have a stable income. I love cooking, doing the dishes, cleaning the floors, and decluttering once in a while. I love being responsible for the house I'm living in, and the idea that one day I might as well do that with a loving husband who will appreciate all my works, and will get me rewards in form of jannah from that.. God that is a real blessed.

Jadi saya kembali memikirkan soal chemistry dan compatibility yang saya tulis kemarin. Tentang menemukan pasangan yang sama-sama menghargai apa yang kita lakukan, dan bisa saling mendukung. Tanpa perlu berpura-pura. Seperti misalnya, bagi saya pekerjaan yang dia lakukan itu lame, tapi karena dia adalah orang yang saya cintai, jadi saya harus mentolerir itu dan bersikap baik. Bukan.. bukan seperti itu yang saya maksud. Tapi yang genuinely appreciate each other, yang genuinely respect each other karena memang itu sesuai dengan standar yang kita masing-masing punya untuk satu sama lain. Karna kalau pura-pura, hanya tinggal menunggu waktu saat cinta itu sudah habis, terganti dengan emosi karena lihat dia rebahan seharian trus bilang "apaan kamu juga kerjaan nya kayak gitu doang! Gak ada bla bla bla.." and all hurtful words a woman can say when she's hurt.

God, it's terrible. I wish I don't have to live that kind of life. 

***

Trus barusan saya nonton The Breakup, film yang bikin kesel sendiri nontonnya. Dan bikin ngebayangin, kalau orang yang kemarin itu jadi nikah sama saya, trus cinta saya segitu besarnya sampai mentolerir semua kejelekan dia, trus dia berubah jadi laki-laki yang kayak di film itu, (worse; he also flirts with all random girls on twitter), kebayang gimana gila nya saya.

Itulah makanya penting sekali untuk kenal dan cinta sama diri sendiri dulu sebelum mendedikasikan seluruh cinta dan hidup untuk orang lain. You got to know what you want, and what you deserve. Without it, life is gonna be an endless sacrifices you hate giving. 

***
Meja kamar, (masih) 16 Juli 2020.
 I try to watch one movie a day, four in my desperate days, but yeah., one movie a day. It really helps me see the world in a perfectly different angle. Also, I got to learn that killing is not allowed. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …