Skip to main content

Online Fatigue

Dibalik kemudahan pasti ada kesulitan.
Orang pesimis-realis yang bijak pasti sepakat, bahwa sesi online, semudah apapun itu pasti menimbulkan kesulitan-kesulitan lain yang baru dan masih harus dicari tahu bagaimana mengatasinya.

Bangun tidur main game dulu, lalu bikin sarapan, masih sempat cuci piring bekas sarapan, baru mandi dan siap-siap sampai setengah jam sebelum acara dimulai, hanya bisa dilakukan jika menjadi host sesi online. Kalau sesi offline, dari subuh pasti sudah srudag srudug milih baju dan dandan, loncat ke mobil trus lanjut tidur padahal kelasnya baru mulai jam dua siang.

Meskipun bisa bercelana pendek sambil ngoceh di depan laptop, sesi online bisa dibilang membuat otak berhenti berfungsi. Selepas sesi, alih-alih membuat sertifikat atau kembali mendesain pertemuan selanjutnya, saya malah membalasi chat satu persatu, membuat mailblast untuk semua orang, dan memoderasi akun media sosial dengan foto-foto dan meluncurkan kebahagiaan-kebahagiaan yang tertangkap kamera.

Lebih lanjut yang bisa saya lakukan untuk menghabiskan sore adalah facetime dengan adik taurus dan pisces saya, walau cuma liat-liatan dan saling gondok melihat muka masing-masing tanpa ada bahan bicara sama sekali.

Sesi online membuat orang lelah. Jenis lelah yang.. dibawa rebahan dua jam gak juga bisa tidur padahal ngantuknya bukan main jadi memutuskan untuk ganti sprei tapi ngangkat kasurnya juga udah nyaris gak kuat.

Bagaimana mengatasinya? Semua orang masih baru di sini, jadi belum ada yang bisa benar-benar memberi rumusan terbaik, karena pada akhirnya rangkaian nasihat itu akan ditutup dengan 'ya tapi tergantung masing-masing sih, tiap orang kan beda-beda'. ah klasik.

Jadi sebetulnya saya tidak ingin banyak berekspektasi dengan banyaknya kelas online yang saya ikuti. Jika menambah ilmu ya Alhamdulillah, meng-upgrade skill ya Masya Allah. Tapi setidaknya sesi-sesi itu bisa membuat saya tetap bersentuhan dengan dunia luar, kita saling berkomunikasi, ber-networking, dan ber haha hihi walau terbatas.

Kiranya kita semua sudah lelah dengan pandemi ini, banyak orang yang sudah mulai keluar rumah tanpa basa-basi mengupload photo bakso dan makan di tempat. Sementara saya orang lain setengah mati menahan rasa rindu ingin makan bakso di luar.

Masihlah seharusnya kita mengandalkan zoom untuk mengadakan sesi apapun itu, bercanda, meeting serius, mengadakan pernikahan, bahkan pakai zoom walau melelahkan. Kita tidak tahu virus itu benar ada atau tidak, tapi tindak pencegahan dan prinsip kehati-hatian jauh lebih baik ketimbang sembrono. Walau lelah sekali dengan layar ini. Rasanya kalau laptop bisa ngomong (kata adik saya tadi) dia akan bilang gue capek liat muka lo!

***
Bogor, 9 Juni 2020
Eh tulisannya italic, bahkan untuk mengubah jadi normal aja kusudah tidak ada tenaga. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …