Skip to main content

New Normal, Digital Transformation in terms of Eyeliner

I have two moods tonight, and I wanna share both into two different posts.

***
Memang kesepian itu aib dan seringnya orang, saya juga, suka malu dan tidak mau kalau sedang kesepian. Pelampiasannya macam-macam, sebabnya pun juga macam-macam. Tapi jangan diartikan kesepian dengan hanya karena dia tinggal sendirian, masih single, atau hidup di hutan belantara. Namanya manusia tetap bisa kesepian walau sudah menikah, punya anak, rumah mewah, tinggal di kota besar dan tidak pernah sendirian. Itu. Wajar.

Masalahnya, kesepian yang tidak diakui itu efeknya bisa bermacam-macam. Ada yang jadi orang menyebalkan, ada yang jadi pendiam, dan ada yang jadi doyan belanja. Saya? Tiga-tiganya. Saya jarang sih belanja, tapi baru kemarin dan hari ini habis check out di dua tempat berbeda, yang akan saya ceritakan juga.

Lantas bagaimana mengusir rasa sepi?
Pandemi ini benar-benar membuat saya paham akan banyak hal. Saya paham bahwa seseorang bisa menggawangi sesi online, bangun tidur baik-baik saja, lantas tiba-tiba menuju penghujung sesi mood nya tiba-tiba berawan dan tiba-tiba tangisnya pecah begitu sesi berakhir. The reason still under the rug.

Cara saya adalah dengan memvideo call orang-orang yang bisa saya ajak bicara. Sore ini, saya menumpahkan tangis ke Kak Puji. Yang dengan bijak berkata banyak hal yang membuat hati ini jadi tenang, walau gambar yang dipertontonkan hanya berupa lapangan kosong karna doi ga sadar kalau itu video call. Saya pilih facetime Ka puji sore tadi juga karena random sekali, saya lagi nangis, dia tiba-tiba nge chat, yang dibahas adalah sesi tadi siang, lalu dengan sigap saya melipir ke curhatan hati. Begitu telpon diangkat, video dibuka, tangis saya pecah lagi padahal sudah sempat berhenti beberapa menit.

Cara kedua adalah dengan scrolling online shop. Mencari barang-barang kebutuhan yang kian terasa makin terjangkau. Jadi sebenarnya inilah yang ingin saya bahas. Sebuah normal yang baru, tentang grocery shop.

***

Setelah tiga bulan tidak belanja di supermarket, saya mulai kehabisan supply perawatan wajah dan badan yang tidak banyak itu. Produk yang biasa saya beli hanya ada di drugstore waralaba, dan biasanya agenda membeli produk itu selalu menjadi momen yang saya simpan untuk tiap dua mingguan. Sejak tidak punya kendaraan lagi, saya selalu memperhitungkan setiap kali ingin mengunjungi satu toko pasti minimal harus ada dua tujuan, jadi saya terbiasa mengumpulkan kebutuhan sampai banyak, sampai benar-benar harus ke mall.

Biasanya sekali ke mall jika agendanya untuk beli supply perawatan, saya akan menghabiskan waktu minimal dua jam. Satu jam setengahnya ada di dalam drugstore, tiga puluh menitnya lain-lain. Saya sukaaa sekali beli sabun dan antek-anteknya. Suka lihat-lihat sabun, ragam merk, lihat produk pembersih, toner, kapas, suka sekali.

Tapi sejak pandemi kebiasaan itu tidak lagi bisa dilakukan. Saya bahkan tidak pernah membeli apapun berkaitan dengan perawatan tubuh kecuali odol dan shampoo yang memang dijual di minimarket dekat rumah. Sabun masih punya banyakk (kayaknya setahun gak beli sabun pun bisa ni) bahkan kemarin saya hampir beli sabun di flash sale shopee karena bundling tiga kantong jenis yang sama dengan yang saya pakai dua tahun terakhir secara istiqomah. Waktu pembersih make up sudah mulai habis, saya belum panik, ah masih ada pembersih make up satunya lagi walaupun sebenarnya itu untuk bersihkan wajah dan gak bisa dipakai untuk bersihkan mata karna jadinya perih. Tapi gak apalah, saya tunggu saja belinya nanti-nanti. Waktu lotion sudah mulai dibalik, saya juga belum panik, ah masih ada satu botol lagi yang sudah lebih dulu dibalik, masih bisa lah buat dua minggu lagi..

Sebenarnya juga beberapa malam lalu saya ada kesempatan untuk ke supermarket besar, waktu diantar berkeliling malam dan si yang antar bertanya "gak mampir kemana-mana lagi nih?" pas lewat supermarket. Saya inginn sekali bilang "belok kiri plis" tapi tak usah. Karena ternyata saya tidak suka kalau belanja ditungguin, kecuali kalau dia jelas-jelas bilang "gapapa aku ngikut aja berapa lama juga terserah". Paling males akutu kalau bikin orang nunggu. Jadi yasudah. Walaupun pas dia nanya begitu langsung terlintas di pikiran saya dua botol nyaris kosong ini.

Sampai pagi ini. Saat saya harus mengawal sesi diskusi online yang terus terang saya gugup sekali. Dandan biasa pagi hari, pakai eyeliner dan... dang! Eyeliner habis. Saya tidak apa kalau bedak habis, lipstik habis walau mustahil atau apapun habis.. tapi eyeliner.. no!

Barulah malamnya setelah mendrama dari siang sampai sore, saya bisa menenangkan diri dengan scrolling satu-satunya official store merk Wardah. Kenapa wardah? Karena lagi-lagi... muncul di laman pertama flash sale.

Saya klik beberapa item, dan wow ternyata banyak juga.. dan wow nya lagi harganya murah! Lebih murah dari harga di drugstore, dipotong poin dan dipotong cashback ovo yang ada maksimalnya itu. Saya lanjut check out, dengan gratis ongkir dan rasa puas.

Duluu sekali saya pakai eyeliner oriflame, itupun sekali beli langsung dua karna ada diskon yang bikin harga per itemnya jadi 75rb. Sejak itu, benchmark harga eyeliner saya adalah 75rb yang adalah merupakan kemustahilan dengan eyeliner jenis crayon andalanqoeh. Bahkan merk paling 'sederhana' semisal Sari Ayu pun harganya 129rb yang saya beli waktu itu pakai kartu kredit karna lupa bawa dompet dan beli lipstik pesanan mama harganya cuma 50rb sedangkan kalau beli pakai kartu kredit minimal belanja 100rb (apasih too much detail). Dan sekarang. malam ini, saya beli eyeliner harganya DIBAWAH 75rb dan itu adalah instaperfect yang lipstiknya sudah saya gembok dan kunci dan kuncinya dibuang ke laut alias cinta banget mau nangis. Bahkan dengan beli eyeliner itu saja saya sudah bisa dapat gratis ongkir, tapi sy barengi dengan produk lain yang mau habis tadi (intinya semua sifatnya butuh).

Jadi, meskipun saya agak protes term new normal ini diartikan dengan segala macam rupa protokol kesehatan yang jadi gaya hidup padahal bukan itu awalnya term new normal ini digaungkan, saya rasa new normal saya adalah ini: tidak lagi ketergantungan pada drugstore di mall, untuk sekedar window shopping, karna saya makin terbiasa window shopping di official online shop dan dapat harga yang lebih oke punya dengan gratis ongkir. Selama online shop masih menyediakan jasa gratis ongkir, I AM YOURS!

Eh tapi nyambung sih, term new normal saya juga ada kaitannya dengan digital transformation dan mengurangi jejak karbon. Karena dengan begitu, saya semakin terbiasa untuk berbelanja secara online bahkan untuk barang-barang keseharian seperti sabun cuci muka. Juga berbelanja di warung sayur dekat rumah atau dari mang sayur yang sudah libur sebulan lebih atau dari online yang juga menyediakan jasa gratis ongkir, lalu di food prep sesampai di rumah.

New normal bagi saya adalah dengan mulai mengurangi ketergantungan akan keharusan mengunjungi dunia luar secara fisik, tapi tetap terhubung dengan dunia luar yang lebih luas.

Ternyata kalau dilihat-lihat, penghasilan kita itu sebenarnya cukup, kalau kita di rumah saja. Keinginan untuk keluar rumah itu yang biasanya bikin kantong jebol. Walaupun penting juga keluar rumah, melihat dunia luar, berkoneksi dengan alam, menjernihkan pikiran, supaya tidak berkubang dalam pikiran sendiri yang- seperti rendaman air aja kalau kelamaan dikubang kan lama-lama butek juga-.

Ni kusudah butek.

***
Bogor, 17 Juni 2020
Masa kemarin dapat nice info hasil grup video Amani dan Ilma, katanya akad nikah juga bisa lewat online. Jadi misal si calon suami ni gak bisa ketemu bapak kita, tetap bisa akad asal video call langsung. Tapi ganjel juga ya.. masa semudah itu..

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …