Skip to main content

Lonely Old Man

"Apapun pilihan hidup yang lu pilih sekarang, pastikan jangan sampe bikin lu jadi lonely old man nantinya." Pesan saya pada seorang kawan yang mengaku ingin membujang seumur hidup. Silakan, saya bilang, tapi seorang laki-laki tua yang kesepian itu sangat menjengkelkan.

Makanya dari sekarang, jangan pilih pasangan karna paras. Cantik itu memudar. Atau karna harta, karna hidup itu naik turun anak perempuan yang terbiasa hidup berkecukupan akan sulit mengatur nafas jika suatu waktu harus berkekurangan.

Cari teman hidup yang bisa jadi teman. Yang bisa diajak bicara tentang apa saja. Yang mengerti ceritamu, bahkan mengerti perasaan yang terkandung dalam ceritamu. Cari yang sepaham. Itu saja dulu, mungkin cukup untuk jadi bekal awal sebagai pondasi utama. Ke depan, cerita kalian akan jauh lebih panjang, berliku, naik turun, akan banyak yang kalian hadapi. Jika sepaham itu tidak di dapat, kedepannya sudah kepalang panjang jalan yang ditempuh, bisa-bisa kalian hidup bersama tapi masing-masing tanpa bisa saling tukar isi kepala. Dan apa yang paling buruk daripada hidup berdua tetapi merasa sendirian? Terkungkung di dalam pikiran sendiri tanpa bisa menyalurkan pada siapa-siapa kecuali pada senyap?

Seorang teman baik saya juga pernah menanyakan kriteria pasangan hidup saya seperti apa. Tidak banyak, hanya itu tadi. Yang nyambung dan bisa sepemikiran. Karna mau minta yang pemahaman agamanya tinggi, saya juga belum bisa mengimbangi. Sederhana saja, pinta saya. Yang seperti saya.

***
Bogor, (masih) 11 Juni 2020
Sangat mendung hari ini, saya bahkan dari pagi tidak membuka pintu. Khawatir ada suara-suara yang merusak mood. Di tengah pandemi seperti ini, suara sedikit saja bisa bikin stress dan senewen. Apalagi kalau suara itu sengaja dibesarkan volumenya, memutar jenis musik yang tidak saya suka (dan yang muternya tahu saya tidak suka dan tahu saya tidak bisa kemana-mana), yang membuat rasanya bukan hanya jengkel tapi sedih dan cuma bisa mbatin. Prinsip saya masih sama, jangan sampai membuat tetangga tidak betah, bagaimanapun sikap mereka terhadap saya.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk