Skip to main content

Is a beautiful Sunday

I wake up this morning with pain in my shoulders. Gils baru nyetrika dengan durasi 1,5 film kemarin efeknya langsung berasa pegel di bahu. Umur emang ga bisa bohong ya. But my heart is warm. Jadi ku bangun dengan masih ngantuk solat subuh seperti biasa, yang gak biasa adalah habis subuh langsung mandi. Entah kenapa tiap weekend pasti semangat mandi pagi, bersih-bersih rumah, ulik apapun yang bisa dibuat sarapan,. kalo weekday hmm..

The warmth in my heart ini sumbernya dari sisa obrolan semalam. Hangout dengan teman-teman SMA, bicara tentang apa saja. Seperti rutinitas malam mingguan bagi kita yang memilih untuk tidak kemana-mana. Makanya walaupun badan sakit, ku tak apa.. dan yang terlintas di pikiranku cuma dua: what to eat and what to watch. Indah bukan? Selagi belum ada tanggungjawab yang mengikat semisal membuatkan sarapan buat suami, ku habiskan pagi scrolling film di laman unduh film ilegal. Bye Netflix, sekarang kusudah tahu caranya download film dari internet.

***

Pernikahannya Nisa memang big deal. Di kelompok kami, dia adalah salah satu yang paling tomboy, dan sangat tidak bernuansa keperempuanan. Sebelum dia mengenal lipstik dan pensil alis, tampilannya sangat mirip laki-laki (yang dijilbabin). Akhirnya sekarang ada seseorang yang datang dan hendak membuat dia menjadi wanita seutuhnya. Uwhh..

Terus terang aku iri. Pada Nisa yang dulu sama-sama ngegalau ke Bandung cuma buat makan siang trus nongkrong di alun-alun karna kehujanan. Lalu beberapa bulan kemudian Nisa diminta pulang sama Ibunya ke Luwuk, dia packing sambil ngomel dan begitu berat hati meninggalkan Ibu Kota, tapi ternyata hanya berhitung bulan sejak kepulangannya, dia bertemu dengan jodohnya yang sekarang. Seseorang yang datang melamar dan tidak membawa keribetan apapun.

Oh kusudah pernah ada dalam tahap ribet-ribet ngurusin nikahan.. jadi aku sangat paham betapa menikah yang tidak ribet itu adalah mimpi bagi semua orang. Keluarga yang legowo menerima apapun konsep yang kita mau, itu sungguh adalah berkah. Aku mau

Jadi sepanjang pagi ini, sambil berpikir mau masak apa, (mau masak opor dan sambal goreng kentang yang gak jadi2 dari kemarin sebenarnya), order sayur dari tukang sayur pakai whatsapp dan dibayar pakai ovo, menunggu orderan datang., kubuka lagi chat-chat yang belum terbaca.

Ada satu dari Ilma, yang mengabarkan bahwa dia habis ikutin akad nikah, yang mana mempelainya di dua benua terpisah. Suaminya di Australia, istrinya di Surabaya. Ternyata boleh loh kayak gitu..

Barusan juga ada tetangga antar nasi kuning. Habis hajatan sunatan anaknya dan tidak mengundang siapa-siapa. Tempo lalu tetangga lain menikahkan anaknya, juga ngirim nasi box ke rumah-rumah, tanpa mengundang dan mengharuskan kita untuk hadir. Betapa mudah dan sederhananya segala urusan sosial di musim pandemi ini. Sebuah tatanan kehidupan baru yang kuimpikan sejak dulu. Hiks semoga sebelum pandemi ini berlalu kusudah bisa menyelenggarakan acara seperti mereka-mereka itu. Karena mudah dan sederhana sekali.

***
Jadilah pagi ini ku kembali meracau di blog. Bingung mau ngapain lagi, rumah sudah bersih dan cucian sedang dikerjakan oleh yang berwenang (aka mesin cuci). Baru habis ngopi dan download 3 film yang kuhapus lagi karna jelek semua.

Padahal sebenarnya kalau mau kubisa kerjakan laporan. Tapi kan korupsi waktu untuk pekerjaan adalah dilarang, masa mau korupsi waktu istirahat dan recharge pikiran.

***
Bogor, 21 Juni 2020
Wait what? Juni sudah mau berakhir?

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …