Skip to main content

In time of pandemy, if you can't be kind, at least have a bit heart.

If I die tonight in my sleep and this gonna be my last post..
I hope then people will start to realised the importance of mental state at work.

***

Before I continue, kumau cerita kelanjutan dari postingan sebelumnya;
Goreng risol, makan risol, sampai lima belas menit sebelum jam dua belas malam. Kuputuskan untuk tidur bentar di depan laptop yang masih menyala berharap lima belas menit kemudian akan terbangun dengan suara-suara. Ternyata ku baru bangun jam 00.23, 7 menit sebelum sesi berakhir. Sesi yang paling ditunggu lenyap begitu saja hanya gara-gara 'ah tidur lima belas menit lah'. Ngegampangin.

***

Ini tulisan curhat. Skip aja kalau malas dengan hal curhat.

***

Mental health is real. Bukan mengada-ngada dampaknya, bahkan bisa se-mematikan covid jika jatuh dan ditangani oleh orang yang salah. Tapi, masih banyak orang yang abai dengannya. Padahal simple saja sebetulnya, kalau tidak bisa bersikap baik, ramah, dan perhatian, setidaknya tahu batas.

Di tengah pandemi seperti ini, di saat semua orang mengalami keterbatasan, ruang gerak menjadi lebih sempit, pendapatan berkurang, pilihan makanan juga terbatas.. rasanya mudah bagi siapapun untuk jatuh dan depresi.

Sebagian orang memilih untuk mengatasinya dengan mengikuti berbagai kelas online yang dipercaya bisa memperkaya ilmu, sebagian lagi menyibukkan diri justru dengan membuat kelas-kelas online supaya tetap berinteraksi dengan dunia luar.. ada juga yang memilih untuk mendokumentasikan keseharian di rumahnya yang unik, dress up, dan hal lain demi menjaga supaya tetap waras.

Tapi itu berlaku hingga.. minggu ke-tiga? ke-empat? ke-delapan?
Tiga bulan setelahnya semua orang menjadi sangat jenuh. Masing-masing bahkan mungkin telah melewati titik jenuhnya masing-masing. Ada yang tutup akun media sosial, puasa medsos, detox instagram.. yang sebetulnya menandakan betapa pentingnya kesehatan mental untuk dijaga.

Tidak ada yang bisa menggantikan interaksi human to human secara langsung. Sekarang kita semua tahu, bahkan teknologi pun tidak sanggup menyamai rasa kebersamaan di kala rebutan makanan dengan adik dan saudara. Ketika semua keterbatasan ini bertemu dengan rindu.. selesai sudah kewarasan yang mati-matian dijaga tadi.

Apakah semua orang memahami ini?
Mungkin iya. Tapi apakah semua orang mau memahami orang lain yang sedang mengalami ini?

Tadinya saya ingin menuliskan tentang sebuah kemarahan pada sosok yang sangat tidak berempati. Definisi harfiah dari heartless ada padanya, yang saya sebut sebagai human form of headache. Tapi setelah sedikit tangis, juicing, melanjutkan sesi online yang masuk telinga kiri keluar telinga kanan tapi bikin hepi di sesi facilitated networking, saya menjadi normal lagi dan urung bercerita.

Malam ini, saya menjalani tiga sesi diskusi online. Satu melalui zoom yang harus saya moderasi lalu lalangnya, dua melalui facebook live yang meskipun terkoneksi otomatis tetap harus saya pantau karena suka mati tiba-tiba, dan tiga melalui whova app di handphone untuk mendengarkan sesi yang tidak ingin saya lewatkan.

Saat saya selesai memoderasi perkenalan awal, video dimatikan, satu tetes air mata perlahan mengalir. Saya juga tidak mengerti kenapa, dada saya sesak dan tangan agak sedikit gemetar.
Saya lanjutkan sesi itu karena toh saya tidak ngapa-ngapain, setidaknya itu yang ada di pikiran rekan-rekan saya mungkin. Jadi saya lanjut saja sambil berusaha fokus mendengarkan sesi online di Bonn dari mobile dan memoderasi chat box yang meminta ini dan itu.

Selesai sesi, saya tinggalkan sesi online di mana saya menjadi pendengar, beralih menjadi moderator, menutup acara, foto bersama, dan mematikan konferensi.

Sesaat saya melihat ke sekeliling rumah.. saya lupa membuang sampah. Lupa mencuci piring. Tumpukan sampah dan tumpukan piring kotor menjadi hal pertama yang saya lihat di dapur. Saya coba menenangkan diri, memandang ke luar dengan membuka pintu bermaksud untuk menikmati hujan karena saya paling suka kalau hujan duduk di teras.. ternyata jemuran belum diangkat. Saya bahkan lupa kalau punya jemuran yang belum diangkat sejak sore, dan sudah basah kuyup dengan hujan yang mengguyur sejak lepas isya.

Saya gotong jemuran ke bawah atap garasi, masuk kembali ke rumah, cuci kaki, dan menangis. Mendadak saya menangis bersuara. I found my self, sitting on the floor, in the corner of my bedroom, grasping the air, it was hard to breathe. Dada saya sesak sekali saya harus mengambil napas dalam-dalam melalui mulut dengan bunyi yang mengerikan untuk mengeluarkan apapun yang ada di dalam kepala saya. Kepala saya sibuk sekali berisik! Ingin saya redam mereka dengan satu hantaman keras di dinding tapi tidak berguna. Saya terus menangis. Duduk meringkuk di pojok, grasping the air.

Kemudian saya memutuskan untuk berdiri, bangkit, mulai tenang, mencuci piring, mengambil perlengkapan juice, menyusun juicer, mencuci buah, memotong dan mengkuliti timun, nanas dan belimbing.

Ketenangan saya sudah 80% saat saya siap juicing sebelum ada serangan kecoak yang saya tackle dengan berisiknya. Panik yang menurunkan level tenang menjadi 40% tapi cepat di recover lagi dengan suara juicing.

Inti dari tulisan hari ini apa?
Tidak ada.
Kecuali bahwa mental health is real, dan semua orang punya bebannya masing-masing.

Hanya karena dia single, kamu bisa bikin dia jadi overwork.
Hanya karena dia tinggal sendirian, dia bisa dimanfaatkan untuk banyak hal tanpa kenal waktu. Hari Minggu jam sembilan malam diminta ini dan itu.
Setiap orang punya batas dan kapasitas, yang siapapun itu, jika terlampaui, akan menyerah juga.

Percayalah,
Ketika seseorang itu menyerah, tidak akan ada yang bisa membuat dia berubah pikiran.
Kecuali Allah.

***
Bogor, 6 Juni 2020 1.11
I work, not to enslave my self to feed human's ego.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …