Skip to main content

Doaku Usahaku

Ni mau kuceritain tentang pergelutanku semalam, berjuang melawan PMS.

Jadi saya ni setiap kali PMS pasti ada keluhan; sakit kepala dan muntah-muntah. Keluhan ini tidak muncul kalau saya lagi banyak kegiatan yg melibatkan aktifitas fisik (mobilitas tinggi pakai kendaraan tidak terhitung). Seperti misal waktu diajak naik tebing di Raijua, itu bikin menstruasi jadi lancar. Kalau lebih banyak duduk apalagi rebahan kayak sekarang, ya pasti keluhan itu muncul.

Sakitnya bukan main. Kepala pening sejak sehabis magrib. Berat seperti digelantungi rindu yang tak kunjung tunai. Peniing sekali, mau nonton film saja tidak selera. Akhirnya saya paksakan untuk berkegiatan. Mulai dari cuci piring, cuci dapur, bersihin sayur 2 ikat kangkung 1 kg timun dan 2 buah lemon, bikin juice, lalu cuci piring lagi, bersihin lantai dan bersihin wastafel. Setelah itu kepala mulai terasa agak ringan tapi si sakit kepala ini masih ada. Lepas solat isya, saya ajak kepala tuk minum juice sebentar, sebelum cuci muka dan tidur.

Hormone dan poor diet seperti lingkaran setan yang menimbulkan sebab akibat dalam artian buruk. Karena saya mau menstruasi, hormon saya sedang tidak imbang. Karna hormon tidak imbang, muncullah cravings macam-macam. Ingin es krim ingin teh manis ingin bebek pedas ingin cireng ayam suir pedas, pokoknya makanan-makanan yang mengundang asam lambung. Apa yang terjadi ketika hal itu bertemu dengan saya yang minim aktifitas fisik? Ya tentu diikuti. Seolah tidak bisa melawan nafsu tubuh untuk makan yang enak-enak.

Jadilah sakit kepala dan muntah-muntah ini yang kalau ditanya ke dokter sebabnya adalah asam lambung.

Well, balik lagi ke malam tadi. Setelah nonton 2 film yg dua-duanya tidak sampai 30 menit langsung dihapus, saya berusaha untuk tidur. Dengan seragam tidur sehari-hari: kaos lengan panjang celana panjang kaos kaki panjang dan selimut. Sambil terus beristighfar dan memohon pada Allah supaya diampuni dosa-dosa saya melalui rasa sakit ini, tidak lupa nge tweet karena dunia harus tahu saya sedang sakit.

Rasanya saya tidur sudah lama sekali. Meski tidak benar-benar deep sleep karna saya masih bisa dengar suara-suara di sekitar. Tiba-tiba saya terbangun oleh rasa sakit yang benar-benar sakit. Saya pikir itu sudah pagi, jelang subuh lah minimal. Tapi pas lihat jam, ternyata baru jam 00.28.

Saya duduk di tempat tidur menikmati setiap dentuman dan kepusingan yang ada. Minum air putih, lalu beranjak ke kamar mandi mulai mengeluarkan semua isi perut. Setelah itu saya ambil madu, meneguk sesendok, mematikan ac, lalu lanjut tidur.

Dua jam kemudian terulang lagi. Madu manis yang baru saya tenggak, sudah keluar lagi. Yasudah, bye bye honey.

Saya tidur lagi dan terbangun 15 menit sebelum subuh dengan perut yang melilit. Saya kembali ke kamar mandi. PMS ini sebenarnya seperti teman tapi iblis. Sakit tapi jadi kayak detox gitu yang menguras semua racun jahat. Terutama kalau saya lagi jarang makan sayur kayak sekarang. Yep belakangan gaya hidup saya sedang sangat tidak sehat dan saya sedang sangat bodoamat.

Padahal selama proses mengeluarkan isi perut, wudhu, duduk sebentar minum madu, makan granola dikit-dikit, rasa ngantuk sama sekali tidak ada.
Tapi begitu saya takbiratul ihram yg pertama utk solat, mata tiba-tiba langsung berat. Dasar setan -_-.
Saya solat tanpa dilama-lamakan, berdoa juga minta yang seperti biasa sama minta disembuhkan, bahkan saya skip dzikir habis solat karna langsung naik ke kasur dan sleep. 

Sambil tidur lagi ini saya terus minta ampun sama Allah, minta disembuhkan, dan berbisik-bisik yg lain sampai ketiduran.
Bangun-bangun tiga puluh menit kemudian, rasa sakit di kepala itu masih ada. “Alright body,” ujar saya pada kepala “its time to take a pill”. Karena memang begitu alurnya. Seolah2 tubuh saya ni maunya saya usaha dulu, karna kalau langsung minum obat tanpa serangkaian proses detox tadi, obatnya akan ikut keluar lagi. Jadi saya minum obat, sambil bermohon sama Allah supaya jangan ada efek samping berkepanjangan, dan tetap Allah Yang Maha Menyembuhkan dan bukan obat ini yg bikin sembuh. Cuma mau nunjukin ke Allah bahwa saya serius ingin sembuh.

Lalu saya tidur lagi, satu jam kemudian bangun dan menulis postingan ini.

Memang apa-apa yg kita lakukan itu cuma bentuk ikhtiar saja. Usaha. Perihal nanti itulah yg akan membuahkan hasil atau tidak tetap terserah Sang Maha Memberi Ketentuan.

Setidaknya dalam urusan percintaan juga sama. Saya sudah berusaha, menunjukkan dan memberi yang terbaik macam IPB jaman jadul, soal nanti Allah beri dia atau tidak, itu bukan wewenang saya. Akan pusying sendiri nanti kalau menebak-nebak, dia bukan ya dia bukan ya. Karena kan saya tidak akan pernah tahu. Sekalinya tahu ya pas nanti kejadian.

Tapi yang jelas Allah akan kasih kita sesuai dengan usaha dan keinginan. Kalau keinginannya biasa-biasa saja tapi usahanya gigih, Insya Allah hadiahnya nanti lebih dari yang diinginkan. Kalau keinginannya tinggi tapi usahanya biasa-biasa saja, Insya Allah hadiahnya nanti hanya sesuai keinginan.

Apapun itu, jangan pernah berhenti berharap sama Dia satu-satunya yang pantas digantungi harapan. Rindu itu berat, manusia itu makhluk yang mengecewakan, tapi tidak dengan-Nya. Yang Selalu Ada di saat suka maupun duka, yang selalu menolong walau kita seringkali tidak sadar sedang ditolong, yang selalu mendengar setiap bisikan setiap rintihan keluhan dan protes dari hamba-hamba-Nya tanpa pernah sedikitpun terlewat. Semua Dia dengar dengan seksama karena Dia Maha Teliti.

Now,
Jam 07.05. Tukang bubur kacang ijo sudah lewat tanda saya sudah harus beranjak. Mandi pagi, bersiap ‘ngantor’ di sudut pertemuan antara rak buku dan tembok abu-abu.

Ini sakit PMS karna hormon ft poor diet, atau simply karena Senin? Maybe my subconscious mind miss Monday too much. It is those too much things that kill you. Don’t get involved in something that is too much, alright?

Okay.
Have a great start!
Love,

***
Pojok kamar, 29 Juni 2020. 07.07
Sakit kepalanya sudah hilang sejak menulis post ini.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …