Skip to main content

Brooklyn..

It was a movie from 2015 about a young girl who leaves home in Ireland to find a job in New York. Long story short, she fell in love with someone, got married, before she comes back to Ireland to accompany her grieving mother. There when she met another guy, an Irish, handsome and rich guy and started to have her heart torn between two.

Film ini terlalu emosional tapi saya tidak menangis sampai di menit ke 140, saat adegannya menampilkan suasana pantai yang sepi. I dreamt of lying on the beach this morning and it felt real. Saya bangun sambil bersyukur karena masih bisa merasakan pantai dan menikmati pemandangannya walau cuma di mimpi.

Homesick memang payah, di awal film menceritakan kepayahan gadis muda Saoirse Ronan itu melewati homesickness. Saya jadi ingat masa-masa saat saya begitu merindukan rumah, merindukan mama, pulang dengan sekarung penuh cerita yang ingin saya bagi dengan antusias. Masa-masa itu berhasil saya taklukan, yang justru kelewat batas. I have numbed that feeling till now, till there's no more room left from missing home. Where is home anyway.

Cara mereka menceritakan kebimbangan si gadis muda ini, memiliki pria baru yang sudah dia nikahi diam-diam di Amerika, atau pria dari kampung halamannya, membuat lagi-lagi insecurity saya naik tinggi. I know that there's no one like people from our homeland. Apalagi kalau seorang laki-laki, yang begitu dicintai ibunya, yang saudaranya sudah menikah dan pindah di kota lain, dan hanya tersisa adik perempuan (misalnya) yang sewaktu-waktu  bisa dinikahi orang dan pergi bersamanya.. pasti akan punya rasa berat hati meninggalkan rumah. Meninggalkan kampung halaman dan orang tua yang semakin renta.

Untuk itu saya mengerti jika ada orang yang memilih perempuan berdasarkan suku dan asal, meskipun mereka saling cinta, tapi bukan berarti itu yang utama. Ada orang tua yang sudah mengorbankan seluruh hidupnya, untuk dibalas walau tak kunjung akan berbalas. Menulis hal ini, saya semakin sedih karena... where is home anyway.

Is there any piece of land for me, somewhere? Will there be a guy who chose me for my homeland? Will there ever be somebody who loves me for where I come from, or love me for me instead?

Kalau ada orang yang memilih pasangan berdasarkan kesamaan muasal, saya mengerti.

***
Bogor, I don't like this Wednesday Mood. But I guess its just hormones. Its not me. I'm not weak and I know it.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert