Skip to main content

Another Dear Diary Kind of Post

"Oh my God. Hilma, you are in serious trouble"

"It's not you, it's him."

***

By the time I write this post, I am still not in really good state of mind, but I try to cope with work until miracle happened.

***

3 Hari Lalu.

Saya bangun tidur. Lagi-lagi solat subuh kesiangan. Rasanya banyak sekali yang harus dilakukan hari ini tapi entah mulai dari mana, dan tidak ada semangat apalagi motivasi untuk menyelesaikannya.
Saya ke dapur, berdiri diam di sana sambil berpikir, mau makan apa pagi ini. Ternyata keranjang cucian sudah mulai penuh, saya putuskan untuk mencuci baju. Memindahkan baju ke dalam mesin cuci, menekan tombol dan pergi meninggalkan dapur.

Saya ambil sapu, mulai membersihkan lantai, kemudian kembali ke dapur, mengambil donat beku untuk di defrost. Lantas kembali ke kamar bersembunyi di bawah bantal. Itu berlangsung berulang. Masak, kemudian ke kamar. Kerja, kemudian ke kamar. Makan, lalu ke kamar.

Malamnya, saya menelpon Hera yang sedang berulang tahun. Tapi yang lebih girang karena telpon saya justru My Dear R, Rayyan. Dia sibuk menunjukkan semua bukunya, dikeluarkan satu persatu, dengan lancar menyebut warna-warna yang ada di cover buku juga nama hewan-hewan di sampul buku-buku itu. Dia bercerita tentang dirinya yang pernah naik kuda. Yang ikut ayahnya olahraga. Menunjukkan cara olahraga yang dia bisa. Menyanyikan lagu yang dia hapal, lari sambil berputar-putar di dalam rumah, sesekali melompat. Semua sambil sesekali memanggil nama saya 'Tante Mima.. Tante Mima' dengan lafal yang sudah lebih lancar.

Itulah video call yang membuat hati saya hangat. Tidur nyenyak setelahnya, sampai lupa isi di dalam mesin cuci belum dikeluarkan apalagi dijemur.

***
Hari ini

Allah tidak pernah ingkar janji.
Dia tidak pernah sedikitpun meninggalkan hamba-Nya. Sekacau apapun hamba-Nya berlaku.

Ada beberapa pemberian kecil yang saya beri, itupun tidak sengaja atau ya memang sudah sewajarnya saya beri, langsung dibalas dengan tunai oleh-Nya.

Kemudian tanpa dikomando, tanpa janjian, dan tanpa ada angin apapun, dua orang kawan mengontak saya dengan isi pesan yang membuat hati tersedak.
Yang satu tiba-tiba mengajak untuk ikut kelas online bersifat keagamaan. Dan memang sejak pandemi ini tidak ada satupun kelas online berbau religi yang saya ikuti. Bahkan subscription bayyinah tv yang saya niatkan untuk mempelajari makna dalam ayat, saya sudahi di bulan lalu.
Yang satu lagi tiba-tiba mengabarkan ada teman kita yang sudah mau punya anak tiga, dan lantas memburu saya untuk segera menikah yang saya jawab dengan sederhana. "iyaa mau."
Lalu kalimat selanjutnya membuat saya tersentuh dan ya.. sampai tidak bisa mbalas lagi. Karena dia bilang "Nenek harus percaya dengan rencana Allah".. karena saya tahu dia tahu saya percaya, tapi dibilang seperti itu saya jadi bertanya ke diri sendiri lagi.. iya ya apa saya kurang percaya ya..

Lantas paginya, setelah pesan-pesan menakjubkan itu, datanglah pesan lain yang berisikan pekerjaan tambahan, yang biasa saya kerjakan di malam hari. Setelah kemarin selesai menyelesaikan satu pekerjaan singkat, kini datang lagi. Seolah Allah ingin bilang "Masih belum percaya dengan janji Kami?"

:(

***
Tangis saya pecah kemarin siang, yang sanggup saya redam di bawah bantal. Lalu saya merangkak mencari pertolongan, hingga datang chat dari Kak Puji (ini sebelum dua chat yang mencengangkan tadi). Setelah Kak Puji selesai mengutarakan maksudnya, saya minta facetime, dan dia menyanggupi, nitipin anak ke mertua, lalu mengangkat video dari saya, yang langsung pecah lagi tangis saya.

Entah kenapa mood selalu gelap setiap kali bikin sesi online. Setiap kali tampil di depan banyak orang. Apa sih ini namanya. Sungguh sangat tidak enak. Dan ini berlangsung sampai hari ini.

Mungkin, hidup adalah kejadian yang berulang. Event nya mungkin berbeda tapi polanya selalu sama. Dan dalam pola yang sama itu, ada pelajaran-pelajaran kecil tentang sabar dan yakin yang bisa sedikit demi sedikit dipelajari. Seperti kelas online yang berlangsung selama 2 jam, yang ternyata hanya berisikan 1 atau 2 poin pelajaran baru untuk dibawa pulang.

Dulu kita pernah ada di situasi seperti ini. Yang tidak enak, yang sulit, seakan-akan masalah ini lah terberat. Tapi ternyata kita survive, kita bisa lewati dan kemudian kita temukan bahagia-bahagia kecil dan besar di sepanjang jalan. Sampai kemudian terbentur lagi, tidak enak lagi, sulit lagi,. Berarti sekarang juga sama. Ini pasti akan ada ujungnya suatu saat. Entah di mana, tapi pasti ada.

Jalanin.

***
Bogor, 18 Juni 2020

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …