Skip to main content

Satu Hari yang Cerah, di Sebuah Normal yang Baru

Aku bangun pukul tiga pagi, setelah sebelumnya baru tidur pukul satu dini hari. Karena tetanggaku baru pulang kerja tepat pukul 22:33 dan kita berbincang ringan tentang apa saja sampai pukul 23.53. Itu saat kupulang kembali ke rumah, cuci muka, menjalankan ritual skincare, dan mulai rebahan.

Pukul lima ku selesai melaksanakan serangkaian ritual ibadah pagi. Di mulai dengan mengucek-ngucek mata, dilanjutkan dengan santap sahur, dan berakhir dengan menghapal satu-dua ayat baru. Pukul enam pintu kubuka. Dengan bulat tekad ku berniat untuk tidak tidur lagi.

Tetangga akan berangkat kerja masing-masing pukul delapan dan pukul sembilan. Aku.. ingin melepas mereka dari balik pagar. Menyempatkan diri menengok tetangga menyuapi makan ikan-ikan kesayangannya. Duhai, pagi yang indah.

Sedikit celetukan tentang rindu akan dunia luar kembali menjadi topik pembahasan. Lagi-lagi disertai candaan. Selalu tertawa jika berbincang dengan tetangga. Dia nampaknya bukan penggemar kisah sedih apalagi julid. Maka bahagianya menular pada ku yang tengah sendu, membayangkan hari raya yang mungkin akan tanpa opor, ketupat, apalagi baju baru.

Pukul sembilan lewat dua puluh ku masuk ke rumah. Niatnya ingin tidur lagi, karena baru tidur dua jam tadi. Tapi hingga pukul sebelas, tidak juga berhasil. Menyerah dengan jam biologis, ku bangun dan menyalakan diffuser. Menutup pintu lalu menghidupkan AC. Kubuka laptop dan mulai membaca buku elektronik.

10% human.
Aku ingin menjadi manusia baik. Yang hidup tanpa menyakiti hati organisme lain.
Sungguh aku baru menemukan tapak jalannya di hari ini. Semoga likunya bisa kutempuh dalam komitmen dan konsisten, karena dua hal itu adalah hal yang tidak pernah kumiliki jauh sebelum pindah ke sini. Apalagi aku kini punya inspirasi. Seorang tetangga baik, masih muda dan enerjik, selalu menyapa dan bahagia, tidak pernah terlihat sedih apalagi bersendu lara.

Terima kasih tetangga,
Dan kalian hadir, merubah segalanya. Menjadi lebih indah.

***
Bogor, 3 Mei 2020
Dan di hari ke-50 karantina, aku menemukan secercah rencana yang kali ini, ingin kuwujudkan dengan serius. Atas izin Allah tentunya. ❤️
#31HariMenulis

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …