Skip to main content

One relationship fall, another fixed

For the past few days, I've been haunted by the ghost of my past.
There was once a family, whose couch was a place for me to spend a night or two whenever things went south with my ex. But when I broke up, the day after I broke up, I literally stop seeing them. I stop visiting them, I stop contacting them, I even stop following them on social media. Although it wasn't their fault that we broke up, I just hate anything that resembles him. Anything that reminded me of him, was completely erased of my life.

At least for five years now.
Until lately I realized, how selfish it is. So tonight, I decided to revisit them thru WhatsApp chat, because I've been meaning to send them something good for eid. It went well.

***
In time of covid19, happy days are often followed with sad days and vice versa. I don't understand why the turn can be that significant, happy days could only last for 24 hours and the next minute it could turn upside down and be another 24 hours of sadness.

As the world is resetting and experience some new things that may lead to a new normal, we as a person also need to learn new things. Especially learn how to control the emotions on this rollercoaster. I strongly believe that these are the things that we may need later in the future, when we have everything that we ever dreamt of, but it turns out not to be that good as we expect.

***
I know kindness is important, but kindness must be true. It must come out of your heart with your consent. Being nice is important, but fake nice is cruel. You don't make people think that you care about them while you don't. You need to show your true color to avoid even if it feels so bad.. really bad that you wanna kill yourself.

Don't feel sorry when you need some time alone.
Don't feel like you have responsibility for everything.
My good friend once told me that putting your self first isn't selfish, but do it in a way that doesn't confuse people.
Also,
That good friend of mine has some real advice on handling a terrible-un-symbiosis mutualism-thing. She also asked me a good question about long term relationships.

"If you like someone, why do you like him? and those reasons.. will those be important in your marriage?"

I never thought that much before, (and it kinda violates my character as a thinker).

***
Bogor, May 22 2020, 22.15
"Why is this about you?" Asked Gilbert to Anne. A right question to punch someone in the face.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …