Skip to main content

Father and Son

"You're still young, that's your fault
There's so much you have to know.
Find a girl, settle down
If you want you can marry, 
Look at me, I am old but I'm happy.."

***

So allow me to start today's post with a song. Don't worry, I won't sing it. This song was my theme a couple years back, when my world was just begun and I have none to talk to about anything in my family.

***

Setelah menonton dua episod 'Defending Jacob' yang diperankan oleh Chris Evans dengan sangat gantengnya saat menjadi seorang bapak, saya semakin percaya dengan krusialnya peran seorang ayah dalam perkembangan emosi seorang anak.

Defending Jacob menceritakan tentang seorang detektif yang harus mengusut kematian anak remaja, yang juga merupakan teman sekelas anaknya dan semua bukti mengarah pada anaknya sendiri. Dilema antara menjadi seorang ayah yang membela anaknya atau detektif yang mengungkap kebenaran.

Ada adegan di mana Evans menginterogasi anaknya sendiri dengan nada tinggi, yang kemudian di akhir dia minta maaf dengan bilang "I shouldn't yell" walau pelan, but he meant it because he said it while looking to his son's eyes. 

Padahal susah untuk seorang ayah melakukan itu pada anaknya, well at least hard for my father especially to me.

Karena hari ini kebetulan saya kembali dibuat patah hati oleh ayah sendiri. Tapi tidak apa, sudah biasa, he was the first man who broke my heart so don't worry guys, none will broke me the way he does.. walaupun akhirnya kami kembali chatting seperti biasa. Tapi ada luka yang selalu kembali terbuka setiap kali 'perang' ini terjadi. Luka yang dimulai belasan tahun lalu. Luka yang datang akibat absennya dirinya, yang kerap kali diam setiap saya pulang membawa a pocket full of stories.

Memang ya benar kata orang, kalau anak mau ajak kita bicara, sesibuk apapun kita, harus mau mendengarkan. Karena akan ada masa di mana mereka tidak mau lagi cerita apapun ke kita, bahkan untuk hal paling krusial sekalipun dalam hidupnya.

***

People can be the source of all pain. Saya ingat bagaimana tiga puluh hari pertama self isolation saya begitu bahagia, karena terhindar dari interaksi yang tidak perlu, hanya berinteraksi dengan orang-orang yang saya mau. Lalu pertahanan tersebut hancur karena pemerintah memberi pengumuman larangan mudik, yang kemudian terselamatkan dengan hadirnya tetangga walau singkat.

Bahagia, sedih, bahagia lagi, sedih lagi, setelah saya ingat kembali semua itu asalnya ya dari orang. Ada orang yang bikin sangat bahagia, lalu bisa jadi orang itu juga yang bikin marah dan kesal sekali. Makanya saya sangat mafhum kenapa ada orang-orang yang memilih hidup sendirian dan terhindar dari drama sosial.

Tapi budaya ketimuran kita tidak memungkinkan saya atau siapapun warga negeri ini yang masih memiliki adab untuk hidup sendirian dan jauh dari semua orang. Terlebih jika beragama Islam, yang jelas-jelas penyempurnaan separuh agamanya adalah dengan menikah. Mau tidak mau ya lebih baik menikah. Menjalani hidup dengan orang lain yang penuh dengan ego dan hantunya sendiri.

Untuk itu saya kembali berpikir (lagi), betapa penting peran seorang bapak untuk anak-anaknya. Bukan cuma untuk mencari nafkah, tapi untuk mendampingi psikologi si anak. Ibu bisa jadi adalah sekolah pertama, dan yang paling disalahkan kalau anaknya kenapa-kenapa. Padahal peran bapak juga sangat krusial untuk menjaga kestabilan emosi, membagi wisdom, membagi ilmu-ilmu kehidupan, ketika ibu terlalu sibuk dengan hal-hal keduniaan seperti makanan, asupan gizi, gaya rambut, pendidikan, dll dll.

Kelak jika waktunya tiba, saya tidak lagi ingin memilih pasangan hanya karena I had a crush for four years on him. Alasannya harus lebih tinggi dari itu. Karena ini tentang tanggung jawab, tentang memiliki visi masa depan,. kita bisa pilih pasangan kita siapapun, tapi anak tidak bisa pilih siapa bapaknya. Kasian kalau dia punya bapak ganteng doang tapi tidak pernah hadir di rumah..

At this point of life, I no longer looking for a guy who can be a brother figure to me.. it's no longer about me now. Ternyata dulu saya pernah merasa menjadi pusat edar semesta, sekarang meski malu mengakuinya, tapi saya harus berhenti berpikir bahwa ini semua adalah tentang saya.

***
"How can I try to explain? 'Cause when I do he turns away again
It's always been the same, same old storyFrom the moment I could talk I was ordered to listenNow there's a way and I know that I have to go awayI know I have to go"


***
Bogor, 28 Mei 2020
And don't cook while you were angry. If you're angry and have to cook, you only have two choices; don't cook, or don't angry.
My opor taste like ocean today. tapi tetep habis.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2