Skip to main content

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko karena ada dua Yayuk di angkatan kita. Karena orang malas ribet, jadilah disingkat dengan YuDjang. Karena sok asik, sebagian manggil dia dengan Yujeng. Apapun panggilannya, dia tak pernah marah. Dia jarang sekali marah. Kalau bicara lembut sekali tuturnya. Suaranya kecil tapi tegas. Dia tidak pernah menggunakan nada tinggi, kalau tertawa pun santun sekali.

Oh betapa tidak ada memori buruk tentangnya. Bagiku, dia adalah sosok yang tidak pernah menyakiti perasaanku, tidak bahkan ketika kita berada dalam satu divisi organisasi yang sama yang kemungkinan clash nya tinggi.

8 Mei 2020, dia berpulang. Meninggalkan kami yang menangis terisak seharian. Kepulangannya juga dengan cara yang sangat indah. Tepat di pertengahan Ramadan, yaitu tanggal 15 Ramadan, pkl 04.58.  Tiga kali berturut-turut telepon masuk dari Mega, pkl 04.38, 04.42 dan 04.44 semua tidak terangkat karena saat itu sudah masuk waktu subuh. Yang menelpon bertempat di WITA, jadi sejam lebih awal.
Pukul 05.02 aku baru tahu kabar itu., dan pukul 05.03 menelpon Mega yang langsung disambut tangis. Hanya tangis yang kita tukar dalam beberapa menit sambungan tersebut.

***

Bulan Maret 2020, Mega menelepon di siang hari. Pukul dua siang kira-kira, saat matahari lagi panas-panasnya. Mega mengawali dengan pesan singkat di whatsapp, yang cuma manggil nama dan bilang kalau mau telpon. Biasanya, ku paling malas dengan pesan semacam itu. Yang cuma manggil nama dan mau telpon. Tapi tidak kali itu. Kubalas dengan cepat, dan bilang ya bisa saja.

Mega bercerita. Perasaanku tidak enak. Langit yang tadinya panas seketika berubah gelap. Ku sedang di kamar waktu itu, berusaha untuk kerja di hari ke sekian WFH yang saat itu terasa sangat sulit.
Cerita Mega membuatku menangis siang itu. Tahu tentang kronologi deteksi sakit yang dideritanya, dan tahu betapa dia tidak ingin orang lain tahu, jadi Mega juga diam-diam memberi tahuku, dan aku sangat ingin mengontak Yayuk, tapi kucuma bisa tag dia di story instagram untuk main challenge-challenge-an cuma supaya Yayuk balas dan kubisa bertanya kabar...

Dan dari situ aku menyesal.
Banyak sih yang bikin menyesal. Aku menyesal tidak menjadi orang yang ramah. Yang bisa mengontak teman, hanya sekedar bertanya kabar. Hanya sekedar ingin tahu dia sedang melakukan apa, dan hari ini sudah ngapain aja.. baru-baru ini orang yang mengajarkanku untuk melakukan hal demikian justru anak umur dua puluh dua tahun yang masuk dengan tiba-tiba ke dalam hidupku.

Kalau saja aku memang terbiasa ramah dan bertanya kabar, pasti waktu itu tidak susah untuk ku kontak Yayuk dan bertanya apa kabar. Tidak perlu membuang waktu berminggu-minggu hanya untuk supaya dia tahu kalau aku sudah tahu. Pun ketika akhirnya dia sudah menerima bahwa aku tahu, dan mau mengajakku untuk video call untuk terakhir kalinya, aku menyesal kenapa setelah itu tidak lebih rajin lagi mengajaknya berbicara. Aku terlalu takut meninggalkan beban berupa pesan yang harus dibalas untuknya. Aku ingin sekali membelikan dia sesuatu tapi takut salah, karena makanan sudah jelas dia akan sangat terbatas pilihannya. Jika benda aku ingin belikan bunga tapi takut salah sangka. Aku ingin belikan hadiah tapi terus kutunda-tunda hingga tidak ada lagi waktu...

Yayuk kemudian pergi dengan indah. Sewaktu kita video call, terlihat tirus sekali wajahnya, pucat dan penuh rasa sakit. Kami menahan tangis saat itu, dan ketika koneksinya terputus menyisakan kami bertiga, Nisa langsung menitikkan air mata yang buru-buru dia hapus ketika koneksi Yayuk sudah kembali normal. Tapi ketika dia berpulang, wajahnya kembali segar. Dia tersenyum, dan pipinya terisi lagi. Chubby seperti sedia kala..

Ya, itulah bukti betapa dia adalah orang baik.

Tapi..
Apa sebetulnya orang baik itu?
Banyak orang berlomba menghapal Al-Quran, solat taraweh 23 rakaat, pergi umroh bolak balik, tapi apa sebetulnya definisi orang baik itu?

Dari Yayuk aku mendapat jawaban.
Sejatinya hubungan yang patut kita pelihara adalah hubungan vertikal dan horizontal. Kita mungkin terlalu terjebak menjadikan hubungan vertikal sebagai standar kebaikan. Oh dia orang baik ketika sudah menutup semua bagian tubuh dengan kain panjang, sebagai salah satu pemenuhan kriteria yang disyaratkan dalam Al-Quran. Atau dia adalah orang baik ketika sudah hapal sekian juz dalam Al-Quran, atau rajin solat lima waktu, tarawehnya pun panjang.. Padahal itu hubungan vertikal yang tidak ada urusannya sama sekali dengan manusia. Tuhan punya standar-Nya sendiri dalam menakar keimanan seseorang. Takaran itu didasarkan oleh kemampuan masing-masing yang hanya diri sendiri yang tahu. Tidak ada urusannya dengan penilaian manusia.

Yang menjadi penilaian kita adalah ketika hubungan horizontalnya terjaga.
Lisannya terjaga, tidak mudah menuduh orang lain yang tidak-tidak. Tidak menyakiti hati orang lain, apalagi di depan umum. Tidak berbuat baik lalu mengungkit-ungkit kebaikan itu sehingga orang yang dikasih perlakuan baik itu merasa berhutang padanya.,

Sebuah pembicaraan dengan Pak Iskandar Waworuntu pada 5 Mei lalu menyambung teoriku bahwa hidup itu akan lancar rezekinya jika tidak ada pihak yang disakiti. Aku masih terpaku pada hubungan sesama manusia, tapi Pak Is lebih luas lagi.. terhadap Bumi dan mikroorganisme dalam tubuh juga kita tidak boleh dzolim. Dzolim pada mereka, akan mendapat kutukan mereka, dan disitulah bermunculan sumber ketidak bahagiaan.

Mungkin definisi orang baik untuk kita perjuangkan adalah dengan menjadi baik pada sesama makhluk hidup. Manusia, mikroorganisme, hewan, tumbuhan, dan termasuk partikel-partikel penyusun benda mati yang beresonansi satu sama lain pun. Memang susah untuk menjadi orang baik apalagi kalau dulunya dikenal galak dan judes. Namanya merubah image alias rebranding ya pasti tidak mudah. Tapi patut dicoba.

Aku ingin nanti meninggalnya seperti Yayuk, mudah, cepat, dan indah. Dia tidak suka merepotkan banyak orang, tetapi orang suka direpotin sama nya.


***
Bogor, 9 Mei 2020
Menyematkan gelar itu di depan namanya, membuat kejadian dua hari ini semakin nyata. Kemarin ku ijin dari kantor, Cika dan Opan bahkan sampai cuti. Hari ini pun ku cuma bisa bikin klapertaart, tanpa bisa lakukan hal produktif lain. Tapi aku bersyukur dikelilingi oleh orang-orang baik. Yang mau bertanya kabarku, yang mau meninggalkan kalimat baik untuk Yayuk.. kata Basa dia punya senyum di matanya.. itu benar. Atau orang-orang yang sekedar menyampaikan turut berduka. Ternyata kalimat sederhana itu besar sekali maknanya..
Meski aku masih susah menjawab pertanyaan semisal 'siapa yang meninggal'...
karena susah jawabnya,
Susah jawabnya.

Comments

Post a comment

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert