Skip to main content

Catatan Harian, jangan baca kalau gampang bosan. Judulnya; my kind of 'just another Tuesday'. Klasik ya. Tapi Aku Suka.

"Aku sayang kamu. Soal ini kita bahas besok pagi. Sekarang aku capek, badanku juga lagi ga enak. Aku tahu kamu juga lagi banyak pikiran. Selamat malam, sayang"
Ponsel ditutup.

Tunggu dulu, tentu itu bukan ceritaku.
Ceritaku?
Panjaang kurunut dari awal kubangun tidur.

***

Hari ini berawal dengan baik sekali. Berhasil bangun tepat pukul tiga, sedikit mencuri-curi waktu untuk memejamkan mata semenit-dua menit bablas lima belas menit tapi tetap berhasil bangun, masak, berwudhu, dan menjalankan serangkaian ibadah sahur sampai ke subuh. Semua lengkap tanpa terlewat. Begitu saja kusudah bahagia. Lalu kuputuskan untuk memberesi rumah yang sudah semakin mirip kapal pecah. Mengambil sapu dan gagang pel, mulai mencumbui setiap sudut di pagi yang teramat syahdu. Hatiku ringan sekali pagi itu, sesekali berbisik Ya Allah, semoga bapak tukang rumput datang hari ini.

Ku sapa tetangga yang sedang mentafakuri ikan-ikan kesayangannya. Memintanya membukakan pagar yang masih di gembok, dan melenggang masuk tanpa tahu malu. Sedikit melepas rindu kepada ikan-ikan yang berenang, sampai kemudian..

"Eh itu jambu udah mateng tuh"
"Oiya,."
"Ada mangga juga.."
"Emang bakal buah ya mangga?"
"Iyalah.. itu ada bunganya"
"Iya bunga kan kalau hujan jadi gugur.."
",,,"

Percakapan nir faedah itu berakhir dengan sebuah petikan jambu yang masih dibungkus plastik. Mulus tanpa cela. Kupegang lembutnya kulit jambu, yang sudah agak lembek tanda sedikit matang. Tingkat kematangan yang pas bagiku yang kurang suka manis karena takut kalah. 

Kupulang kembali ke rumah sembari menenteng sebiji jambu. Buat buka puasa, gumamku pelan. Sebelum menutup pagar tetangga, tak lupa kuberteriak untuk membaca pesan yang kutinggalkan di whatsapp.

Pagi ini memang ku berniat membuatkan bekal untuk adik tetangga, entah untuk sarapannya atau makan siangnya, tapi rasanya semangat aja berpikir bahwa kubisa bangun pagi, bebersih rumah, lantas menyiapkan bekal sebelum melepas berangkat kerja. Terasa sangat domestik.. sangat eksotis... walau kutahu.. ini mungkin hanya bertahan satu hari. Tiga lah paling lama.

Tidak lama kemudian doa yang tadi pagi kubisiki terkabul.
"Samlekum!!" teriak bapak tukang rumput. Aku yang baru menyalakan kompor langsung buru-buru ke depan,
"Masuk aja Paaak" teriakku dari dalam,
"Iyaa urus yang depan dulu" sahutnya tak kalah berteriak. Baiklah memang kita di sini suka berteriak-teriak.

Ku teruskan memanaskan roti maryam, menaburi dengan gula halus, menyimpannya di wadah pink, dan tersenyum bahagia.
Adik tetangga sudah siap dengan motornya, hendak berangkat kerja dengan cerah tak kalah ceria.
Semua orang ceria.

Sampai tiba waktunya tetangga juga yang berangkat, lalu rumah kembali sepi.
Ada suara air, dan tukang-tukang yang sedang bekerja dengan penuh berisik semangat.
Bapak tukang sudah selesai menunaikan tugasnya, dia pamit pulang setelah mengambil uang bayaran pagi ini.
Aku masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, dan kembali berselimut.
Membuka laptop dan mulai bekerja dari kasur.

Siang ini akan ada lagi diskusi online dengan narasumber yang sudah lama kutunggu-tunggu. Sosok yang kukagumi dari jauh, padahal selama ini hanya tahu namanya saja tanpa pernah benar-benar lihat orangnya seperti apa.

Diskusi berjalan lancar, bahkan ketika sinyal narasumber tersendat, aku tidak lagi panik seperti waktu awal-awal adakan pentas daring yang ditonton dua puluhan orang. Aku sudah tahu apa yang harus dilakukan, tetap santai dan memanuver pembicaraan. Tidak panik itu adalah rejeki, tidak semua orang bisa punya itu.

Diskusi ditutup dengan ceria, bertiga sebagai penyelenggara mengadakan briefing tertutup, hanya antara kita bertiga dengan percakapan yang hanya kita yang tahu.

Lepas solat ashar yang terlambat, kubuat juice dari jambu yang dipetik tetangga pagi tadi. Wah ini ya rasanya bisa makan buah dari hasil pekarangan sendiri. Pantas saja Pak Is, begitu panggilan kami pada narasumber kami tadi, betah tinggal di Yogya, mengelola lahan tiga hektar di atas perbukitan, dan makan makanan dari hasil tanaman sendiri. Padahal beliau ini lebih Jakarta dari orang Jakarta, dan lebih Indonesia dari Orang Indonesia. Keturunan Manado-Inggris pencampuran Katolik-Jewish yang kini menjadi Muslim taat yang hanya mau kembali ke desa, menolak tinggal di kota dan hanya patuh pada makanan dari alam, tanpa pemrosesan apapun.

Aku suka.

Juice yang kubuat menjadi lebih dari setengah gelas. Biasanya kalau berlebih begini suka kutawari ke adik tetangga. Tapi daripada demikian mending kubuat juice melon, melon yang dikasih sama abang sayur tadi pagi, hasil mengganti semangka busuk yang kubeli tempo hari. Jadi ku blender lagi juice melon, dan menuangkan semuanya di tumblr.

"Ini gw bikin jus jambu dan melon, tapi yang jambu ga gw bagi ya. Buat lu yang melon aja." pesanku melalui pesan singkat ke adik tetangga. Dia menanggapi hanya dengan tertawa.

Lalu tragedi bermunculan.
Mulai dari dia yang datang dengan bahagia, lalu panik karena hp nya hilang padahal ternyata ketinggalan di supermarket, kunci rumah yang ketinggalan di dalam rumah jadi tidak bisa masuk, lalu bahagia lagi karena ternyata hp nya disimpen sama pegawai ganteng di supermarket, lalu sedih lagi karena dia tetap tidak bisa masuk rumah dan terpaksa mengungsi di rumah ku dan mandi dan makan di rumahku, lalu mati lampu, lumayan lama, dan haha hihi lainnya sampai akhirnya lampu menyala dan kuharus menepati janji video call dengan NUR LAYLA DIDIPU yang harus kusebut namanya besar-besar karena dia.. hahah.. aih kumalu lah. Hai Nur, I know you're here. Thank you for being  here, I love you MUAH!!

Jadi adik tetangga kusuruh masak mie lemonilo sendiri, biar dia tetap makan tapi kutinggal video call.

Pembahasan yang tidak jauh dari 'hai apa kabar' dan berakhir dengan gelak tawa menertawai diri sendiri yang ternyata sudah tidak muda lagi.
Dua setengah jam kemudian, video chat ditutup, satu persoalan tentang hati selesai, kutengok wajah adik tetangga.. Pucat!!

Gawat ni anak apa kayak tinkerbell yang kalau gak diperhatiin langsung lemes..
Kusuruh rebahan dia gak mau. Kuberesi kasur biar dia renggangin kaki, gak mau.
Gak tahunya..

Merepet tentang lelaki yang sedang dekat dengannya. Lelaki itu marah karena belakangan merasa dicuekin. Dicuekinnya karena adik tetangga kalau malam lebih banyak menghabiskan waktu samaku ketimbang samanya. Kudengar semua keluh nya, yang berentet panjang kayak commuterline Jatinegara. Di akhir, kusuruh dia balas chatnya, dengan kalimat yang kutulis di bagian pembuka postingan ini.

Begitulah.. my kind of just another tuesday, yang teramat membahagiakan.
Aku suka,
Walau sebetulnya belum sampai di situ.
Tetangga pulang setelah menembus hujan deras, kusuruh adiknya tawarkan coklat hangat, dia menerima. Lalu muncul satu-dua percakapan, seperti percakapan rutin malam antara jam setengah sebelas sampai jam dua belas, sebelum kemudian dia menyerahkan sebuah buku.
Buku berat, yang berfilosofis. Yang nampaknya masih berkaitan dengan bahasan kami sore tadi.

Tentu ini bukan kebetulan.
Siapa lagi yang merencanakan kalau bukan Sang Maha Merencana, Sang Maha Rapi dan Maha Teliti.
I Love You, Ya Allah..
I am grateful for today..
Walau sejatinya aku selalu takut setiap kali terlalu bahagia begini..
Takut kalau-kalau sebentar lagi akan terenggut lagi.
Bukannya mau negative thinking, tapi itu belajar dari pengalaman.

Yasudahlah.
Toh memang begitu jalan hidup kita, seperti yang ditulis di Surah An-Nashr.
Ups and downs, ease and hardship, berjalin berkelindan tanpa kesudahan.
Karena jika selesai, maka selesailah tugas kita di muka Bumi.

***
Bogor, 5 Mei 2020
Tapi ditulis 6 Mei 2020 karena sudah masuk pukul 00.50, tapi ga apa anggap saja ini tulisan 5 Mei, untuk #31HariMenulis

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …