Skip to main content

Attitude and Dignity

Sejak kuliah saya memang lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang usianya jauh lebih tua. Ada yang beda dua tahun, lima tahun, bahkan yang seusia mama saya pun ada. Sampai di dunia kerja pun begitu. Orang-orang yang sehari-hari saya temui, hampir semuanya lebih tua dari saya, dan saya hormati itu.

Awalnya, saya pikir, chill aja gitu dengan mereka. Namun lambat laun saya belajar, bahwa meskipun age is just number, tetap ada boundaries yang harus dihormati antara saya dan mereka. Terlampau dekat hingga mencurhati segala hal pun tak baik. Terlalu menjaga jarak dan membatasi diri juga tidak baik. Dalam hitungan tahun baru saya bisa memahami cara kerja hubungan antar-generasi seperti ini.

***

Semesta itu selalu memberi pelajaran pada kita, melalui orang-orang yang kita temui. Setidak-tidaknya, mereka mengajari kita tentang cara dunia bekerja. Tentang kehidupan nyata, memahami arti dibalik kata yang tidak tersampaikan, dan mengerti makna dalam sebuah kerut kening. Sebetulnya kita mampu mengartikan bahasa psikologis meski tanpa kata. Hanya saja, tidak semua orang mau. Ada ego dan dinding yang tinggi, yang hanya bisa dirobohkan dengan kasih sayang sajalah yang bisa mengartikan sebuah "gpp".

In time of Covid19, hari yang saya lalui selalu penuh dengan emosi. Senang yang meluap, atau sedih yang sangat dalam. Pernah saya menangis semalaman karena adanya larangan mudik dari pemerintah, dua hari kemudian saya bahagia seperti orang yang baru dapat kerjaan karena berkenalan dengan tetangga baru. (Gak bisa dibilang baru, karena kita tetanggaan sudah dua tahun). Kemudian setelah bahagia yang melegakan itu, saya kembali dibuat sedih yang sangat sedih.. saking sedihnya sampai saya kembali menangis dari subuh sampai isya, karena kepergian seorang sahabat.

Dan dari semua itu, satu hal yang saya pegang teguh, adalah bagaimana respon saya terhadap semua situasi, dan bagaimana respon itu tidak menyakiti hati siapapun.

Mungkin ada saat di mana saya kesal dengan ucapan seseorang, atau sekedar kesal dengan postingan orang asing di linimasa. Lalu saya ingin merespon dan berujar dengan sama kasar dan merendahkannya. Sebelum kemudian saya ingat lagi, untuk apa.. untuk apa menyakiti perasaan orang hanya karena kita merasa sakit hati? Memangnya kalau kita sakit, dia juga sakit, itu akan bikin kita sembuh?

Attitude (sikap) itu erat sekali hubungannya dengan dignity (harga diri). Sedekat apapun kita dengan seseorang, jangan jadikan alasan untuk bisa bersikap seenaknya. Menghilangkan batas, hingga mengaburkan rasa hormat. Semesta ini tidak bergulir karenamu, juga tidak beredar mengelilingimu. Berhentilah berpikir bahwa dunia ini semua tentangmu. Kurang lebih itu mantra yang sering saya bisikkan dalam hati, sebelum tidur.

Karena harga diri, jika sudah terinjak, susah lagi dikembalikannya. Perempuan harus punya harga yang tinggi untuk dirinya, karena mudah bagi mereka diacuh dan diremehkan oleh para laki-laki. Seringkali kita mendengar, pelecehan yang terjadi pada perempuan, atau bagaimana mereka dipandang sebelah mata yang seolah-olah tidak bisa apa-apa. Padahal itu adalah hubungan sebab-akibat. Makanya sebelum terinjak, dianggap remeh, apalagi dilecehkan, perempuan harus bisa menjaga sikap.

Jangan terlampau senang ketika sedang bahagia, jangan terlampau sedih ketika sedang berduka. Setidaknya tidak di depan orang.

Simpan saja semua untuk dirimu sendiri, karena memang sudah begitu semestinya cara kerja seorang hati perempuan. Konon katanya hati perempuan sedalam samudera, tapi kok apa-apa sedikit dicurhatin dan dikeluhin ke manusia..

***
Bogor, 19 Mei 2020
Not just another Tuesday for me, karena Tuesday kali ini spesyel sekali. Online training pesertanya melebihi 100 orang, yang hadir lebih dari 80 orang. Semua antusias, bersemangat, dan bahagia. Buatku bahagia juga meski sebentar lagi lebaran dan kurindu dua anak kecil yang sudah gak kecil lagi itu tapi masih kupanggil-panggil anak kecil.
Dan aku semakin yakin, bahwa peranku adalah memang dibalik layar. Kusuka peran itu. Kutidak lagi berpikir bahwa ku akan memimpin suatu hari, walau jiwa kepemimpinanku kental sekali. Kenapa? Karena cara memimpinku akan berbeda. Caraku merubah suatu keputusan yang berlaku untuk umum, bukan dengan ku berdiri di panggung dan menerima semua pujian dan cacian. Tapi melalui bisik pillow talk, yang tidak akan ada yang tahu kalau pemikiran itu datangnya dari ku.
Atau membuat bahagia karyawan-orang-staff you name it.. dari semangkok sup hangat pagi hari, yang bikin boss nya good mood, sehingga semua orang jadi good mood.

Bonus foto pagi ini, selfie sebelum online training yang menggembirakan
karna kulagi senang, jadi tambah deh


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …