Skip to main content

This blog has turned into daily journal

Because if I don’t post for three days in a row, just assume that I’m dead and you should call somebody near my house to check on me because my neighbors probably won’t smell the stink because my body is hiding in my bedroom which is pretty isolated.

Anyhow,
Yesterday I woke up with fear. Literally in fear because of that sounds from the sky even if I didn’t hear it my self. But what’s on twitter are pretty convincing that I spent the first one hour of my second wake up (I woke up twice everyday, first to pray subh and second to well.. life) scrolling twitter.

Actually the day before yesterday was bright. So bright that I went to sleep happy. I thank God for everything, thank Him for the light heart that I had.. and I wouldn’t ask for anything but a loving husband who will love me as much as I love him and love You. But then I woke up the other day, feeling completely different.

So then,
I follow life as it goes,
Wake up,
Do my bed,
Brew my coffee
Sip it slowly
Cook for lunch
Gardening a little,
And took a nap.
A very long nap, which I conclude I shouldn’t turn the AC on for nap or else I wouldn’t wake up for the next three hours. It almost maghrib when I woke up.

Crystal clear, I wasn’t sleepy until ten pm and that’s when I decided to clean the house. I mop the floor, clean the kitchen, took a shower (at almost midnight) and went to bed.

So that lead us to today:
Woke up on a clean floor has brought my cheerfulness back. 
I’m happy as happy as I realised its Sunday, meaning the neighbor’s tukang won’t be there up on their roof, so I can actually taste the Sun without my hijab on.
With my new subscription on bayyinah tv, I watched a couple of courses, and then checked on Story Night found the latest one (one that I’ve been waiting since yesterday), I play em on,
Brew my coffee
Fry donut,
Sip it slowly
And enjoy my very slow morning before I decided to do the ironing.
Setrikaan setinggi sindoro-sumbing is half way done when I write this post around 17.39. 
But I’m happy because sweat is all over my body, now that who needs gym if you procrastinate setrikaan for so long that the piles goes up and up. 
After a long hours of standing,
Now I decided to sit, brew a ginger, fry another donut, and wait for it until they’re less hot.

It’s a beautiful day.
I know I’ll survive today.
Maybe I’ll survive tomorrow again.
Just please don’t make me cry. I feel like killing my self everytime I cry
***
Bogor, April 13th 2020
Honey ginger and lemon for the afternoon

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …