Skip to main content

The Reality of Minimalism, during Quarantine

Day 23 of quarantine, dan jiwa minimalist ku bergejolak. Ini ternyata praktek level lebih advance lagi, ketika semua serba terbatas.

Ternyata,,. Ni aku baru paham, ternyata yang sulit itu bukan berhenti belanja, berhenti makan, berhenti jajan, tapi yang sulit itu mengendalikan keinginan.
Ingin ini ingin itu banyak sekali (plis jangan sambil nyanyi), itulah yang jadi sebab kenapa kita tidak bahagia.

Dalam 23 hari ini.. well.. 20 hari karna tiga hari pertama ku masih struggling, ku sangat sangat berlatih untuk mengendalikan keinginan. Dan hasilnya? Wow, ku gak jajan sama sekali selama 20 hari. Gak go food karna makan apa aja yang ada di kulkas dan dari yang dibawa tukang sayur. Jajanan pun hanya mengandalkan stok yang kubeli sepuluh hari sekali (terakhir belanja Sabtu lalu). Padahaaaal kebiasaanku itu dulu, setiap kali beres belanja bulanan, dengan stok makanan yang menimbun, nyampe rumah langsung buka gofood order pizza, burger, atau apalah pokoknya jajan.

Ternyata bisa loh gak jajan itu., ternyata jajan itu bukan kebutuhan karena sebetulnya tergantikan sifatnya, asal bisa mengendalikan keinginan.

Malam ini kupingin makan manis, sebetulnya dari kemarin sih, dan mau bikin klapertaart. Berhubung sekali bikin stok nya bisa buat tujuh hari kemarin kucoba beli kelapa di tukang es kelapa di pertigaan depan. Ternyata kelapanya kosong. Mesti jalan ke tukang kelapa lain yang lumayan jauh. Kemarin itu rasanya jalan segitu aja udah capek, jadi kuniatin hari ini beli kelapa. Eh gataunya sore hujan.. mager lagi.

Nah disitu muncullah benih benih keinginan. Bisikan-bisikan menggoda serupa “order Jco aja.. beli gofood aja..”

Tapi sekuat tenaga ku tolak. Aku ga berani bahkan sekedar ingin pun ga berani, soalnya ku gak tahu apakah Jco buka atau tidak. Pun kalopun buka, ongkir gofoodnya pasti seharga seperempat donat, trus belinya mesti selusin atau minimal setengah lusin padahal yg kumakan cuma dua. Kalo beli dua harga donat sama ongkir mahalan ongkir. Itu kalo buka. Kalau nggak? Duh kecewanya.. nahan keinginan sambil mengendalikan iler itu susah bo., jadi mending gausah pingin sama sekali. 

Sekuat tenaga kualihkan pikiranku. Konsentrasi ke apa yang kiranya bisa menggantikan rasa lumer coklat donat Jco..
Hmm..
Di freezer masih ada roti gandum (iya roti gandum kupisahin dua-dua, masukin wadah dan taro di freezer sehari setelah dibeli, biar bisa awet sebulanan). Roti gandum ku defrost, kuambil coklat batangan, potong kecil, di kulkas juga masih ada sisa kitkat yang baru kumakan separonya (kebiasaanku tuh gitu pingin doang, makan secuil trus udah ditaro). Kitkat kuambil, kumasukin ke wadah bareng coklat batang, kasih mentega dikit, kucairin.

Kan intinya pingin coklat lumer, pingin yg manis-manis, dan hangat.

Setelah coklat cair, kuambil roti yang sudah di defrost, olesin coklat, campur selai kacang biar ada sensasi Jco nya, trus panasin teflon, panggang bentar gapake mentega. Cuma supaya jadi roti hangat.

Selesai dan kumakan dengan nikmat. Kebayang kalau misal kuturuti kemauanku, seratus ribu habis cuma untuk keinginan gini doang. Ternyata memang harus dipaksain diri kita tuh, untuk bisa memakan makanan yang ada di rumah saja.

Padahal ni kalau buka kulkas dan liat persediaan makanan, segala ada loh. Kacang, chips, tepung, coklat, bisa bikin brownies, pancake, tapi teteeep aja selama ini ku selalu jajan dan jajan terus.

Kemudian ku belajar, bahwa ternyata dengan tidak punya keinginan, kita mudah sekali dibikin bahagia. Mudah sekali untuk merasa ringan, dan gak terpaut pada apapun. Pingin ke laut saat karantina kan sengsara banget, liat rumput hijau di depan mata juga gak jadi indah karna yang diinginkan liat laut. Gak.. gak sehat begitu. Ku bahagia selama dua puluh tiga hari ini karena ku usir semua rasa ingin ingin.

Sambil terus percaya dalam hati, bahwa setelah ini akan ada cahaya lagi. Dan cahaya itu akan membawa ke pintu-pintu baru, yang masih misteri, dan tentunya, menuntun kepada Sumber Kebahagiaan, The One, The Almighty

***
Bogor, 6 April 2020
Bahagia banget hari ini habis bikin template assessor bingo challenge dan orang-orang jadi pada bernostalgia karna pertanyaan-pertanyaanku di situ. Bikin orang bahagia.. aku suka ❤️

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert