Skip to main content

The Reality of Love

Semudah itu sih Allah kasih kita perasaan suka ke seseorang. Rasa tertarik ke lawan jenis yang datang tiba-tiba seolah-olah cinta, lalu kita dibutakan oleh emosi, lantas melakukan kebodohan demi kebodohan.

Tapi semudah itu juga Allah cabut perasaan suka itu, lalu hilang tanpa bekas dan bikin kita tersadar seperti orang yang baru bangun dari hipnotis. 

Makanya jangan jumawa dengan perasaan. Ketika seseorang bilang dia sayang sama kita, jangan lalu berpikir dia akan selamanya seperti itu dan take it for granted. Masalahnya apapun yg ada di dunia ini semua punya batas waktu, termasuk perasaan dia ke kita.

Pada satu titik bahkan pasangan menikahpun harus menyerah pada logika. Terus menerus memperjuangkan cinta juga bullshit. Tidak ada orang yang selamanya saling cinta satu sama lain. Karena pada satu titik mereka akan kehabisan cinta dan satu-satunya yang masih bisa bikin mereka bertahan adalah tanggung jawab yang harus diemban bersama. 

Well, that’s the reality of love I think. Ketika dua orang bertahan untuk tetap sama-sama walau tidak lagi saling cinta, tapi mengorbankan perasaan demi sesuatu yang jauh lebih besar lagi.

Makanya ku bersyukur sekali masih bisa dikasih waktu untuk membersamai diriku sendiri. Sudah lebih dari empat puluh hari dan masih akan lebih lama lagi, terlebih di Bulan Ramadan yang penuh berkah dan tanpa godaan. Jadi bisa lebih mengerti bahwa dunia memang tempatnya lelah dan sakit. Hadiah yang lebih besar ada di kehidupan yang lebih panjang lagi. Terlalu terburu-buru kalau mendamba bahagia dan cinta yang awet berkepanjangan sekarang, karena ga bakal ada. Damba secukupnya saja, bahagia secukupnya, cinta secukupnya, yang tidak sama sekali menghalangi jalan antara diri dan Rabb.

Terlebih kalau tahu manusia pasti mengecewakan. Sesempurna apapun dia terlihat pasti mengecewakan. That loving husband yang isi fee instagram hanya wajah istrinya saja, pasti molor pules pas jam sahur biarin istrinya yang masak dari jam dua pagi untuk dia yang bangun jelang imsak. Ya mau gimana.. sudah begitu fitrahnya. Kalaupun nanti ada sesekali dia yang bangun dan masak, pasti istrinya bersyukur dan dipost ke instagram. Membuat semesta raya berpikir kalau suaminya hebat mau bantu masak sahur, padahal cuma sekali dalam sebulan.

Ya begitulah.
Awalnya kumasih mendamba cinta yang indah-indah.
Lambat laun ku mendamba yang secukupnya saja. Bahagia secukupnya, sedih secukupnya. Yang penting tidak menghalangi ku dengan Rabb ku, dan tidak merebut kebahagiaan orang lain atau menyakiti siapapun.

***
Bogor, 27 April 2020
Quarantine hari ke empat puluh sekian, sudah berhenti menghitung waktu, sejak adik tetangga jadi teman mainku. Kemarin dia pulang kerja hujan-hujanan, bawain jahe merah ga pake susu. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …