Skip to main content

The perspective: Jacob and Eve

Now,

Berapa kali dalam seminggu, sebulan, atau seumur hidup, kita mencoba mengambil sudut pandang dari cerita nabi-nabi yang sudah kita dengar sejak kecil?

Ada sebuah perspektif menarik yang saya temukan di twitter, seseorang mengangkat sisi ‘lemahnya’ Hawa ketika diturunkan ke Bumi. Yaitu sejak pada saat Tuhan mengajarkan nama-nama benda dan seluruh isi semesta, Hawa tidak ada di situ. Artinya, ketika Adam dan Hawa diturunkan ke Bumi secara terpisah, Hawa benar-benar clueless. Hawa sendirian, di tanah yang asing, yang bisa saja dia salah makan tumbuhan yang beracun lalu mati..

Tapi semua sudah diatur oleh Allah, dan akhirnya mereka bertemu kembali.
Hanya saja sebelum pertemuan itu, Hawa benar-benar harus berjuang sendiri, beradaptasi, menghandle dirinya dan emosinya dengan keterbatasan pengetahuan, dan tanpa tahu arah tujuan. Kebayang gak sih se desperate apa situasi seorang perempuan yang terbiarkan sendirian begitu? Ya iya Hawa punya Allah tapi kan sendirian di planet yang belum ada penghuninya... isn’t that scary?

Padahal kalau Tuhan mau, Dia bisa saja turunkan mereka berdua sama-sama, menjalani kehidupan dari nol sama-sama. Tapi tidak., Tuhan memilih tuk memisahkan mereka.

Mungkin, dan hanya mungkin, mungkin itu agar mereka lebih bisa memaknai kualitas waktu yang mereka habiskan bersama. Bisa jadi ketika diturunkan bersamaan, sesampai di Bumi mereka langsung cekcok suami istri, dan justru jadi pertumpahan darah yang pertama karena saling menyalahkan dan tiadalah cerita anak-anak manusia.
Karena mereka dipisahkan, mereka beradaptasi dengan cara masing-masing, saling rindu, dan ketika bertemu lagi, luluh dan habis sudah semua amarah serta godaan syaitan untuk saling menyalahkan.

***
Bagaimana dengan Jacob? Jacob atau Nabi Yaqub adalah bapak dari Bani Israil. Kita tahu dia punya 12 anak, yang 10 nya ini ‘istimewa’. Keturunan nabi, berasal dari garis keturunan yang paling mulia di muka Bumi, and yet kelakuannya diabadikan di Al-Quran dengan cerita yang sangat picik.

Di situ kita mendapat persepsi bahwa, Jacob lebih sayang pada Joseph atau Yusuf alaihisalam dan saudaranya, ketimbang kepada sepuluh anaknya yang lain. Nah ini yang kusuka dari Bible, adalah bagian detil yang Allah skip di Al-Quran. Memang kalau kata Nouman Ali Khan, Al-Quran adalah guidance, garis batas, panduan, sehingga we need to skip the detail supaya tidak terdistraksi dengan apa pesan yang sebenarnya. Tapi kita masih bisa mencari tahu kalau penasaran, dalam Bible dijelaskan bahwa adik Joseph bernama Benyamin, dan mereka lahir dari Ibu yang sangat cantik bernama Raquel atau Rachel. Ah beautiful..

Anyway,
Apakah benar begitu, Jacob sebagai ayah telah berlaku pilih kasih? Padahal beliau adalah seorang nabi, dan satu-satunya cerita tentang Jacob di dalam Al-Quran adalah tentang sisi fatherhood, yang artinya hal paling penting dari dirinya untuk dipelajari umat manusia di jaman Rasulullah (yaitu sejak jaman beliau sampai akhir jaman nanti) adalah tentang teladan parenting Seorang Nabi Yaqub sebagai seorang ayah. Kok bisa beliau digambarkan dengan pilih kasih?

Bahkan ketika Nabi Yusuf dikabarkan meninggal pun, beliau menangis sampai memutih matanya, masih juga tidak bisa memberikan porsi cinta yang sama kepada anak-anaknya.

Lalu di sisi lain, Allah berulang kali menyebut bahwa harta dan anak-anak adalah ujian dan perhiasan dunia semata. Tidak bernilai jika tidak diarahkan kepada jalan yang semestinya. What(?)

Jadi ternyata, dari cerita itu kita bisa tahu bahwa anak adalah dirinya sendiri. Meskipun dia punya nasab sangat mulia, ayahnya bahkan seorang nabi, mereka dibesarkan dengan pendidikan agama yang mumpuni, tetap tidak menjamin taqwa dan iman di dalam diri mereka. And that’s how lyfe happened, some people blessed with good kids, some people got the other way around.

Beliau justru mencontohkan untuk tidak menjadi orang tua yang toxic. Yang mencintai anaknya bagaimanapun kelakuan mereka, mau bandel kayak apa juga tetap dibenarkan, beliau mencontohkan sebuah cinta yang tough, yang menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya meskipun pada akhirnya cara tersebut tidak juga bisa diterima.

Begitulah seharusnya seorang ayah. Punya prinsip dan pendirian, dan meskipun bayarannya akhirnya mahal sekali. Kesabarannya dalam menghadapi sepuluh anak yang istimewa ini, yang harus ditiru. Bukan justru ‘menyabari’ dengan membenarkan tindak tanduk mereka, justru sebaliknya.

Ketika ada kisah nabi-nabi dan orang terdahulu disebutkan di Al-Quran, saya selalu dibuat kagum dengan kedalaman perspektif yang Nouman Ali Khan atau siapapun bawa ke permukaan. Bahwa hanya dari satu kalimat percakapan yang dicuplik, bisa mencontohkan dan jadi pelajaran tentang banyak hal. Seperti bagaimana anak-anak Jacob ketika merasa ayahnya pilih kasih, ketimbang mereka bilang langsung ke ayahnya, mereka malah diskusi di belakang. Itu ghibah sekaligus sumber petaka. Api yang tadinya kecil, jadi terpantik membesar ketika didiskusikan dengan orang yang tidak tepat. Maka akibat yang ditimbulkan pun fatal sekali; berkeputusan membunuh adiknya sendiri.

Makanya kusuka sekali cerita-cerita yang biblical tuh ya begini, jadi kayak bisa relate dan bikin ber ‘OH!’ Pelan atau kencang. Seperti cerita serial LOST, duh itu endingnya mind blowing banget. Sungguh sangat biblical dengan Jacob, Benyamin, dan Christian Shepard.
Trus Once Upon a Time juga, yang ada The Book, the oblivion about our past live,. Itu aku suka.

Pun Story Night nya Nouman Ali Khan, yang suka mengutip-cuplik cerita detil dari Bible seperti cerita Moses bagian nama Ibunya Nabi Musa, yang dalam Al-Quran lagi-lagi tidak disebutkan nama hanya disebutkan bahwa hati Ibunya Nabi Musa mau seperti mau meledak tapi Allah rekatkan dengan erat supaya dia tenang ketika harus menghanyutkan bayinya. Dan di Bible, nama Ibu Nabi Musa adalah Johabeth, dalam Bahasa Hebrew, artinya Johabeth adalah hati yang direkatkan.
Subhanallah.

***
Bogor, 5 April 2020
Berhasil keluar rumah sore ini, jalan kaki pake payung di bawah gerimis, pake jumpsuit yang dulu dipakenya hanya untuk kondangan dan kerudung yang baru sekali dipake sejak tiga tahun lalu dibeli.
Ga nyangka kubisa se disiplin ini patuh sama himbauan tuk jangan keluar rumah, padahal dulu SMA ku teramat sangat rebel anaknya. Bandel banget kayak ga punya masa depan. Sekarang,., bahkan kasur aja selalu rapi pas jam kerja, ga dipake kecuali malem padahal bisa aja kerja dari kasur gitu sambil rebahan. Ga berani aja takut kelepasan., lol
I’ve changed. I’m a grown up now and am proud of it! Oh cant wait for another birthday!

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …