Skip to main content

Struck by a lightning

Liat Bu Shanti nangis tadi, aku juga pingin nangis. Akhirnya pandemi ini sampai juga dampaknya ke kami., meskipun ada jutaan orang yang lebih sedih lagi kondisinya, tapi ya bukan berarti kita pun ga boleh sedih.

Biar bagaimanapun seseorang pasti masih ada lebih beruntungnya dari orang lain, tapi ada juga bagian lebih sedihnya, intinya semua itu imbanglah dikasih sesuai kapasitas dan takaran kemampuan masing-masing. Karena Yang Memberi Ujian itu adalah Sang Maha Adil dan Bijaksana.

Ingatanku melayang ke 22 tahun lalu, saat krisis moneter merajalela. Tidak banyak sih yang aku ingat, kecuali akhirnya aku pindah sekolah dari Bogor ke Merauke, dan di sana tiap hari aku dicubitin temen-temen gara-gara jadi yang paling putih sendiri.

Rasanya buatku waktu itu, tidak ada yang berubah kecuali aku yang tadinya di Bogor main di kali, sekarang jadi di Merauke kota sepi. Kalo sekolah tadinya naik angkot bayar 50 perak, sekarang diantar jemput papa naik RX-king karna jauh banget sekolahnya. Rumah juga tadinya rumah kita kecil, cuma dua kamar, sekarang gedee banget. Walau cuma tiga kamar tapi ruang tamu, ruang tengah dan ruang makan itu luas banget. Ukurannya bisa tiga kali rumah di Bogor. Belum lagi halamannya. Halaman depan ditanami bebungaan sama papa, he loves plants, halaman samping bisa buat main bola, halaman belakang ada pohon mangga. For short, rasanya malah jadi lebih enak ya kehidupannya?

Tapi itu., dari perspektif anak umur enam tahun.. baru kelas 2 SD.

Gimana mama waktu itu.. yang biasa belanja di supermarket, sekarang harus settle dengan toko-toko kecil serupa warung.. harus terpisah dari ayah ibunya, adik-kakaknya jauh sampai ujung Indonesia. Meninggalkan semua teman dan rekanan, mesin jahit dan hobi, semua ditinggal demi memasuki babak baru. All those changes, ditambah anaknya bawel ga betah di rumah, maunya maen sama anak tetangga, yang tetangganya itu orang Papua asli yang makan ulat sagu, mama pasti punya ketakutan anaknya tertular yang macam-macam apalagi dia tahu anaknya gampang sakit, dan anaknya gamau dilarang kalo dilarang ngamuk... ya Tuhan... all those rages, are just make sense right now. 

And then there were 2008. Again, I knew nothing. Yang kutahu aku lolos debat nasional, dapat uang berlimpah dari sana sini, dan satu-satunya masalah hidupku adalah aku ga bisa dapat nilai 100 di try out Fisika. Padahal Kimia dan Matematika sebagai simulasi ujian nasional, ku bisa dapat 100. Didn’t know how my father lost his job again, padahal aku harus masuk kuliah. Yang kutahu setelahnya adalah aku ga dibolehin masuk HI dengan sejuta alasan, yang padahal kutahu alasan paling kuatnya adalah karena papa gak punya cukup uang untuk biaya masuknya yang waktu itu sampai 70jt (UI, jalur umum).

Lalu aku harus settle kuliah di Agronomy yang jauh lebih murah,. Kuliah dengan setengah hati, gak jarang merutuk diri. Selalu mengeluh kenapa masuknya agronomy.. tanpa tahu.. Ya Allah aku nangis.. tanpa tahu betapa sulitnya perekonomian saat itu. I was selfish, and stupid, and know NOTHING about life..

Lalu aku beranjak dewasa.. mulai bisa punya penghasilan sendiri, mama papa perlahan melepas tanpa pernah mau kalau dibelikan apa-apa. Yasudah kujuga gak mau sok manis, kalau pembelianku selalu ditolak, pemberianku pun sama, ya mending kusimpan sendiri. Untuk ku foya-foyakan juga tidak, karena ingin pun tidak. Buat apa, fikirku. Tapi ditabungpun tidak.....

Sampai pandemi ini mulai mempengaruhi bisnis kita.. mempengaruhi mental satu sama lain. Dan.. yang bikin terharunya itu ketika semua saling menguatkan dengan kalimat-kalimat yang meyakinkan. I was lost for a moment there.. di meeting yang ku berusaha jadi sangat positif dengan membawa ide-ide dan gagasan baru untuk siasati ini semua but deep down.. like deep deep down.. a realisation struck me hard.. really hard like a lightning in the middle of the field.

This isn’t just about me now.
Its about everyone around me. I can’t be as selfish as I was in 2008 or 1998. I’m no longer think about only me., there are people now.. 

No I cant continue..
*** 
Bogor, April 8th

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …