Skip to main content

Sebuah curhatan di tengah pandemi

Begitulah kurang lebih perasaan saya sesaat setelah online meeting dibubarkan. Bukan.. ini bukan karena saya takut kehilangan pekerjaan, atau takut kehilangan pemasukan, karena saya selalu percaya Tuhan saya Maha Kaya dan Maha Bijaksana. Jika saya dimampukan untuk kehilangan sesuatu, itu karena di saat yang bersamaan pun akan Dia hadirkan hal lain sebagai pengganti. Kalau dilihat-lihat, sebetulnya hidup ini selalu imbang. Kitanya saja yang terlalu banyak angan.

Ini bukan tentang saya. Sedih malam ini, lebih kepada rasa yang sangat dalam yang saya rasakan terhadap situasi yang terjadi belakangan. Orang-orang kehilangan pekerjaan, ribuan orang di PHK, ribuan orang bahkan kehilangan nyawa. Dalam sekejap, kita bisa lihat angka-angka dalam grafik merangkak naik, dan itu bukan IHSG tapi nyawa yang melayang akibat pandemi. Ini mengerikan. Betul-betul mengerikan. Untuk sesaat tangis saya semakin deras ketika mengingat Eyang dan Nenek di rumah, menunggu-nunggu kedatangan saya, yang selalu saya tunda.. selalu.. :(

Sedikit rasa takut terselip bagaimana jika... tapi saya tidak berani meneruskan pikiran itu. Saya terlalu takut patah hati di tengah pandemi ini..

Itulah yang sedang mengintai umat manusia saat ini; rasa takut. Rasa takut akan kehilangan banyak hal, tetapi mungkin tidak takut kehilangan koneksi pada-Nya. Saya jadi teringat doa saya kemarin, ketika seharian kemarin saya benar-benar kehilangan motivasi. Tidur pun bahkan tanpa cuci muka dan sikat gigi (let alone skincare), dan saya berdoa supaya saya bisa dapat motivasi lagi. Dan ini lah yang terjadi. Perubahan demi perubahan terpampang nyata, bahkan meninggalnya seorang penyanyi terkemuka ikut menambah duka lara sore hari di Rabu yang sendu ini.

Bahkan, kawan saya Basa, yang sejak awal masa karantina ini selalu bertukar sapa dengan saya saling bertukar meme, saling tag di postingan-postingan nyeleneh, sore ini bertutur lara dalam postingan tumblr nya. Dia pun.. hari ini, kehilangan salah seorang sanak saudara yang tidak akan pernah dia temui lagi bahkan ketika pulang nanti.

And that could happen to all of us.. every single one of us. Benar-benar pandemi ini mengajarkan tentang arti penting waktu.. yang membuat saya semakin ingin pulang menengok Eyang dan Nenek.. merangkul tubuh  mereka, meminta maaf in person sampai sekarang belum bisa memberikan yang mereka ingin-inginkan.., 

Tapi itu satu hal..
Hal lain adalah soalan bergerak maju. Bukan lagi dengan kata-kata motivasi semisal 'this will end' whatsoever, atau pengingat-pengingat tentang miracle yang dikutip dari meme instagram., tidak. BUKAN soal itu. Saya yakin kita semua well aware dengan kata-kata bijak itu. Bahkan ustadz-ustadz pun dalam ceramahnya sekarang sudah bukan lagi membicarakan tentang betapa kita harus kuat, tabah, sabar, dan tawakal dalam menghadapi ini semua. Tidak. Yang mereka bicarakan sekarang adalah tentang koneksi, membedah kata demi kata di dalam kitab suci, untuk kita telaah maknanya dan diterapkan di menit berikutnya. 

Taktis
Kita semua butuh langkah taktis. Untuk bisa bertahan hidup, untuk bisa tetap memberi susu pada anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Dan itu tidak cukup hanya dengan keyakinan saja. Yakin yang tidak diiringi dengan rencana strategis dan terorganisir, hanyalah omongan Mario Teguh belaka.

Lalu saya bangkit. Mengangkat kepala dari bawah bantal yang sudah basah seperti habis ketumpahan teh kotak. Menuju dapur, mulai mengeluarkan ayam ungkep yang sengaja diawetkan Sabtu lalu. Panaskan minyak, dan mulai menggoreng. Bahkan saya menangis ketika menggoreng ayam tersebut, ingat betapa banyak anak-anak di luar sana, yang mungkin malam ini hanya makan nasi pakai kecap karena orang tuanya tidak sanggup beli lauk. Setiap kali saya mencoba untuk 'be present' alias hadir di saat sekarang, saya selalu teringat orang-orang lain yang mungkin tidak seberuntung saya bisa bernaung di bawah atap yang kokoh, tidak kepanasan juga tidak kedinginan, selalu ada asupan gizi, protein dan vitamin yang hanya seperjangkauan tangan.. hati saya hancur jika mengingat mereka yang tidak bisa punya apa yang saya miliki sekarang..

Situasi ini tidak mudah bagi semua orang. Mungkin artis-artis yang disebut sama penulis artikel yang bikin tulisan surat terbuka untuk Cinta Laura sebagai artis-artis yang tinggal di istana dan bisa menyanyi-nyanyikan lagu imagine, tidak bisa merasakan perih yang dialami orang-orang di luar sana. Padahal belum tentu. 

Setiap orang melewati hari-hari ini dengan kesulitannya masing-masing. Mungkin si mas/mbaknya yang nulis artikel itu sudah biasa sehari gak beli wine yang diangkut oleh private jet dan ongkos kirimnya saja sudah 400 miliar tapi Johny Depp tidak. Dia hidup setiap hari dengan wine-wine itu karena itu bagi dia sama dengan kalo si mas/mbaknya beli boba., alias pengeluaran harian, dan sekarang tidak bisa lagi diakses karena lockdown. bisa jadi.

Yang jelas, sebisa mungkin saat ini kita berhenti saling menyalahkan. Kalau bisa bahkan berhenti dulu saling membenci. Coba mulai bertoleransi, karena kita butuh langkah taktis dan strategis sekarang ini.

Me?
I'll just gonna do what I do best: bikin template insta story, bikin video, dan sesekali beresin laporan in between.
Kata Dahlan Iskan kita harus move on. Harus bisa terus produktif, walau tidak bisa se melejit yang biasa. Sudah gak usah terlalu banyak mengkonsumsi berita yang menyalah-nyalahkan presiden, apalagi membanding-bandingkan dengan keberhasilan pemerintah Vietnam. Shut the fuck up udah. Setidaknya kalau kita gak bisa jadi anak muda yang memerdekakan bangsa, jangan jadi beban negara dengan terus-terusan ngeluh dan nyalahin orang. Apalagi kalo orang itu berniat baik dan cuma ngutip-ngutip dari meme yang berseliweran kayak Cinta Laura.

***
Bogor, 8 April 2020
Ini kelanjutan dari tulisan sebelumnya, and RIP Glenn Fredly, you'll be missed. Kisah kita berakhir di Januari akan terus jadi lagu kenangan yang gak akan pernah saya putar lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …