Skip to main content

Melingkar Berulang

Pernah dengar pernyataan bahwa sejarah itu berulang? History repeat themself? Rupanya bukan cuma sejarah, tapi semua hal di semesta ini membentuk lingkaran-lingkaran. Yang melingkar, dan berulang.

***
Subuh ini, saya dibuat merinding oleh video baru Nouman Ali Khan yg menjelaskan 1 ayat dari Surah Yusuf. Judul videonya Surah Yusuf Part 3, the Best of Al-Qasas. Karena di bagian akhir penjelasan, beliau menjelaskan bagaimana keterhubungan dari 3 mimpi para nabi yang ditulis di dalam Al-Quran secara seolah acak.. karena tidak tersusun dalam satu bab yg sama. Mimpi Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad, dan Nabi Yusuf, ketiganya terpisah ribuan tahun, tapi saling berhubungan satu sama lain dan membentuk lingkaran yang mengulang satu-sama-lain. Saya nangis sih begitu merasakan sendiri ketika ayat-ayat itu beresonansi dengan irama hati, dan rasa ingin membaginya ke orang lain, tapi saya tahu diri dan saya hanya bisa membatin sambil membagi link ke orang-orang yang saya cintai. Entah bagaimana perasaan Rasulullah yang menerima langsung ayat demi ayat dan membaginya ke orang-orang tercintanya, tapi justru orang yang sangat beliau cintai.. meninggal dalam keadaan belum mengakui kebenaran ayat-ayat tersebut secara lisan.

Dan seolah puncak dari semua penemuan itu, azan subuh berkumandang. Waktu sahur sudah selesai, video pun sudah tamat. Saya beranjak solat, dan setelahnya membuka mushaf.

Saya ingat kemarin baru selesai membaca Surah Al-Mu’minun. Tapi saya tidak lihat surah apa selanjutnya.. maka ketika pagi tadi saya buka.. saya tertegun. Surah An-Nur lah yang akan saya baca pagi ini.

Kembali hati saya tergetar dengan rapih dan detilnya Allah mengatur jalan pertemuan saya dengan agama ini. Karena semua bermula dari Surah Nur., dua tahun yang lalu.

Akhir 2018 ketika saya menangis sampai pagi oleh karena lisan seseorang yang kurang terjaga, dan untuk pertama kali dalam hidup, saya mendengar ceramah lewat youtube. Jangankan lewat youtube, ceramah di masjid juga terakhir bertahun-tahun lalu.

Bisa ada ceramah di timeline youtube saya tidak lain dan tidak bukan adalah karena saya sedang senang mencari tahu tentang fisika elektromagnetik. String theory yang menghubungkan seisi semesta raya dalam satu jaring laba-laba. Juga minimalism yang berhubungan juga dengan energi dan frekuensi. Saya lebih sering mendengar ceramah di TED talk, atau western minded banget lah. Makanya satu video Nouman Ali Khan bisa ikut muncul karena algoritmanya serupa.

Video itu berjudul “Allah is light upon light” yang menjelaskan entitas Allah yang dijelaskan sendiri oleh Allah di Surah Nur ayat 35. Dan Nouman Ali Khan menjelaskan ayat 35 itu dengan terperinci mendetail termasuk menjelaskan bagaimana sebuah pelita (al misbakh diterjemahkan jadi pelita di bahasa kita, tapi dijelaskan seperti lampu teplok begitu lah oleh NAK), digunakan sebagai perumpamaan hati manusia dalam ayat tersebut.

Sejak ayat itu, pencarian saya berubah haluan. Dari TED TALK jadi Bayyinah Institute. Video demi video Nouman Ali Khan saya tonton. Perjalanan yang membawa saya mengikuti kelasnya di Jakarta selama sembilan hari, plus satu hari khusus Story Night, yang saya bayar tanpa menghitung kurs dollar.

Hingga saya sampai di hari ini.. dan kembali saya bertemu ayat tersebut lagi, di pagi yang penuh air mata haru karena begitu nikmat rasanya bersendiri dengan-Nya, tapi juga sedih karena tidak bisa dibagi. Karena tipis sekali bedanya antara ingin membagi hal ini karena ingin membagi, dengan ingin membagi karena ingin menyindir,. Dan penyakit-penyakit hati lainnya yang saya takut ada jadi saya memilih tuk bagi di sini.

Melingkar, berulang.
Hidup akan selalu berputar di lingkaran yang sama. Pada satu masa lingkaran itu akan berhenti berputar, dan ketika itu tiba., sudah sebaiknya kita serap sebanyak mungkin pelajaran yang kita temui sepanjang perjalanan.

Berubah dan belajar tidak akan berhenti selama lingkarannya masih berputar.
Karena dia akan terus seperti itu, berulang-ulang.

***
Bogor, 29 April 2020
Saya sangat bahagia sekarang. Nyaman sekali dengan penerimaan kenyataan. Tentang ramadan sendirian. Dan kemungkinan akan lebaran sendirian. Tapi takut juga jika fase ini berakhir, karena sudah kepalang nyaman dan pastinya akan saya rindukan. Karena entah kapan akan terulang seperti ini lagi. Tinggal di rumah tidak perlu kemana-mana selama hampir sebulan (terakhir saya ke luar rumah tuk beli grocery adalah 9 April).
Kecuali kalo saya dapat sugar daddy yang membolehkan untuk tidak kerja tapi tetap bisa jajanin funko pop, essential oil, dan skincare beserta jajaran. HAHA.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …