Skip to main content

It's like Raijua all over again,

A warning; Maaf tulisan ini penuh keakuan. Jangan baca kalau geli dengan buku harian.

***

So I made my self a soup. A warm fish soup, dengan rasa yang khas rasa masakanku. Rasa gitu-gitu doang.
Setelah baru bisa kerja jam tiga sore, baru bisa tune in dengan laptop, jam enam kubaru bisa ke dapur dan masak. Jam setengah tujuh baru bisa makan sup dengan nasi yang cuma seperempat sedok nasi. Ga apa yang penting ada masuk.

Karena jam setengah delapan ku akan menyambut tamu online, dalam diskusi bersama orang yang terkenal. Terkenal tapi pas kemarin Mas Irwan bilang "besok tamunya Mas Nugi" trus kubilang .. "Nugi who?" Mas Irwan bilang "Nugi Nugraha" trus kubilang, who, Mas Irwan jawab lagi, "adeknya Katon Bagaskara" ooh Katon Bagaskara iya tau tau,,

Sekarang jam 09.42. Diskusi berakhir jam sembilan tadi, lantas kami bertiga lanjut berbincang.
Mata sembabku tak terlihat, karena efek kamera,
Semua berjalan lancar,
No one knows am crying the whole day.

Alhamdulillah..
Karena biar bagaimanapun, aku yakin Allah tidak sedang meninggalkanku. Itu sih yang bikin kunangis sekali kemarin. The thought of Him leaving me. I'm all alone, and I'm really really scared. I never been this sad and afraid my whole life, but the thought of Him leaving me alone.. is beyond. Aku takut.. dan aku merasa sendiri. Tapi setiap kali aku berpikir nanti juga di kuburan aku akan sendiri, aku tenang. Tapi setiap kali berpikir, atau jangan-jangan ini Allah biarin aku sendiri.. aku nangis lagi.

***

Bogor, 22 April 2020
Setiap malam, sambil menangis aku selalu minta sama Allah, untuk beri aku tanda melalui mimpi. Tanda bahwa ini semua akan berakhir bahagia. Tanda bahwa jikapun aku mati, aku akan disambut dengan bahagia di alam nanti. Tanda bahwa Allah senang padaku, dan Allah tidak meninggalkanku.

Kemudian setiap malam ku bermimpi.. mimpinya selalu indah, karena ku merasa senang pas bangun, tapi tidak pernah ingat apa. Tapi ku sebal karena terbangun, dan sadar bahwa.. it's another day to survive, yang lalu ku berusaha tuk kembali tidur tapi gak pernah bisa jadi sambil menggerutu kubangun.

Tadi malam, mimpiku adalah ku kembali ke Raijua.
Hanya saja, kapalnya lebih besar. Lautnya lebih biru, lebih luas dan lebih jernih.
Kapal nya berwarna putih, dan ku berdiri di atasnya.
Nahkoda bertanya kapan aku akan kembali ku bilang, dua atau tiga hari lagi, belum pasti.
Lalu dia tertawa dan dia bilang, selalu saja begini..
Ya, karena bahkan dalam mimpiku tadi malam, aku tahu bahwa itu adalah perjalanan kedua ku ke Raijua.

Mungkin..
Ya mungkin,
It's like Raijua all over again.
Seperti saat di mana ku berangkat tanpa berbekal kepastian.
Tanpa hotel yang sudah di booking,
tanpa tahu naik apa selanjutnya.
Dan saat badai,
Hanya pada Allah satu-satunya ku bergantung, hanya kepada-Nya terus menerus ku berbisik.
Kupeluk erat hadir-Nya di dalam dadaku, dan itulah momen paling indah aku dan Tuhanku. Berdua, kemudian Dia mengizinkanku tuk pulang tepat waktu, tanpa kehilangan suatu apapun.

Mungkin itu tanda yang kuminta.
Bahwa hari ini, minggu ini, bulan bahkan mungkin tahun ini, adalah masa penuh ketidakpastian, tempatku bersandar mesra hanya pada-Nya...
All I need to do is just.. keep going, keep swimming, keep moving forward.

By the way, sepertinya ku bermasalah dengan dedaunan dalam masakan..
kalau kemarin salah taruh daun salam ke dalam masakan ikan,
kali ini kebanyakan masukin daun jeruk.
Daun jeruknya mulai kering, jadi dia mengkerut jadi satu. Apa yang ku kira cuma dua lembar, ternyata setelah masuk ke dalam panci dan menghijau, ada lima lembar.
Ternyata terlalu banyak daun jeruk aromanya jadi ga enak juga .. ya walaupun rasanya tetap enak.

Ini bonus, foto bersama orang terkenal yang tidak ku kenal (tadinya),


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …