Skip to main content

I know what it feels like to be suicidal

Hari ini aku nyaris menyerah. Bahkan aku tahu rasanya ingin mengakhiri hidupku sendiri, bukan sampai ingin ya.. tapi mengerti rasanya kenapa sampai seseorang itu bunuh diri. Gak sampai ke sana juga sih pikiranku untuk bunuh diri. Tapi ku bangun tidur dengan muka sembab dan sembab itu bikin ngantuk. Memutuskan ke kantor hari ini untuk ambil beberapa barang, beberapa data, sekaligus biar sekali jalan ku ke supermarket untuk tambah-tambah supply makanan. Terakhir belanja tanggal 28 Maret lalu.

Mulai berangkat ke kantor, pesan ojek online yang sekarang harganya selangit, dua kali di cancel. Aku bingung nih, kenapa kok mereka cancel, padahal katanya ojol paling terdampak ekonominya. Terakhir kucoba lagi dan berhasil tapi drivernya sungguh sangat tidak peduli keselamatan. Ku diaam saja sepanjang jalan, bahkan ketika dia nyaris menabrak sepeda motor lain di pertigaan sempur pertemuan arus dari arah stasiun dan Sudirman, kujuga diam saja. Kusudah terlalu sedih untuk bangun hari ini, tidak mau tambah-tambah perasaan kesal.

Sampai di kantor, kantor pun kosong. OB yang tugas jaga sedang di telkom untuk bebayar tagihan. Dia bilang masih lama. Kuingin marah tapi buat apa. Akhirnya ku belanja. Dengan hati yang gundah kupesan lagi ojek online kembali ke supermarket. Pas selesai belanja, telpon OB dan pas sekali dia baru sampai di kantor jadi kulangsung kembali ke kantor.

Sudah tengah hari, adzan zuhur berkumandang saat kumasuk ke ruangan kosong. Gila, batinku pelan. Terakhir ku di sini sudah sebulan lalu. Walau karantina baru berlaku selama 27 hari, tapi kusudah tidak ke kantor sejak 28 Februari karena serangkaian kegiatan di luar yang harus aku hadiri.

Kantor kosong..
Jalanan sepi..
Aku menangis di sela-sela mencari dokumen-dokumen yang kubutuhkan.
Nyaris berpikir.. bagaimana kalau sesendiri ini juga pas lebaran nanti.

Menjelang ashar kuputuskan untuk pulang. Semua perbekalan, baik itu makanan, cemilan dan data sudah dikemas rapi. Pesan ojek online, dan tiga puluh menit kemudian sudah sampai di rumah. Tetangga lagi ada di rumah, tapi dia sedang tidak banyak bicara belakangan ini. Aku mafhum. Bisnisnya perhotelan, adalah bisnis yang paling terdampak. Aku juga tidak mau sok-sok nyemangatin bahwa ini semua akan baik-baik saja, karena ku sendiri butuh orang tuk bilang begitu ke aku. Padahal ya dulu, waktu masih pacaran, kalo ada masalah trus si ex itu nyemangatin dengan kalimat standar untuk sabar dan semangat, biasanya kubalas dengan ketus “i know what to do. Gausah ngasih saran kalo itu bukan sesuatu yang baru”.

Sampai di rumah, kuterapkan prosedur standar selama wabah: Cuci tangan, rendam baju di detergen, minum air putih, mandi,, engg boong ding. Cuma cuci tangan dan rendam baju lalu ku tidur siang. tidur siang.

No matter how much I LOVE sleeping, nap is just NOT for me. Tidur siang tuh gak pernah berhasil buatku. Yang ada aku overthinking kemana-mana dan end up scrolling hp sampe ashar. Tapi tadi begitu nyampe langsung blek aja tidur. Bangun-bangun azan ashar. Gak lama sih tidurnya tapi berkualitas.

Mood ku baru benar-benar membaik setelah magrib. Lepas menghabiskan segelas kopi yang direndam kelamaan dan tiga buah donat, mood ku kembali secara paripurna. Sempurna sampai tulisan ini dibuat pukul satu tiga dua. Sebuah laporan berhasil kuselesaikan, karena memang kuniatkan untuk selesaikan laporan itu malam ini, yang sering terjadi adalah kuberhenti di tengah-tengah demi melihat panjangnya daftar yang harus diisi.

Ternyata kalau memang kita se niat itu, pekerjaan tu bisa beres ya.

Well yang jelas, aku survive hari ini. Ingin mati, tapi survive. Ingin mati, namun tak mau bunuh diri. Rasanya kalau sendirian terus itu gak sehat juga walaupun kusuka sekali menyendiri.

Itu aja sih yang mau kutulis,
***
Bogor, 10 April 2020 02.07
Tadi sebelum naik ojek kusempat motret  bangunan kantor yang seolah sedih dan gak nyangka dia bisa se sepi itu

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …