Skip to main content

Hari Paling Plot-Twist Selama Karantina

Bentar-bentar, ku nafas dulu...

Sumpah ya hari ini dimulai dengan sangat roller coaster.. naik turun moodnya benar-benar sebuah grafik yang mencuat tajam ke atas lalu terjun bebas ke bawah.

So It started with..
Seorang teman nge-chat, menangis. Minta mau ke rumah ku dan nginep di rumahku. Aku baru bangun tuh.. semalam baru bisa merem jam tiga pagi. Beresin translate-an dari jam dua belas, terkejar target, dan berniat langsung tidur. Karna toh selalu tidur jam 12-an juga. Tapi ternyata itu kalo start tidurnya dari jam 10. Kalo startnya baru jam 12, ya kayak semalam, jam 3 baru ketidur. Bangun buat subuhan bentar, trus tidur lagi.

Makanya waktu bangun tidur kedua kali, ku sebenernya agak kurang fresh. Buka whatsapp, yang kubaca pertama adalah chat dari temen itu karna chatnya banyak, dia nangis. Diajak video call juga gak mau karna mukanya sembab. Baiklah. Kucuma ajak bicara pelan-pelan, karena keluar rumah sekarang ini juga bukan hal yang bagus. Plus perumahanku lagi memberlakukan pengetatan downlock -yep - jadi agak ga enak hati kalau masukin orang luar ke area sini untuk nginep.

Percakapan berakhir, tapi moodku udah kepalang terisi dengan roman sedih. Karena kusedih gabisa bantuin temenku.

Dengan perasaan sedih itu, aku melayani pertanyaan-pertanyaan dari atasanku. Sebetulnya pertanyaannya biasa saja, tapi karena aku gak ngerti arahnya kemana, dan asumsi ku mengatakan bahwa arahnya akan ke 'sana' ya aku agak mulai emosi. Jadi perasaan sedih yang kubawa tadi, perlahan berubah menjadi emosi. Tapi kutahan, gak sampai meledak. Dialihin ke main instagram, trus masak, beberes, nyuci, beli daun jeruk di mang sayur, haha hihi bentar ama tetangga, mood ku kembali normal, dan aku kembali bekerja.

Siang lewat, mood biasa aja.
Mencoba masak menu baru, ternyata gagal maning karna salah masukin bumbu. Haha.
Masukin daun salam ke masakan ikan itu bukan ide bagus, ya teman-teman.
Aromanya jadi aroma semur, tapi pas digigit dagingnya ikan. Kan zonk.

Sorenya,
Nah ini,
Menjelang sore, ku dengan Pak atasan latihan untuk ig live. Berhubung ini live perdana kita berdua, jadi ya agak rigit latihannya,. 33 menit cuma untuk menentukan posisi dan memastikan 'keterlihatan' tampilan.

Saat waktunya tiba..
jeng-jeng. Sinyal tidak berpihak pada kita.
Jadi mood yang tadinya sudah terbangun apik dan normal, jadi down lagi.

Kali ini jatuhnya ke kurva paling bawah., kayak IHSG.
udahannya, kulangsung solat, minta ampun, karena mendahulukan live ig ketimbang solat ashar.

Memilih orang utk di video call, kali ini jatuh ke Ariya. Video call-an sampe ngakak-ngakak, lalu berhenti.
Mood udah seneng.
Gak lama temen lain nge chat, ngajak video call juga.
Ku bilang mau Isya dulu, baru kita ngobrol.

Ada 1,5 jam kita ngobrol ngalor ngidul, dia home tour nunjukin sisi-sisi rumahnya, alat musik dan rekaman, etc etc.
Trus kuminta udahan karna ngantuk.
Pas ditutup, mood udah sangat oke. Sudah paripurna tuk dibawa tidur. Karna prinsipnya sebisa mungkin jangan tidur lagi sedih, nanti mimpi buruk.

Eh tapi kok sebelum tidur seru juga ngerekam lagu Pengabdi Setan yakan.. entah untuk apa.. kayak pingin bikin insta story yang layarnya gelap trus ada tulisan kecil warna hitam yang ada backsoundnya. Yang sama Deddy Corbuzier di stereotype kan jadi tipikal story anak gaul. Biar yang pada jijik sama anak story alay pas nonton story ku cuma liat layar gelap, trus mereka gedein volumenya dan kedengeran lah 'dii kesunyiaan malaam' karna ku record dengan suara kecil..  gitu kan yahud.

Ku rekam lah.
Lima belas detik and I'm done. Rekaman dimatikan, youtube langsung di tutup RIGHT AWAY, and you know what? BAM! MATI LAMPU. SELANGSUNG ITU. Seolah youtube adalah saklarnya yang begitu ditutup langsung gelap semua.

Ku berusaha tenang, tapi tetap langkah pertama yang diambil adalah nge tweet.
Langkah kedua ngepost hasil rekaman ke whatsapp story,
Langkah ketiga whatsapp tetangga, yang kalo dia di rumah mo nebeng ngungsi, tapi ternyata dia di pos satpam ngerumpi,
Langkah keempat gabung di grup ibu-ibu,

Koneksi juga melambat.
Mulai ada suara kresek-kresek.
Bodohnya dalam gelap kuingin coba puter hasil rekaman lima belas detik tadi (WHY MIM WHY),
kuputer rekamanannya,
Suaranya ga ada.. kukencengin volumenya, trus KU TERLONJAK KAGET SENDIRI KARNA SUARA NYANYIAN BERBISIK ITU DATANGNYA JUSTRU DARI BELAKANG AKU PERSIS!
Karna handphone masih tersambung di speaker, dan speakernya dibelakangku,

Okeh okeh, aku coba tenang.
Karna koneksi lambat, kutunda dulu untuk beli akun zoom premiumnya, mulai mengerjakan translate-an yang tertarget empat ribu kata hari ini.
Baik ku mulai...
Mulai...
Kenapa ga nyala-nyala ya..
tengok twitter,
wih banyak ni yang komplen
buset ada yang sampe 4 jam,
hmm..
mulai kerja..
ga konsen..
ada bunyi-bunyi..
baiklah mood ku yang berbahagia tadi habis 2 video call mulai tercekam..

Dan 44 menit kemudian lampu nyala.
Alhamdulillah.
Segera yang kulakukan pertama adalah menulis postingan ini,
Dan setelah itu hanya Allah yang tahu apakah akan kulanjut ngerjain translate-an atau menundanya seperti ku menunda semua hal dalam hidupku.

***
Bogor, 17 April 2020
Kamis.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …