Skip to main content

Akhirnya dapurku ternoda juga

And not in metaphoric way.

Kalian punya gak sih semacam satisfaction on cleaning something? Or colouring? Or painting?

Kayak kalau you swipe on something trus dia berubah warna secara total dan kalian merasa puas karenanya?
Aku ada. Yaitu di kompor gas yang kupunya. Oh yeah, I have an amazing white stove. Yang terinspirasi dari my ex housemate, jadi kusuka dengan selera per-dapurannya dia sampai kutiru kompor, kulkas, dan ember air buat masak nya.

This stove.. well.. is white. Warnanya persis sama kayak punyanya ex-housemate. Putih cling dan kusuka. Hal yang paaaling satisfying buatku adalah, tiap beres cuci piring, endingnya nge lap kompor dan semua kotoran hilang begitu saja. Ga ada bekas sama sekali. Mau sekotor apa juga. Mau ada tumpahan kecap, percikan minyak, percikan sambal yang menyebar, semua hilang dengan sekali usap pakai sponge. Dan setiap kali ngelap kompor itu, I had a winning vibe in it., kayak menang aja gitu. Kusuka bersih btw. Bersih dan rapi itu aku suka. I am a very neat girl inside but I have high level of tolerance kalau misal harus tinggal di tempat berantakan. Pada hal-hal yang bisa kuubah, aku akan selalu usahakan tuk bersih, rapi, tertata dan terkonsep.

Until today..
So it started with..
Pingin makan ayam karna sudah 21 hari ga makan ayam. Cumi udang dan ikan gantian jadi lauk di piring sampai-sampai ku berjerawat. Ku gak makan ayam bukan saja karna gabisa motongnya, tapi karna kalo beli ayam di tukang sayur gak sama dengan beli ayam di giant yang bisa cuma 2 potong. Dan terakhir ku ke supermarket kan entah udah berapa abad lalu..

Tapi kali ini kubutuh ayam. Kemarin, saking bosennya dengan seafood, ku cuma makan pake tahu sama cireng pake nasi dan sayur. Thok. Padahal masih ada ikan dan cumi di freezer.

Jadi hari ini beli ayam, dan kuputuskan untuk diungkep biar awet dan simpel ke depannya. Mumpung libur jadi ada lebih banyak waktu utk ngolah supaya besok tinggal goreng-goreng aja.

Semua goes well, bahkan ku gak perlu ke warung sayur di pertigaan depan karna tumbenan mang sayur hari ini bawa bahan bebumbuan. Kecuali kunyit.
Kupikir tak apalah, toh ku ada tanam kunyit 3 tanaman sisa dari kunyit entah kapan yang ditimbun begitu saja dan ternyata tumbuh.

Siang-siang setelah semua sudah siap masak, ayam sudah di marinate dengan jeruk nipis sekitar 30 menit, semua bumbu sudah dicuci bersih, nasi pun sudah mateng, tinggal ngegodok ungkepannya.

Kupanen lah kunyit itu walau kutahu dia masih terlalu muda for the job, but I think its okay lah ya..
Kupikir ya lumayan lah walau cuma dapet secuil. Yg penting ayam gorengku nanti ada warna-warna nya gitu ga pucet.

Ku masak dengan deg-degan,, kirim foto ke mama kata mama kebanyakan air, baiklah tidak apa-apa, kulanjutin.. angkut kursi ke dapur, sambil nungguin godokan sambil nonton Money Heist season 4, sesekali ditrngok itu godokan.. sampai semuanya selesai.

Beres, tinggal ditiriskan, nonton bentar, trus goreng.
Hasilnya?
Lumayaan berhasil,
Ayam goreng ala abang-abang dengan resep dari youtube Mama Adeeva.

Baiklah..
Ku makan..
Lanjut nonton
Itu udh jelang asar tu,

Makan..
Nonton..
Terus nonton..
Sampai selesai isya,

Jam sembilan kubaru beresin dapur. Seperti biasa dengan ekspektasi bahwa diakhir sesi cuci piring akan ada adegan ngelap kompor yang satisfying itu. I was like a kid yang nunggu-nunggu mamanya bolehin tuk aduk adonan atau mecahin telor.. se suka itu kudengan ngelap kompor. Ku tengok kompor putihku.. ada noda-noda kuning. Ah santai. Biasanya juga gitu dan sekali lap beres..

Kuberes nyuci piring dan tibalah di sesi yang paaling ditunggu-tunggu.
Lap kompor.

Sekali lap..
Dua kali..
Kuningnya gak hilang! Kuning muda yang cerah.
Ku pake sabun cuci piring
Ku gosok kenceng..
Ga hilang!
The stains are staying!
Oh no..
Ku mulai panik,
Ambil cling cairan pembersih kaca
Ku semprot-semprot langsung
Ga hilang
Berhubung ku emang rada freak sama urusan bersih-bersih jadi tiap di hotel pasti sikat giginya kubawa pulang untuk sikat wastafel. Karna sekali pakai memang sikat wastafel itu beres dia menunaikan tugasnya, kotorannya bikin dia mustahil tuk disimpan. Makanya walau nginep di hotel sebagus apa juga odol dan sikat gigiku selalu paripurna.
Kuambil sikat gigi dari hotel yg masih sepaket dengan odolnya,
Kusikat dia pake odol, assuming ini gigi kuning mestinya odol can removes that stain.
It works!
Ku makin gigih menyikat, mata dengan kompor sejarak sejengkal aja tu kubisa rasain percikan odol ke mata. Perih.
Ku lap dengan sponge.
Masih ada!
Hilang sebagian tapi masih ada :(
Frustrasi, kuambil pasta pembersih yg beli di ace hardware. Tau kan? Yg kotaknya warna abu-abu, bisa bersihkan semua aspek perdapuran dan harganya cuma 70ribu..?
Kuharap dia adalah senjata pamungkas..
Berkurang memang, tapi siluet kuning mudanya masih ada :(

Dengan gigih terus kusikat bergantian pake odol dan pasta ace hardware
Sampai akhirnya..
Setengah jam kemudian ku menyerah..
Dengan sedih kutengok sekali lagi kompor putih itu..
Sudah tidak se flawless dulu lagi.
Mungkin karna kunyit kali ini adalah kunyit muda, beda dengan yang biasa di pasar
Warnanya aja masih orange
(Gambar miring-miring ini nanti kubenerin once login di web)


And that’s my friend.. is how I got a flaw in my flawless stove.
Mungkin memang tidak ada yang berlangsung selamanya, sepayan apapun dirawat. Pasti.. pasti ada juga retaknya.
Tak ada gading yang tak retak,
Tak ada kompor yang tak bernoda,

***
Bogor, 4 April 2020 
Di sela-sela nonton Money Heist 4, yang ku sangat determined tuk tamatin the entire season hari ini biar ga jadi korban para spoilers. Tapi nontonnya ga santai., sakit sih season ini.. parah. Keren dan breathtaking dan sadis. Sadis parah. Ku nonton per sepuluh menit trus pause tuk nengok instagram twitter atau lain2.
And I realised., how my friends are facing real life problems and there I was, rubbing my stove with full determination at ten pm.
I love me,
I love being neat and perfect
Dan Money Heist makes me feel less weird waktu liat adegan Professor ngebenerin letak kue yang sudah dia tata, yang kuenya dimakan satu sama Nairobi dan dibalikin sembarangan. The Professor pun tertata dan aku.. suka!

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …