Skip to main content

When starting a bad day..

I woke up and my head was heavy.
Crying before sleep was never good for your mood. Especially when you determine to always start the day with a good thought.
So...
I woke up,
Brew my coffee,
Sip it slowly,
Took a shower,
and put my best dress on.
One that I bought from.. maybe a year ago, but never wear it, karna ini cuma baju rumahan biasa tapi modelnya lucu. Simple, cute color, a mix of army green meets soft orange, celana selutut sporty style, and two layers of top; cute army green tank top covered with cute soft orange with an asymmetrical cutting-bat wing. I feel like photo shooting for magazine cover when putting this one.

And that.. my friend.. was how I managed to survive the online meeting. Everything after those scenes is good. Because all I did was sitting on my chair facing the door, a bit view of the peak of neighbor's tree and sitting therefrom after the meeting until I write this post at 9.36 pm. Not moving let alone sleeping.

Tahu-tahu sore, dan belum makan siang. Habis makan siang lanjut ngetik sebentar tahu-tahu magrib dan kepala berat. Another coffee to sip, padahal my rule is one cup a day and one cup only.

But I'm happy now, not because I survive the day, but because I get to know my self better. So this is how to handle me when starting a bad day.

***
Bogor, March 30th, 2020.
So my first 16 days of quarantine was to finish this one report revision, answering all the questions from HCVRN, and I LOVE it! Yes I do! It's not me being sarcastic, I love keeping my mind busy with all those questions and finding the answers. I hope the result will be as excited as I am now, and I'm no longer afraid of someone's belittling me because of my excitement.
Anyway,
I still have works to do,
And I LOVEIT LOVEIT LOVEIT!
Here's a photo from Ka Bukhi and I, at Lake Toba Festival 2017. After this is all over, I'll drive from Bogor to her place, just to see her bulk store in Jogja. She's thriving doing what she loves! 


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert