Skip to main content
Satu jam kemudian setelah postingan terakhir, sy sadar bahwa.. ini semua hanya karena satu orang. HAHA.
Jadi butuh sepiring nasi, telor dadar, sama kecap yg sy goreng sambil nangis hanya untuk sadar bahwa.. yaampun.. ini toh ternyata.

So all my life i’ve been surrounded by protagonists. Tidak pernah ada bad people yang masuk ke dalam hidup saya, makanya kalau ada satuu saja.. satuu saja.. rasanya hati ini sudah penuh dengan sesak.

Adalah seseorang yang tak perlu saya sebutkan namanya, menjadi satu-satunya antagonist yang mampu membuat lima belas hari yang super menyenangkan ini berubah menjadi sendu tangis dari sore sampe malam, pause waktu group call, lalu lanjut lagi. 

Ya, dia punya mulut yg sangat tajam tapi sebetulnya saya bisa balas dengan tajam dan lebih tajam, jika tujuannya adalah untuk menyakiti perasaannya. But what’s in it for me? Nothing. Tapii.. diam saja dan tidak melawan itu juga sakitnya bukan main. Apalagi kalo lihat dia ketawa ketiwi seperti tidak ada salah (atau memang tidak pernah merasa dia salah sebagaimana yang sering dia lakukan kalau ada perdebatan). Sakitt cuy.

Sebelum ini sy pernah post tulisan tapi saya hapus lagi. Judulnya ‘udah sembilan hari tapi kok masih hepi saja’. Saya hapus karena saya rasa agak kurang pas alasannya. Baru ketemu sekarang ini, kenapa selama sembilan hari-empat belas sampai kemarin sy masih baik-baik saja, karna saya tidak ada kontak sama skali dengan si beliau ini. Beda dengan dulu waktu saya masih ada di satu grup chat bebas dengan dia yg topiknya unlimited, itu rasanya tiap lihat dia typing hati saya sudah meringis.. bukan kesal tapi takut. Saya takut dengan apa yang akan dia tuliskan. Saya takut dengan lisannya meski itu tulisan. Saya takut..

Nah sekarang dengan tidak ke kantor tidak juga ada haha hihi dgn grup bebas, sy bebas merasakan apapun yg ingin sy rasakan. My life is all mine now.

Until today..
Tapi saya masih perbolehkan kejadian ini terjadi tanpa membalas, karena memang ini adalah urusan tanggung jawab pekerjaan yg memang saya terlibat di dalamnya. Karna tidak berguna berdebat dengan dia, mulutnya terlalu tajam untuk dilawan dan saya tidak mau berada di level yang sama dengannya.

Sy pernah juga sih dengar hadits tentang apa hukumnya kalau seseorang itu bikin orang lain takut krn lisannya. Insya Allah neraka si.. tapi ya jangan sampe.

Lagipula..
Saya butuh orang kayak dia.
Supaya saya bisa mengimbangi perasaan, dan tetap waspada dalam melangkah. Supaya jangan sampai saya menyakiti perasaan orang lain sebagaimana dia menyakiti perasaan saya. 
Karna kalau terlalu happy juga gak bagus, manis saja kalau kebanyakan jadi penyakit. Kalau terlalu bahagia nanti jadi kurang empati, seperti yang dia tuduhkan kepada saya tempo hari. Makanya saya bersyukur. Dia mengajarkan saya utk menyeimbangkan langkah supaya tetap bisa berempati.

01.34

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …