Skip to main content

Oh.. so this is what it’s all about

When you find a bigger obstacle and you say to ur self.. ‘oh.. so this is what He prepared me for’.

***
Another miracle happened today, as I woke up this morning and find the fact that I ran out of internet data and it completely sucked up my balance too and all I have on screen is ZERO number.
But I have to be at the meeting point by 06.30, meaning I have to leave home by 06.00 by online transport.
And I need internet data to book a ride.
05.45 I ran to the security post, hoping that there will be someone there to tell me the security post’s wifi password.
None.
All dark.
My neighbor’s doors are closed. It’s raining. A morning rain that I usually like. But not today.
I went back to the house.. thinking. Even warung jualan pulsa di depan jalan juga mungkin belum buka jam segini. Semua masih gelap. Matahari belum muncul.

Sampai tiba-tiba..
‘Mbak Hilma berangkat?’ Ku lewat depan rumah Bu Ndari yg lagi jemur baju. Tanpa mikir panjang kulangsung belok
‘Buu boleh bagi wifi gak? Kuota ku abiss duhh malu banget’
Dia tertawa. Nawarin tuk bookingin online transport. Solve!
Sampai di hotel dengan lengan baju basah, langsung connect wifi dan beli paket data.
Tumben banget padahal biasanya h-1 kuota expired tuh masih nyisa 10 gb atau paling tidak 5gb. Sekarang, masih ada 7 hari lagi sudah habis tanpa pemberitahuan.

Sudahlah.

Ada hal lain yg lebih urgent tuk dipikirin. Hujan!!
Dua hari ber-matahari akhirnya pada hari H pagi nya hujan deras.
Ku deg-degan karna ini utk pertama kalinya bawa mobil luar nanjak ke dalam Melrimba. Biasanya pakai mobil orang lokal yg sudah teruji.
Kutakut mobil ga kuat, jalan licin, dsb dsb.
Kutakut pas waktunya survey hujan, peserta kebasahan, pulang dgn pakaian basah dan mobil ber-ac.. mereka sakit.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah..

Sudah.
Cuma bisa berdoa. Sepanjang jalan. Gak lupa minta di doain sama semua orang yang nge chat. Termasuk sama pemilik rental mobil, dan ketua LMDH setempat.

‘Doain ya Pak semoga hujannya pagi aja dan pas kegiatan cerah’ yang mereka aminkan. Ku yakin Allah pasti dengar.

Kemudian macet. Panjang sekali antrian tuk masuk tol Ciawi. Belakangan baru kutahu, itu adalah cara-Nya stalling time, mengulur waktu supaya pas kita sampai, hujan sudah reda.

Sampai di lokasi hujan masih ada. Nanjak pun hujan masih ada. Tapi begitu mobil berhenti di depan Telaga Saat, matahari mulai muncul. Perlahan benderang, sampai tidak ada lagi mendung. Langit abu-abu mendadak jadi biru, Puncak Gunung Salak terlihat ukirannya.

Lalu semua berjalan lancar.
Berakhir bahagia.
Walau lelah luar biasa.

***
Bogor, 05 Maret 2020
Hmm.. kupaham sekarang. Paham.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …