Skip to main content

Kubilang juga apa..

Salah satu alasan kenapa kusuka bikin training, adalah karena sangat melatih keyakinan diri pada Allah. Ketika sudah tidak ada lagi yg bisa dilakukan, semua usaha terbaik sudah dimaksimalkan, ketika orang-orang diam gak ada yang bisa bantu, ketika peserta juga diam gak ada yang kasih konfirmasi, tinggal berdoa satu-satunya senjata yang tersisa.

Berdoa.. berdoa. Berdoa dan terus mengasah keyakinan.
Yakin kalau Allah pasti bantu, asal niatnya bukan untuk kemusyrikan, gak mungkin Allah gak bantu hamba-Nya yang meminta.
Yakin kalau misal Allah tidak bantu juga (and God Forbid) eventnya gagal, itu pasti karena Allah mau ada sesuatu yang kita pelajari, dan dibalik itu pasti juga kerusakannya ga parah-parah amat. Maksud kerusakan itu seperti vendor yang udah terlanjur di booking, atau apalah yang disebabkan oleh pembatalan suatu event.

Hari ini..
Di saat sedang malas nya keluar rumah (karena rumah lagi super bersih kemarin habis super cleaning sampai penuh tong sampah dengan tissue seharian bebersih sampai kolong dapur pojok kamar depan yg gak kepake semua dibersihin.. dan ku gak tahan debu, baru lima menit udh bersin-bersin dan itu bebersih berlangsung selama 7 jam.. hidung udah merah kayak tomat. Tisu habis).. makanya maunya hari ini leyeh-leyeh ga jelas scroll go food tak berujung., tiba-tiba pihak hotel ngehubungin. Katanya mereka udah siapkan satu kamar utk IBU Hilma, daripada IBU capek bolak balik kantor. Trus ku tanya lagi.. maksudnya free nih? Karna ku gak mesen kamar.. karna budget nya tipis.. trus dijawab.. iya gratis BU..

Whaa..
Saat kita gak buka kamar karna budget, Allah kasih kamar gratis tis tis..
Cara Allah mengabulkan doa, bukan dengan jumlah peserta berlimpah, tapi hadirnya peserta baru di detik-detik terakhir dan bikin target profit tercapai. Jadi bukan cuma BEP saja.. dan plusnya lagi.. dikasih Kamar 🙈.... Allah tahu bakal ada yang butuh kamar itu..

Aku terharu pas dihubungi mbak nya tadi. Langsung kubuang jauh-jauh rasa malas dan pergi berangkat ke hotel tuk pasang2 banquett., ke Jambu Dua beli flashdisk, and so on and so on, berakhir di Yogya junction yg ku sesali karna donat kentang yang kucari gak ada, dan ini Hari Minggu awal bulan.. rame nya udah kayak apaan tau..

Begitulah.. cerita tentang sebuah Hari Minggu, yang sempat panas sebentar, sebelum hujan dan mendung seharian.

***
Bogor, 1 Maret 2020
Jadi Maret ku dimulai dengan cedera lutut. Malu banget asli jatoh di depan pintu.. pas sadar kalau ternyata hujan, buru-buru lari mau ngangkat jemuran, dan lantai depan baru di pel. Licin cuyy.. kepeleset kayak pemain bola lagi nyleding, kaki kiri lurus ke depan kaki kanan ketekuk. Lutut kanan terbentur parah ke lantai, sempat bikin khawatir geger otak tapi untungnya cuma berdampak ke semakin malas saja. Memar sudah tentu. Dan kalo solat keteken pas sujud itu Masya Allah sakitnya., 😅. Yang bikin nyesek lagi, itu lantai depan sebetulnya bukan habis di pel.., yaa iya di pel tapi bukan di pel keseluruhan karena itu sudah kemarin. Itu cuma di lap aja sebetulnya, gara-gara ada setitik kecil jejak kakiku sendiri. Jejaknya juga jinjit jadi cuma ujung jari gak se telapak kaki. Tapi karena ku se tidak suka itu lihat nila setitiiiikkkk......

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert