Skip to main content

It’s MY BIRTHDAY!

People say happy birthday,
Best friends are sending gifts and pictures of their kids (or me),
But no chocolate cake,
No happy birthday song,

This is the first birthday ever, to spend alone,. Literally. Thanks corona. I hate you now.
But risking other people’s life just to make sure I don’t have a lonely birthday is even worse. I can’t get to see my Eyang, because I don’t what I might carry during the trip. From the car, from the air, or the toilet that I use.

So, I learn how to enjoy my own company by listening some religious lecture and (again) I learn new thing: cinta yang salah.

Ada orang bilang, obatnya patah hati itu jatuh cinta lagi. Saya pikir itu betul karna satu-satunya hal yg berhasil bikin saya yakin tuk pisah sama kak mantan dulu karena saya jatuh cinta lagi sama orang lain. Kayak baru hari ini kenal orang itu, minggu depannya saya minta putus. (Tapi enam bulan sebelumnya dia duluan yg mutusin, so I gues it was win-win).

Belum pernah rasanya saya tahu bagaimana rasanya punya ‘ruang kosong’ di dalam hati, kecuali sekarang,, barusan sih tepatnya.
Tidak menjatuh-hati-i ke siapa-siapa, kecuali pada Sang Maha Kuasa dan Rasul-Nya.
Umm..
Belum juga sih.. maksudnya saya juga belum tahu benar caranya mencintai Dia itu bagaimana.,

Tapi hari ini saya jadi tahu, bahwa..
Mudah bagi kita untuk jatuh cinta pada manusia, makhluk kasat mata.
Sedangkan jatuh cinta pada Dia dan Rasul-Nya, sulitnya bukan main. Harus menepis cinta-cinta lain dulu untuk bisa meletakkan Dia dan Rasul-Nya di daftar teratas yang dicintai oleh hati.
Karena sulitnya jatuh cinta pada Yang Tak Kasat Mata, maka itulah keyakinan dan keteguhan hati diuji kemurniannya.
Karena sulitnya jatuh cinta pada Yang Tak Kasat Mata, maka ganjarannya besar dan indah sekali di akhir nanti.
Ini urusan hati, segala yang berurusan dengan hati arahnya soal keyakinan.

Dan janji Allah pasti benar, bahwa orang yang punya Allah di hatinya, hidupnya akan tenang dan terjamin. Untuk situasi seperti ini, ketenangan jadi mahal harganya.

***
Bogor, 22 Maret 2020
Hujan deras dari jam empat pagi, lanjut mendung dan adem seharian. Aku suka.
❤️

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert