Skip to main content

How many lives have you affected?

Ada satu pertanyaan galau yang kerap terlontar jika sedang bertukar pikir dengan orang cerdas: ‘dalam hidup ini sudah berbuat apa? Masa mau gini-gini aja? Numpang lewat. tumbuh besar, kawin beranak lalu mati. Apa dampak yang sudah kita kasih untuk orang lain? Apa manfaat kita?’

Yang lucunya, seringkali pertanyaan itu terlontar justru dari kawan-kawan saya yang menolak mengakui adanya Tuhan. Padahal jelas sekali dalam agama saya bahwa hidup yg paling baik adalah yang bermanfaat untuk sesama.

Kemudian definisi itu diterjemahkan secara berbeda di masing-masing kepala. Yang satu sudah sukses dengan ketekunannya menjajaki petani lokal, produk pangan lokal, olahan beserta turunannya, keluar masuk media, dan menginspirasi puluhan anak muda. Yang satu lagi sudah berhasil meninggalkan pekerjaannya, yang notabene bergengsi lumayan tinggi karena mampu mencatut namanya di menara yang juga tinggi, demi proyek-proyek yang menurutnya lebih manusiawi. Manusiawi dan berkontribusi nyata untuk negeri.

Naif kah kami kami ini jika merindukan dampak?

Saya hanya bisa berkata pada mereka, bahwa bibit itu ada di dalam hati saya. Bibit untuk berdampak, berkontribusi untuk negeri, keluar dari meja kerja, melakukan sesuatu yang kecil tapi nyata.

Tapi saya belum bisa. Dan pikiran itu seringkali membuat saya sedih. Kadang, di h-1 sebelum menstruasi, pikiran itu turut memperburuk suasana hati yang bisa saya tangisi sembari menganggap diri ini tak berguna. Karena saya belum bisa. Saya belum tahu di mana saya harus berkontribusi. Di bidang apa yang harus saya perjuangkan.

Empat tahun lalu saya bertemu perempuan muda, anak Jakarta yang tidak pernah bersentuhan dengan desa. Dia lalu berkeinginan kuat untuk kembali ke desa, hidup dalam kesahajaan tanpa sampah yang merusak bumi. Terkabul paling tidak sejak setahun yang lalu. Dia pindah ke Jogja, mendirikan toko kelontong, menjual beraneka produk ramah lingkungan.

Saya?
Untuk bisa memperjuangkan satu hal, paling tidak saya harus percaya dan berkomitmen tinggi pada hal tersebut. Tapi sampai sekarang belum ada yang bisa dibilang saya geluti. Entah karena Aries atau karena anak pertama, ada saja yang membuat saya mudah bosan dan akhirnya memilih menekuni hal lain. Saya percaya akan minimalism, atau zuhud nama lainnya dalam Islam. Tapi saya belum bisa benar-benar menerapkannya di setiap aspek dalam hidup saya. Baju saja masih menumpuk yang hanya sekali pakai tapi enggan didonasikan karena bernilai sejarah (dan saya masih berambisi untuk punya lemari seperti di film 27 Dresses).

Kemudian saya berpikir..
Jika semakin dipikir,.
Toh hidup saya tidak buruk-buruk amat. Tidak tak berguna-berguna amat.

Ada pelatihan-pelatihan yang selalu saya perjuangkan. Yang seringkali ingin digagalkan oleh orang, tapi saya tetap maju dengan penuh keyakinan. Dan dari pelatihan-pelatihan itu...

Ada vendor kaos yang bersyukur dapat orderan, ada fotografer yang baru kehilangan pekerjaan yang saya ajak supaya bisa tetap ada pemasukan, ada sopir yang mendapat panggilan. Ada memori-memori yang terisi dengan kenangan baik dan membahagiakan. Ada banyak pihak yang mendapat pemasukan dari terselenggaranya satu acara kecil yang saya gagas. Meski tentu itu semua bukan karena saya, karena saya tidak punya cukup uang untuk diberi ke semuanya, pun saya tidak cukup punya kuasa untuk menghendaki ini semua berjalan atau memilih merekalah yang akan keterimaan rezeki.

Adalah Allah yang memilih saya menjadi perantara-Nya. Ketika saya berpikir demikian, hilang sudah semua gundah gulana. Allah memilih saya, memperbolehkan saya melaksanakan acara-acara itu, dan saya teramat tersanjung karenanya. Tersanjung untuk menunduk semakin dalam, bersujud semakin lama.

Pada akhirnya, saya pun mengerti bahwa tidak ada satu orangpun yang diciptakan sia-sia.
Tidak ada pekerjaan yang terlalu hina sampai tidak punya dampak.
Bekerja dengan orang atau punya usaha sendiri, sama mulianya. Mau CEO atau janitor sekalipun, asalkan dia bekerja karena ingin mendapat ridho-Nya, ingin membuktikan diri bahwa dia berguna, maka tidak ada satupun yang menjadi budak manusia.

Perbudakan sekarang adanya di dalam pikiran.
Karena sejatinya kita semua memang budak, hamba-Nya yang Maha Kuasa atas seisi semesta. Jika hidup dalam pelayanan-Nya, pasti terjamin bahagia.

***
Bogor, 11 Maret 2020
Hari ini panas, aku suka. Aku suka apapun yang Allah kasih. Mau hujan, mau panas, karena aku tahu itu tidak akan berlangsung selamanya. Selama masih di dunia, segala sesuatu pasti akan ada ujungnya. Akan berakhir di satu titik, dan di titik itu masih ada lagi ujung-ujung lain yang dinanti.

Hari ini panas, aku suka.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …