Skip to main content

Dari ngejar Argo Parahyangan sampai pelatihan ajaib yang pesertanya bikin ngakak

(And not in a good way)

***

Kesiangan!!
Azan subuh berkumandang dan kubaru bangun. Padahal cita-citanya azan subuh tuh sudah siap, sudah mandi dan minimal sudah skincare. Alarm di stel dari jam 03.00 berturut-turut 03.30, 04.00 04.15 04.30 tapi tetep bangunnya jam 05.00 juga. AC juga sudah di timer jam 03.00 mati, tapi kalah dengan satu hal yang susah diprediksi: Hujan! Kucinta hujan, apalagi hujan pagi hari yg selalu kusapa kalau datang ‘haaiii morning rain..’.

Tapi sudah tahu kesiangan, gerakanku masih sewoles Ratu Inggris. Bangun pelan-pelan, wudhu ke kamar mandi, solat (ya memang harus) pelan-pelan. Dan masih sempet ngopi. Saking ngantuknya kubutuh kopi supaya berfungsi normal sebelum mandi.

Jam 06.30 mobil jemputan baru datang. Begitu masuk mobil, kulihat ETA google map di dashboard supir, deg! 2 jam! Kalau dihitung berarti sampai Gambir sekitar jam 08.30 hanya ada spare waktu 20 menit!

Baru masuk Yasmin macet panjang sudah bikin ETA google mundur teratur. Dari yang tadinya 1jam 49 menit, gak bergerak (padahal kitanya bergerak maju) sampai mundur lagi ke 1 jam 53 menit.
Sampai di situ kubelum mau panik. Istighfar sepanjang jalan, diam dan sesekali nyanyi kalo lagunya enak. (Pas Mirror yg keputer nyanyinya full song).

Masuk tol jagorawi kumulai sedikit gelisah. Mulai men-direct driver yang terlalu taat aturan bertahan di lajur kanan. Sekali kuminta dia pindah ke lajur kiri, katanya mau ikut kontra flow di Cibubur. Ku manut aja. Trus ternyata kontra flow nya ditutup. Baiklah. Dia baru ambil ancang-ancang ke lajur 3 tapi tetep balik lagi ke lajur 4.
Well, bisa dipahami sih. Kujuga kalo nyetir macet ya akan stick to lajur 4.
Tapii biasanya ada skillfull driver yang bisa selap selip memanfaatkan lajur 1 lajur 2 bahkan bahu jalan. Untuk emergensi boleh dong..

Masuk tol dalkot drivernya makin susah di direct dan kumulai agak sedikit gak tenang. Posisi duduk sudah mendekat ke arah driver memastikan dia fokus. Sempat juga negur dia yang masih sempat-sempatnya angkat telpon. Akhirnya kuminta keluar tol Rawamangun, mesen gojek dari masih di dalam tol, biar bapaknya standby di SPBU dan begitu kunyampe langsung hop in melaju.

Lanjut gojek..

Aku berusaha tidak panik, jelasin pelan-pelan ke bapak gojek bahwa ku ngejar kereta dsb dsb, dan bapaknya jawab Insya Allah. Di situ aku yakin, Allah pasti tolong. Sepanjang jalan masih terus istighfar, si bapak lincah nyelap nyelip dan kalo jalan lurus kecepatan tinggi tinggi sekali. Sampai di lampu merah deket Tugu Tani itu sudah jam 08.45 artinya 10 menit lagi kereta berangkat.

Lewat lampu merah bapaknya melaju yang terasa seperti 80 km/jam.
Whusssshhh!

Ka Nita mulai cemas, tapi dia sudah kusuruh duluan dengan nitipin tiketku ke meja check in.
Kutahu dia cemas karna dia nge Wa ‘Maa 5 miniits’

Ku nyampe Gambir jam 08.50
Untung bawa nya tas gemblong Osprey yg bisa dibawa lari. Kulari dan lari, nanya di mana Argo Parahyangan. Semua orang bantu nunjukin jalan. Ibu yang dititipin tiket juga kooperatif.

08.53 kusampai di gerbong kereta yang Alhamdulillahnya gak jauh dari eskalator..

Masuk gerbong langsung ngakak berdua Ka Nita walaupun deg-degannya masih ada sampe ke tangan yang agak kebas.

***
Pelatihan Geng Kolonial

Sesuai prediksi, yang ikut 80% nya Gen X. Candaannya candaan bapak-bapak whatsapp. Ibu-ibunya ada yang galak yg marah-marahin panitia terus. Pelatihan baru selesai jam 22.00 dan kutakjub dengan ketidakjelasan penjelasan trainer bersertifikasi ini..

Haha..
Tapi kembali lagi ke prinsip, bahwa mereka orang-orang baik yang menyelenggarakan acara dengan maksud baik. Akupun hanya mau bikin people happy so I keep being happy my self, bantuin peserta lain yg kesulitan download file dari google drive, ketawa-ketawa sambil menyemangati mereka dengan bilang “semangat Bu! Baru jam setengah sepuluh!” Dan nimpalin ibu trainer yg udah lelah dimarahin ibu di belakangku., nimpalin dengan konten menyemangati dengan cara “oooohh gitu.. paham bu paham”.

Karena aku tahu betapa tegang dan ga enaknya rasanya, ketika kita merasa tidak men deliver materi dengan baik. Walau memang deliverinya kurang baik, tapi biasanya si pemateri sudah tahu sendiri tanpa perlu kita misuh-misuh.

Dah gitu aja hari ini.
Alhamdulillah satu lagi miracle terjadi, ditolong Allah ngejar kereta, tapi tentu itu bukan karena doaku, tapi karena Allah Maha Pengampun mau mengampuni aku yang lelet dan buang-buang waktu.

***
Bandung, 12 Maret 2020
Yogya katanya gempa hari ini but my brother didn’t feel that.
Ga heran si.
Kebo.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …