Skip to main content

Dajjal and the rise of Jesus

Dajjal seems like a joke now, but the circumstances happened lately, make everything about him is logical. (I saw a video or two, a monologue dresses in teletubbies feature, and one of them has one eye. The narrator kept called it with Dajjal and its funny. Oh yes I laughed).

But this isn’t a joke at all.
Hadits already mentioned that Dajjal will offer you food in the time of starvation. If you accept, hell is yours and vice versa. Now, its easy for us to think “nope. I won’t accept his offer, I’d rather die in starvation..” no..no.. Hameed, it wont be that piece of cake.

See panic buying?
People are so worried about this plague that they buy everything they can afford even if it means suffered other people. And this is just a beginning, probably the situation when Dajjal is here, offering dunya door to door, the situation is a lot more worse than this. Just you imagine.. and now, how many apples have you bought just because you were too scared to go out and got infected?

And Jesus will come to kill Dajjal as promised. Sure it will happen, we Muslim believe that by heart. By the way, I should’ve said Prophet Isa AS instead of Jesus, but the sound of Jesus is.. you know.. intriguing.

We are all marching toward that time.
All the things that happened now, is only a kind reminder on how the time is gonna be.
We need to be prepared, mentally and emotionally.
We need to learn to control our desire, our feae, if we want to survive Dajjal (but let’s pray we don’t have to meet him, okay? No matter how bad we want to see Jesus in person).

When the time comes, and it will come, there is no going back.

***
Bogor, March 25th
I made it to 10 days staying at home. Its not as hard as I thought it will be, unless the fact that I have enough time to finish 3 piles of clothe( setinggi Puncak Salak 1, Salak 2, dan Sumbul) for 6 hours (with pause). I dont understand my wardrobe. It was just 5 days training, 3 days post-training (still busy) and another 5 days of training (including the travel), and I already owe this much clothes to do.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert