Skip to main content

Ujian datang pada yang paling dicintai oleh hati

Allah menguji hamba-Nya dengan apa yang mereka paling cintai.
Nabi Ibrahim dengan putranya; Nabi Ismail.
Nabi Yusuf dengan ketampanannya; digoda sang majikan.
Nabi Muhammad dengan kejujurannya; beliau dianggap gila, padahal sebelumnya diberi julukan Al-Amin alias orang yang paling terpercaya.

Tadi juga kunemu di surat At-Taubah, ayat (berapa lupa) tentang orang yang enggan pergi berperang. Lalu Allah berkata yang kurang lebih artinya, kalau engkau lebih mencintai keluargamu atau rumahmu dibanding Allah dan Rasulnya, maka tunggu hingga balasan Allah datang menimpa.

Lagi-lagi jadi ingat BCL. Lalu kuberpikir.. berarti memang Allah masih sayang banget sama keluarga mereka. Ini cara Allah menyelamatkan mereka dari siksa yang lebih panjang lagi. Kan setelah hidup di dunia selama 50-60-70 tahun, kita masih akan menghadapi tiga alam kehidupan lagi yang lamanya masing-masing bisa sampai ratusan tahun.. setelah ini kan Alam Kubur itu lamanya sampai Hari Kebangkitan. Kaum Nabi Nuh yang sudah ribuan tahun meninggal saja sampai sekarang masih menunggu dibangkitkan,. Lalu Hari Kebangkitan, yang itu Bumi besarnya berkali-kali lipat dan kita semua jalan dari pemakaman kita ke Padang Mahsyar.. kalau ada amalan baik bisa kita dapat kendaraan, kalau tidak ya jalan kaki. Kebayang dengan ukuran Bumi normal saja berapa tahun kita bisa sampai Palestina (pernah dengar ada ustadz bilang kalau nanti Padang Mahsyar letaknya di Negeri Syam). Pas sudah nyampe juga belum langsung selesai. Masih ditimbang dulu amal baik-buruk, diperlihatkan ‘Buku’ amalan selama di dunia. Satu persatu dimintai pertanggungjawaban, sampai kesalahan sekecil apapun semua ditanyai. Kalau ada dispute juga mesti diselesaikan.

Bayangin.. milyaran.. triliunan manusia dari jaman Nabi Adam, berkumpul jadi satu, menunggu giliran masing-masing di audit untuk hidupnya. Iya kalau orang kita yang sekarang life span nya rata-rata 60-70 tahun. Nabi Nuh kan sampai 900 tahun lebih..

Barulah setelah hari itu kita masuk ke babak penentuan-surga dan neraka.

Perjalanan sepanjang itu, kalau dibandingkan dengan dunia, aih jadi tidak ada apa-apanya. Allah gak mau keluarga Bunga termasuk di barisan yang dihukum selama di alam kubur dan selama di Hari Kebangkitan.. apalagi sampai masuk neraka. Karena Allah pasti tahu isi dalam hati mereka. Dan Allah Maha Adil, Maha Mengetahui, makanya yang diambil Ashraf, bukan Bunga. Mungkin karena Ashraf sudah terketuk hatinya. Sudah menerima hidayah-Nya. Sudah ingin berkumpul dengan Rasulullah. Dan Allah masih kasih kesempatan Bunga untuk bertaubat.. Allah tidak akan peduli dengan dosanya yang dulu, karena Allah suka orang-orang yang bertaubat..

Hmmm.. malah mikirin orang lain.

Ya intinya.. selagi bisa dan belum dikasih teguran, lebih baik kita berbenah hati. Jangan terlalu suka sesuatu melampaui cintamu sama Allah. If its money, bisa saja Allah ambil sewaktu-waktu. Tapi dengan catatan kalau Allah masih sayang. Kalau Allah sudah tidak sayang, Dia akan biarkan kita terlena dengan semua kelezatan dunia, tahu-tahu waktu untuk taubat sudah habis, dan kita hidup dalam siksaan di Alam Kubur sampai Hari Kebangkitan, dan berpayah-payah menuju Padang Mahsyar, dan sampai di sana masih harus tersiksa pula.. not to mention entering jahannam.. please kugak mau bayangin..

Apapun yang sekarang kita genggam dalam hati kita, perlahan harus coba dilepas. Bukan untuk dilepas sepenuhnya, tapi ganti posisinya. Taruh Allah di posisi paling atas. Kalau kita mengutamakan Allah, Allah akan mengutamakan kita. Kalau kita lebih sayang sama Allah dibanding sayang ke harta, Allah akan lebih sayang lagi ke kita dan akan mudah sekali Allah kasih harta yang lebbih banyak lagi.

Percaya deh.
Gak akan kecewa bergantung sama Allah.

***
Bogor, 29 Februari 2020
H-2...............

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …