Skip to main content

Tentang cinta, tentang jatuh hati. Tentang melankoli yang disponsori oleh Selasa di Februari

Grieve is the price we pay for love -Josephine Barry
***

Aku dulu sempat berpikir, apakah jatuh hati itu sebuah anugerah atau justru petaka?
Karena banyak orang yang jatuh hati pada orang yang tidak bisa dia miliki dan malah jadi tragedi. Katanya sih itu karena tidak kuat iman, tidak menjaga pandangan, dan bermain-main dengan dosa. Makanya aku bertanya.. apakah jatuh hati tersebab oleh dosa dan karenanya juga sebagai hukuman untuk membersihkan dosa?

Tidak ada yang menjawab pertanyaanku, kecuali satu video ceramah di youtube yang dibawakan oleh Ust Oemar Mita (kalau tidak salah). Katanya, jatuh cinta, atau memiliki perasaan ke lawan jenis itu datangnya dari Allah. Hukuman atau bukan, tapi perasaan itu diselipkan begitu saja. Sampai di kalimat itu saya terdiam. Ya.. perasaan itu adalah anugerah. Kalau tidak, bagaimana bisa kita merasa bahagia berbunga-bunga padahal disapa saja tidak.

***
Cinta punya banyak wajah. Mungkin kita tidak akan pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya mencintai sampai tragedi menghampiri.

Bisa dibilang, cinta adalah ketika dia membuatmu marah semarah-marahnya. Sakit hati, terpuruk bahkan sampai berjanji untuk membencinya selamanya, tapi begitu dia datang lagi dengan air mata dan memeluk erat meminta maaf, hilang semua rasa benci dan amarahmu itu.

Dan itu terjadi bukan cuma satu dua kali, tapi berulang lagi dan lagi seolah tidak ada lelah dan tidak ada habisnya rasa toleransi terhadap keburukan satu sama lain.

Cinta adalah saling menerima, jika salah satu punya kelebihan maka yang lain tidak berusaha mengungguli pun tidak merasa rendah diri.

Cinta adalah soalan memberi, memberi dan terus memberi, dan akan indah jika keduanya melakukan itu untuk satu sama lain terus menerus hingga ajal memisahkan.
Tuhan menganugerahkan rasa cinta pada makhluk Bumi, sebagai cara mereka memelihara keberlangsungan spesies masing-masing. Dan itulah juga harga yang harus dibayar, ketika persyaratan menjadi makhluk Bumi adalah menjadi sementara. Ketika yang dicinta sudah mencapai tenggat masanya, berpulang dia meninggalkan jejak yang diratap.

Waw..
Ini Hari Selasa. Sedari kemarin kota ini dirundung mendung dan hujan. Hemat listrik jadinya karena aku jadi tidak perlu tidur pakai AC sama sekali. Dan karenanya juga, kujadi tergoda untuk berkontemplasi soal cinta, soal hati yang jatuh secara tiba-tiba.

***
Jadi bukanlah suatu hukuman,. Jatuh hati itu.
Juga bukan suatu dosa mengungkapkan isi hati pada orang yang dijatuhi itu.
Karena memendam dalam diam, bisa jadi bom waktu yang meledak dari dalam.
Tapi juga bukan suatu keharusan bagi pihak lawan untuk membalas hati yang terlanjur terbuka.
Sebagaimana dia yang jatuh hati tanpa alasan, maka dia pun berhak untuk menolak tanpa alasan.
Yang harus disadari adalah bagaimana caranya agar tetap bisa mengembalikan hati kepada Sang Maha Pemilik segalanya, setelah hati yang sudah jatuh dan ditelanjangi itu dianggurkan begitu saja.

Karena biar bagaimanapun juga, pulang adalah kepada-Nya. Kamu atau dia, dua-duanya pasti akan berpulang. Maka pastikan mulai dari sekarang, jalan pulangmu sudah mengarah ke jalur yang tepat. Siapa tahu di sana, kalian akan bertemu lagi dan menjalani selamanya. Selamanya yang benar-benar selamanya.

***
Bogor, 19 Februari 2020.
00.09
Baru semalam merasakan tiba-tiba sakit padahal paginya sehat walafiat, lalu berpikir bisa saja orang tiba-tiba meninggal padahal sehat walafiat. Pagi tadi se-Indonesia dikejutkan dengan kabar meninggalnya Ashraf Sinclair.
Pasangan yg sangat kukagumi karna bisa se adem itu padahal Aries dan Virgo. Been with a Virgo my self for 5 years I know how impossible it is.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …