Skip to main content

Meninggalkan ambisi di meja akad

Ini bukan tulisan membandingkan working mom sama stay at home mom. For God sake ini sudah 2020 dan sebentar lagi kiamat. Gak perlu kita memusingkan dua hal yang dasarnya adalah opini.

Ini tentang para perempuan, yang menemukan jalannya dengan cara mengabdi di rumah untuk keluarga yang dia cintai.
Tapi bukan berarti yang tidak berdiam di rumah sama dengan tidak mengabdi untuk keluarga, masing-masing punya caranya sendiri untuk menjadi seorang abdi.

Ini tentang ambisi, yang dilepas tuntas selepas janji suci terlafaz tunai.

‘Ah.. tahu apa kamu soal ini. Mengalami saja belum’
Well, kalau semua orang harus mengalami holocaust untuk bisa mengerti ngerinya rasisme, mau jadi apa kita ini..
Pengalaman memang adalah guru terbaik, dan semua teori akan beda rasanya jika sudah dialami sendiri. Tapi bukan berarti ilmu terbaik hanya didapat dari pengalaman toh?
Saya sendiri cukup mafhum dengan apa yang terjadi behind the closed door hanya dari cerita-cerita teman dan sahabat yang dibeberkan secara gamblang. Cukup bagi saya mengerti dan ikut merasakan pergulatan batin seorang yang sudah menjadi istri.

Ini juga bukan tentang kemana saya harus memilih, apakah mengabdi sepenuhnya di rumah jika kelak tiba waktu saya untuk berganti status, atau tetap berkarya di luar rumah sambil menyeimbangkan keduanya?
Karena saya pun masih belum bisa membayangkan rasanya menanggalkan this so-called career as I live and breath with all these struggle,. Yang bikin dokumen lapangan from the scratch sampai akhirnya diperbaharui karena sudah usang, sampai bikin training yang juga from the scratch yang seperti orchestrating sebuah pagelaran musik klasik.

Jadi tulisan ini bukan tentang saya, tapi tentang ambisi.

Adalah Hawa yang diciptakan karena Adam merasa kesepian. Surga punya semua yang Adam inginkan, tapi tanpa Hawa dirinya belum lengkap. Adalah sejak awal penciptaan perempuan dimaksudkan untuk menjadi pendamping. Melengkapi jiwa seorang khalifah, yang dinisbatkan untuk menjadi pemimpin di muka Bumi.

Waktu bergulir, peran perempuan semakin nihil. Semakin kecil dengan adanya perbudakan dan penyelewengan hak asasi. Perempuan tak lain dan tak lebih hanya pemuas nafsu semata, yang digilir dan tidak didengar suaranya.

Kembali waktu bergulir, penindasan menumbuhkan perlawanan. Tahun seribu delapan ratus akhir, perempuan mulai menemukan suaranya kembali. Tidak muluk-muluk sebenarnya, mereka hanya ingin di dengar. Ingin diperlakukan sama, karena sejatinya begitulah mereka dicipta. Untuk menjadi pendamping, pelengkap, yang setara.

Masuk kita di Abad terkini. Abad di mana perempuan benar-benar terbebas dari perbudakan. Tidak ada lagi yang bersuara miring terhadap mereka, atau menjadikan mereka komoditas seks kecuali atas izin mereka.

Gerakan itu kemudian berevolusi., hingga di unit masyarakat terkecil: keluarga.

Saya pernah membaca satu kutipan, lupa dari siapa, kurang lebih bunyinya begini: “kalau ingin merusak suatu bangsa, rusaklah perempuannya. Ibu yang rusak akan melahirkan generasi yang cacat”

Betapa peran perempuan di dalam rumah diibaratkan sebagai tiang penyangga, yang jika kokoh tiangnya, kokoh pula bangunannya,
Tiang itu dapat digerogoti oleh sesuatu bernama: ambisi.

Demi ambisi, perempuan rela meninggalkan anak yang masih bayi dengan alasan mencari rezeki.
Demi ambisi, perempuan tak segan membantah suami karena dirasa tidak lebih mumpuni.
Bahkan demi ambisi, perempuan rela memarahi anak ketika ia merengek meminta perhatian ibunya.

Jangan pikir ‘ah tidak. Semua perempuan itu baik, mulia dan terhormat dan penuh kasih sehingga tidak mungkin berbuat demikian pada keluarga yang dia cintai’

Please dont be naive, I know people who refuse to breastfeed just to keep her breast intact. I know them, in person (not by story).

Jika kalian adalah perempuan yang mengorbankan waktu untuk bersama dengan anak demi bekerja, tapi itu karena kalian tidak punya pilihan lain dan itu juga demi anak,. Maka kriteria tadi bukan untuk kalian. Tenang.. cinta punya banyak rupa, jika salah satunya adalah harus meninggalkan mereka walau berat, maka itu tetap cinta.

Poin yang ingin saya bahas lebih kepada ambisi yang masih bersemi di dalam diri. Menolak konsep bahwa setelah menikah, perempuan itu di bawah tanggung jawab suami, bahwa apapun yang mereka lakukan, akan dimintai pertanggungjawabannya ke suaminya juga. Jika dia masuk neraka, suaminya pun akan ikut terseret ke neraka.

Ambisi adalah berpikir bahwa dirinya bisa memimpin rumah tangga karena dia merasa lebih capable lebih mumpuni dari suami yang planga plongo.

Saya sangat keras menolak kepemimpinan perempuan di dalam rumah. But AiKnow she’s the boss and of course she is.. tapi itu bukan karena she IS the Boss but because he let her BE the boss.
Perempuan selalu mudah berpikir bahwa dia bisa memimpin. But they didn’t. Dan seringkali perempuan yang paling berpikir dia bisa menjadi pemimpin, adalah orang yang paling tidak mampu memimpin. Coba jangan lihat sekitar, lihat diri sendiri saja (kalau perempuan).

Saat ijab qabul di lafazkan, adalah saat di mana kita menyerahkan semuanya pada orang yang mengucapkan itu dengan disaksikan ribuan malaikat.
Seharusnya pada saat itu kita tahu tentang laki-laki yang kita nikahi. Kalau dari awal sudah tahu dia idiot kenapa juga mau terus.. kalau bilang ‘oh ya my grandma wanted me to’ tetep aja siapa suruh mau disuruh nenek untuk memutuskan keputusan paling besar dalam hidup? Nenek bisa nyuruh kamu bikin cincau dan kamu nurut, tapi bukan berarti urusan kawin juga sama.

Karena pada saat itu semestinya kita berhenti.
Berhenti merasa mampu menjadi imam, dan mulai belajar tuk jadi makmum yang baik. Makmum gak mesti selalu ngikut loh ya, kalau imam salah makmum wajib banget kasih tahu.
Pendamping, remember? Equal.
Gak perlu teriak pake cardboard diacungkan minta kesetaraan, lah wong kita sudah setara.

Meninggalkan ambisi itu sama saja dengan berhenti merasa diri paling tahu segalanya.,
Diakui atau tidak, perempuan itu selalu punya hati kecil yang berteriak ketika dia mengambil keputusan. Dia selalu butuh second opinion, selalu butuh pemimpinnya tuk bantu arahkan dia.

Sekali lagi maaf jika tulisan ini menyinggung, saya tentu tidak bermaksud menyinggung tapi Alhamdulillah juga sih kalau ada yang tersinggung tapi kemudian berbenah.
Berbenahnya gimana? Pertama, minta ampun sama Allah.. jangan cuma sekali. 70 kali sehari dan usahakan tiap hari. Solat taubat. Minta ampun sejujur-jujurnya.
Kedua, ganti pola pikir. Dari yang merasa bisa mimpin laki-laki menjadi merasa lebih terhormat kalau bisa menelusup ke relung pikir laki-laki, memberi saran dan masukan, dan membuat dia berubah pikiran atau menyisipkan ide gagasan atau apa saja yang asalnya dari pikiranmu tapi seolah-olah itu dari dia.

Makanya ku sangat kagum sama mereka yang benar menjadi Ratu dalam rumahnya. Dia menerima fitrahnya sebagai pendamping, tapi tidak berarti merendahkan diri untuk slavery. Dia menjatuhkan putusan yang akan diambil oleh suaminya, dengan bisik manja dan rayuan halus yang sulit untuk ditolak.

Main cantik lah kalau kata orang.

***
Bogor, 24 Februari 2020
Gara-gara tadi ada yang bilang ‘masa gw kepikiran alm Ashraf itu kepikiran kalau Bunga deket sama aril, kan itu bisa ke jantung juga’ trus kujadi mikir lagi..
Ku sedih banget sama mereka, karna sedih liat Bunga terutama Noah ditinggalin ayah yang adalah pahlawannya. Ku gak sedih buat almarhum, because death isn’t always a bad thing anyway, justru kan good thing. Makanya ku kepikiran,. Apa itulah cara Allah sayang sama almarhum. Untuk memotong hidupnya dari dosa2 yang mungkin akan dia lakukan ke depan dan makin ke sana makin banyak, mumpung dia lagi banyak banyaknya amal ni dengan bersedekah ke anak yatim. Ibarat saham, diambil pas lagi tinggi-tingginya. Allah is investing in him and that is good.

Kusedih buat Bunga.. soalnya bentar lagi dia ulang tahun dan dia sendirian. Ulang tahunnya Hari Minggu pula

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …