Skip to main content

He Loves Me..............................

Seperti pagi hari yang 'normal', pagi ini saya berdiri di depan beberapa pilihan pakaian yang menggantung. Kebingungan yang sama.. bingung pakai baju yang mana, yang akhirnya saya putuskan untuk memakai kaos biasa dan celana jeans. Awalnya sempat ragu pakai jeans ini, karena saya takut pulang kehujanan, dan jeans ini akan saya pakai Hari Minggu. Maksudnya kalau saya pakai sekali, Minggu masih bisa dipakai lagi kalau memang tidak kehujanan.. toh jeans memang maksimalnya dipakai sampai tiga kali? Ya tidak? Kenapa saya tuliskan ini? Karena ini nanti ada hubungannya dengan judul di atas.

***
Kasih sayang-Nya pada saya sangat terasa ketika saya masuk ke sebuah drugstore sepulang kantor. Sehabis berburu kaos polos bersama direktur yang punya kantor tempat saya bekerja, saya iseng mampir ke drugstore sebentar untuk membeli sabun cuci muka. Lagu favorit yang sudah lama tidak saya dengar, terputar tidak lama setelah saya menemukan yang saya cari. Satu lagu.. saya memutuskan untuk berkeliling sebentar sekedar melihat-lihat padahal ingin mendengarkan lagu sampai habis. Lagu kedua.. masih lagu favorit yang sudah lama sekali tidak saya dengar.. jadilah hati saya senang walau habis meeting dan peer saya banyak sekali karenanya. Tapi saya senang mendengar dua lagu itu, entah kenapa dua lagu tadi sama sekali tidak membawa bayang-bayang menakutkan tentang cinta atau perasaan yang terpendam atau apapun yang bikin mules kalau dibayangkan.

Selain lagu, sabun cuci muka saya juga adalah alasan saya sangat bahagia petang tadi. Karena sekitar dua minggu yang lalu saya ke drugstore yang sama, tapi harga yang terpampang jauh di atas harga yang sekarang terpampang. Tidak murah, tapi yang jelas bukan harga normal. Walau saya percaya itu adalah harga yang sebenarnya, karena kalau di drugstore ini tidak diskon, di drugstore yang satunya pasti diskon. Kalau di dua-duanya tidak diskon, maka di official online shop merk tersebut pasti ada diskon. Jadi yaa.. saya memang tidak gampang menyerah untuk hal rutin semacam ini, pasti saya buru harga yang tidak normal-normal ini.

Kenapa saya anggap ini adalah bagian dari cinta-Nya pada saya? Karena saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Dua minggu lalu saat saya iseng mencari sabun cuci muka dan harga yang dipampang kurang menarik (walau diskon tapi harus beli dua), saya belum begitu butuh. Sabun cuci muka saya masih agak sedikit lebih banyak. Sekarang, ketika sudah mendekati habis, barulah saya butuh, dan ternyata harganya sesuai ekspektasi saya.

Lalu saya pulang, tapi sebelumnya saya mampir dulu ke toko sebelah untuk membeli satu lagi peralatan untuk meeting Senin besok.

Di sinilah keajaiban-keajaiban ini mulai terjadi.
Awalnya saat saya mau memesan ojek online, saya teringat akan sesuatu yang mau saya beli, jadi saya masuk lagi ke mall. Ternyata yang mau saya beli itu tidak ada, jadi saya keluar lagi. Eh ternyata hujan.. setelah berdiri dan berpikir beberapa saat, akhirnya saya memutuskan untuk memesan taksi online.

Awalnya harganya 23rb dengan potongan 6ribu jadi 17ribu. Saya klik pesan, lalu saya batalkan karena lama sekali tidak ada driver yang ambil. Saya pun agak ragu memesan taksi online karena itu artinya harus mengantri lama di antara mobil-mobil yang mau masuk dan keluar mall di saat hujan seperti ini. Saya berburu dengan waktu, karena dalam tiga puluh menit toko yang saya tuju akan tutup. Berhitung cepat, akhirnya saya memutuskan untuk naik taksi online tapi dari luar mall, jalan kaki sedikit ke depan halte bis. Harga yang tertera turun jauh dari 17rb menjadi  11rb.. dan tidak lama kemudian saya dapat driver yang mau menjemput. Dan Alhamdulillahnya lagi, posisi dia masih di luar mall, jadi saya tidak perlu menunggu lama dia masuk keluar antrian mobil.

Sampai di toko tujuan -yang ternyata sudah tutup- saya mati gaya. Laporan ke Pak Boss bahwa toko sudah tidak terkejar, sambil berjanji dalam hati besok akan saya penuhi tugas saya.

Keajaiban pertama terlewati.. harga yang turun drastis padahal cuma jalan kaki beberapa meter ke luar area mall.. pasti bukan kebetulan.

Gerimis kecil masih meliputi Kota Bogor saat saya memutuskan untuk pulang naik ojek online. Macet yang agak tidak biasa ini membuat saya malas naik taksi online, walaupun gerimis. Nah.. biasanya, saya suka berdoa dulu sebelum memesan ojek, semoga motornya motor-motor N-max dan sejenisnya (gak hapal juga merk-merknya apa saja), soalnya enak dibonceng pakai motor-motor itu. Dan biasanya juga, selalu terkabul. Setiap kali saya minta Ya Allah semoga motornya ini dong.. bener aja selalu motornya itu. Walaupun pernah sekali, saat saya berdoa minta itu, ternyata dapatnya honda beat yang tertera di aplikasi. Tapi pas saya tanya platnya sama atau tidak, driver bilang platnya beda dan dia kasih penjelasan yang bisa saya terima. Eh pas datang.. motornya N-max dong.. ya hepi lah.. soalnya jarak dari kantor ke rumah saya itu waktu tempuhnya 30 menit, lumayan pegel kalau naik supra (tapi saya gak pernah cancel driver hanya karena merk motornya). Tapi seringnya saya lupa untuk berdoa sebelum memesan ojek, makanya jarang juga dapat ojek motor empuk.

Malam ini seperti biasa, saya lupa berdoa. Saya pesan saja ojek online, dan ternyata dapat merk motor empuk. Dalam hati saya girang sekali. Gak lama abangnya datang.. sebenarnya saya agak resah juga sih kalau-kalau hujan di jalan dan celana saya.. well kalau misal kotor sekarang, besok di cuci Minggu belum tentu kering. Sedangkan saya maunya pakai jeans ini saja, gak mau pakai jeans yang lain karena cuma ini jeans yang pas dengan ukuran saya sekarang, gak kedodoran dan nyaman untuk perjalanan jauh. Jeans lain dibeli waktu saya masih agak lebar..

Ternyata abangnya minta maaf karena gak bawa jas hujan tambahan, dia cuma pakai ponco. Saya sudah pasrah, ya gak apa saya juga memang suka terkena air hujan, yang penting tas saya tidak basah. Saya naik ke motor empuk dengan girang dan sedikit gelisah karena takut celananya basah.. tapi lalu.... hey.. abangnya pakai ponco! Saya langsung masukkan tas saya ke dalam ponconya abang ojek, dan ponco itu ikut menutupi kaki saya! Jeans saya aman sentosa sampai rumah walau baru setengah jalan hujan deras lagi dan saya basah kuyup sampai di rumah mulai dari bahu sampai badan, tapi jeans saya selamat..

Saya tidak minta motor empuk malam tadi, tapi Allah tahu saya lelah pikiran dan fisik, Allah tahu saya butuh perjalanan nyaman, cepat karna malam ini dingin sekali.
Saya tidak minta abang ojeknya pakai ponco, karena biasanya ojek pakainya jas hujan untuk dia sendiri dan penumpang dikasih jas hujan plastik. Abang ini gak kasih jas hujan plastik, tapi ponconya sangat-sangat membantu, saya sangat berterima kasih karena abang ini pakai ponco.. dan saya sudah lama sekali tidak lihat orang naik motor pakai ponco.. dan ternyata sangat amat menolong.

Allah menolong saya tanpa saya minta..
Allah tahu apa yang saya butuhkan, dan Dia kasih dengan cuma-cuma..
Kamu tahu kan rasanya bahagia karena dicintai orang lain? Nah ini.. saya merasa.. sedang dicintai oleh Allah, dan saya sangat.. sangat bahagia.
Allah tidak kasih abang ojek seperti biasa, yang datang dengan jas hujan lengkap dan seperti meyakinkan karena jas hujannya benar-benar menjaga nya dari hujan, sehingga penumpang diberi rasa aman juga karena penampilan driver nya firm gitu.. tapi ternyata yang saya butuhkan bukan abang ojek dengan jas hujan yang paripurna, hanya jas hujan separuh badan berupa ponco kelelawar dan saya juga ikut terlindungi karenanya.

Saya tahu tulisan ini jelek sekali. Karena ini saya tulis dalam keadaan mengantuk, lelah sekali, habis meeting dan besok lusa akan meeting lagi, dan pikiran saya penuh dengan dua presentasi yang harus saya tata rapi nan cantik dan saya tidak mau tampil biasa-biasa saja, saya mau kasih effort maksimal untuk tampilan nanti.. dan saya kedinginan, tapi saya sangat bahagia dan saya tidak mau melupakan hari ini. Hari di mana saya merasa pertolongan Allah begitu bertubi-tubi, bahkan tanpa diminta.

Baru inget.. ini kan Hari Jumat. Hari penuh berkah hari berlipatgandanya sedekah.. Tidak minta saja dikabulkan sebegitu rupa.. apalagi kalau meminta.. masa iya belum yakin juga kalau Allah akan memberikan semua yang kita pinta?

***
Bogor, 07 Februari 2020
Aku cuma mau menikah sama orang yang punya Allah di hatinya. Selama di situ ada Allah, dan tidak sedikitpun dia meragukan Allah, aku tidak peduli apa yang dia punya atau tidak punya.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …