Skip to main content

Four years cycle

Tulisan ini hanya akan membahas tentang gw, karna gw lagi pingin berkontemplasi dan pingin mengingatnya lagi suatu hari nanti. Terinspirasi dari tulisan Sabtu lalu yg bilang hari itu panas dan ada matahari, gw jadi bisa ngeuh kalau memang tiap Sabtu matahari mau muncul agak lebih terik dari biasanya.

***
Setelah ku pikir-pikir, ternyata perubahanku dari segi pemahaman praktik agama berubah setiap empat tahun. Dimulai dari 2014, yang kunyasar di Saigon, baru mulai solat lima waktu walau setelah kejadian itu, when things get back to normal, solat lima waktunya masih dengan berat hati dan seringnya ditunda sampai udah mepet banget ke waktu solaf selanjutnya.
Tapi sejak itu di 2015 ku akhirnya mendapatkan apa yang kutunggu-tunggu sekali: lulus kuliah. Walau masih deg-degan juga mau kemana habis itu. Pekerjaan yang kupingin, jarang ada di daftar jobstreet. Ku apply ke UN dan NGO internasional, seringnya gak ada jawaban. Tapi kerja di perusahaan ambil posisi yang berseliweran di internet, juga kutakut gak sanggup, secara akutu gampang bosan.

Tahun 2016 semua kekhawatiran terjawab. Rasanya seperti the world is in my hand, dan ku benar-benar menjadi wanita terbahagia di dunia. But there’s price to pay. Ku ditinggalin sama cowok yang selama lima tahun terakhir nemenin dan berjuang bareng, dengan tiba-tiba. Sejak itu walaupun bahagia bukan main karena menemukan tempat yang kurasa nyaman sekali, ada lubang yang menganga di dalam hati. Dan itu kututupi dengan main kesana kesini sama temen-temen SMA. Mereka jugalah yang kemudian membuatku melihat agama dari sisi berbeda.

2017 kumasih berjalan seperti biasa, sampai akhirnya turbulence kenceng banget terjadi di 2018.
Tempat yang kubilang nyaman tadi, akhirnya retak juga. Kunangis sampai jam empat pagi, dan disitulah untuk pertama kalinya,. Ku mulai mendengarkan ceramah agama melalui youtube. Video pertama adalah videonya Nouman Ali Khan berjudul Allah is Light upon Light.

Waktu bergulir, ku berjalan seperti biasa. Di 2019 ku kembali mengulang apa yg kudapat di 2015: sesuatu yang selalu kuinginkan.. semisal lulus kuliah. Tapi kali ini bukan lulus kuliah.. tapi susah juga dijelasin apa nya.. yang jelas memang itu yang aku mau., aku bayangkan untuk terjadi walau tidak pernah kupanjatkan sebagai doa.

Sampai hari ini aku masih sangat menikmati posisi dan situasi tempat ku sekarang. Walau masih ada deg-degan juga rasanya.. mau ke mana setelah ini.. apa setelah ini.. what is the next chapter gonna be..

Tapi ku gak mau menebak, let alone expecting. Karna kusudah bisa memahami, konteks seperti apa yang memungkinkan orang tuk lawan arus dan kapan harus ikuti aliran. Katanya kan only dead fish flowing with the river., tapi ternyata gak juga. There are smart fishes that smart enough to follow the river and take their turn when possible. Dan itu jauh lebih efektif ketimbang mati-matian melawan semesta.

Pada akhirnya, seorang control freak seperti saya, bisa juga diajari oleh waktu. Tentang caranya diam, dan belajar membiarkan semesta mengarur kita.

***
Bogor, 22 Februari 2020
Lima hari tidur tanpa AC, hari ke-6 udh mesti pake AC lagi. Dari kemarin mikir kok tumben kulit rasanya enakan gak sekering biasanya, ternyata sekali pakai AC langsung handbody-an lagi. 😑
Apa rasanya ya tinggal di tempat yang ga mesti pake AC? Eh tapi begini juga Alhamdulillah banget.. jadi imbang. Kadang dingin, kadang hangat, kadang gerah. Kalau dingin terus,. Level mageritasnya weleh-weleh.

By the way,
Ku masih sedih banget liat Bunga..
Semoga ini adalah jalan dia untuk kembali ke tuntunan agama yang benar. Ku sayang banget ama dia karena kita ulangtahunnya barengan.. tapi lihat dia dan pakaiannya itu kadang bikin nyesek..
Semoga setelah ini dia tahu, bahwa cinta sejati itu adalah cinta yang tujuannya surga. Dan untuk itu dia gak akan membiarkan pasangannya masuk neraka. Dia akan tahu bahwa dosanya ditanggung oleh suaminya juga, jadi dia mengurangi pintu pintu dosa dengan menutup auratnya serapat-rapatnya.

Semoga..
Selama masih ada cahaya dalam hati seseorang,
Orang itu pasti akan menemukan jalan ‘pulang’ nya.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …