Skip to main content

#9 Pusat Semesta Jenny [Fiksi]

Bagi Semesta, Aditya hanya setitik kecil manusia, satu dari milyaran jumlahnya. Tapi bagi Jenny, Aditya adalah pusat tata surya nya. Aditya yang baik, Aditya yang selalu suportif mendukung apapun keputusan Jenny, Aditya yang selalu bisa diandalkan.. Aditya yang...

Jenny mengambil ponsel dari dashboard mobil, dia melaju dengan kecepatan sedang menuju kota yang baru. Awalnya Temanggung, tapi arah yang diambil justru menuju Solo.

"If all love songs are about you.." gumam Jenny dalam hati "then I'll put everything down. Start from.." Jenny menatap lurus jalanan, tangan kanan memegang setir, tangan kiri memegang ponsel "now" gumamnya dalam hati sambil mengklik tombol confirm. 

Bulat sudah keputusannya kini, untuk meninggalkan semua yang pernah dia tahu. Memulai sesuatu yang baru, tanpa berpikir panjang. Dia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membuat keputusan, karena semua pertimbangan tidak dipikirkan secara matang sebelum dia jalani. Tapi Jenny urung mundur, langkahnya untuk meninggalkan kantor sudah tidak bisa lagi dia tarik kembali. Jenny ingin mengabari Aditya tentang keberadaannya, ingin curhat dan menceritakan semua pergumulan batinnya pada Aditya yang selalu setia mendengarkan apapun cerita Jenny. Tapi bahkan dia pun diam seribu bahasa, tidak ada satu pertanyaan pun yang datang dari nya tentang keputusannya pergi dari kantor.

Jenny merasa sangat terpuruk. Orang yang paling dia nanti, justru adalah orang yang paling tidak hadir dan tidak bertanya sama sekali. Mungkin dia salah selama ini, menyangka semua kebaikan Aditya adalah spesial, mungkin dia terlalu terbawa perasaan karena bisa jadi Aditya memang memperlakukan semua orang dengan begitu baik.

Satu-satunya yang Jenny inginkan saat ini adalah melupakan Aditya. Melupakan semua tempat yang pernah mereka pakai untuk habiskan waktu bersama, untuk mengejar berita, untuk mengumpulkan bahan, atau sekedar menunggu narasumber. Jenny ingin menghapus semua jejak dan bau Aditya karena dia tidak ingin pikiran tentang Aditya masih terus menghantui kelak jika dia memulai hubungan baru lagi dengan laki-laki lain.

"But what if I never love.. again" terngiang dalam pikirannya lirik lagu Adelle yang sangat menyesakkan. Bait tersebut persis menggambarkan perasaannya yang ingin dia ungkapkan pada Aditya. Jenny meremas rambutnya dengan tangan kanan, bersandar pasrah saat mobil mulai memasuki gerbang Kota Solo. Sore baru mulai menjelang, dan Jenny tidak tahu apa yang akan dia lakukan pertama kali di sini. Dia ingin sendiri, tapi dia mulai merasa kesepian.

Jenny mengarahkan mobil menuju alun-alun dengan bantuan google map. Mungkin setelah ini dia akan mencari hotel atau penginapan, yang pemiliknya ramah dan bisa diajak berbicara tentang apa saja. Jenny butuh teman bicara, membicarakan tentang keputusannya, tentang rencananya, Jenny ingin kembali menjadikan dirinya sebagai pusat tata suryanya sendiri menggantikan posisi Aditya.

Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu hilang dari kepalaku?
Jika semua lagu mengingatkanku padamu,
Aku bisa apa?
Kenapa rasanya dunia ini sempit sekali?
Apa yang sudah kamu lakukan padaku?

Jenny terus mendengarkan suara-suara di kepalanya yang tidak berhenti mengingatkan pada Aditya.
Dia ingin kembali berdoa lagi, dia ingin larut dalam hening sejak dalam pikiran. Dia tidak ingin diganggu dengan apapun yang mengingatkannya pada Aditya. Tapi apapun keinginannya, tetap saja semua itu melibatkan Aditya di dalamnya. Dia bosan.

***

Bogor, 16 Januari 2020
Nunggu hujan di Botani Square, dan rasanya aneh sekali kembali ke perkotaan dan hujan dan normal life..

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …